
Setelah solat subuh Sarah berencana untuk menengok Ayas di rumah sakit sebelum ia berangkat ke kantor.
Sarah sudah membawa hijab untuk Ayas sesuai yang di perintahkan oleh Reygen.
tok..tok..
CEKLEK
Sarah membuka pintu kamar inap VVIP rumah sakit di mana Ayas di rawat.
"Assalamualaikum,"
Sarah mengucapkan salam sambil kepalanua masuk melalui pintu yang sedikit ia buka.
"Waalaikumussalam,"
Reygen dan Ayas menjawab dengan kompak.
Melihat Ayas sudah siuman, Sarah pun segera mendekati brankar di mana Ayas sedang terbaring lemah di atasnya.
"Adek!"
Sarah segera memeluk tubuh Ayas perlahan, air matanya tak kuasa untuk tetap pada tempatnya hingga perlahan keluar dari sudut netra indahnya.
"Kak,"
Ayas membalas pelukan Sarah dengan sebelah tangan kiri yang sedang terikat selang infus karena tangan kanan Ayas masih belum bisa di gerakkan di sebabkan ada sedikit tulang rusuknya yang cedera.
"Kamu kenapa bisa seperti ini?"
Sarah melepaskan pelukannya dan duduk di tepian brankar sambil mengusap tangan Ayas yang sedang tertancap jarum infus.
"Ceritanya panjang, Kak. Oh ya, Kakak gak kerja?"
masih dengan nada yang sedikit lemah.
"Kakak kerja, tapi sebelum berangkat kakak pengen nengokin kamu dulu."
mengusap tangan Ayas.
"Makasih, ya, Kak,"
tersenyum.
"Ini hijab, mau di pakai sekarang?"
Sarah mengeluarkan hijab praktis berwarna hitam dari dalam tasnya.
"Hm,"
Ayas mengangguk pelan.
Sarah mengambil jaket Reygen yang masih menutupi sebagian kepalanya dan segera memasangkan hijab pada kepala Ayas dengan perlahan-lahan.
Ketika Ayas dan Sarah sedang berbincang, suara maskulin terdengar dari arah sofa ruang tunggu di dalam ruangan kamar kelas VVIP tersebut. Reygen berjalan mendekati ke dua gadis tersebut.
"Ehem,"
Reygen berdiri di dekat Sarah.
Suara deheman tersebut membuat kedua gadis itu menoleh ke arah suara.
"Maaf, Kak Sarah bisakah kita mengobrol sebentar di sana?"
Reygen menunjuk sofa di salah satu sudut ruangan tersebut.
"Ada apa?"
dengan nada dan ekspresi kebingungan.
Ayas hanya menatap aneh pada Reygen yang meminta Sarah untuk berbicara dengannya di sofa, padahal Reygen bisa bicara saja langsung di sini.
__ADS_1
"Sebentar, ya,"
Sarah mengusap tangan Ayas dan berjalan menuju sofa.
Ayas yang melihat Reygen dan Sarah sedang mengobrol tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka obrolkan saat ini.
Sudah hampir lima belas menit Reygen dan Sarah mengobrol, Ayas sangat penasaran dengan apa yang sedang mereka obrolkan.
Sepertinya pembicaraan ke duanya sangat serius hal itu terlihat dari raut wajah Reygen dan Sarah. Ingin hati berjalan dan ikut nimbrung dengan mereka namun kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.
"Kak ...."
Ayas memanggil Sarah.
Mendengar suara panggilan dari Ayas, Sarah segera menjeda obrolannya dengan Reygen dan langsung berjalan menuju ke Ayas.
"Ada yang bisa kakak bantu?"
Sarah bertanya pada Ayas.
"Kakak lagi ngobrolin apaan sih? kok, serius banget keliatannya?"
Ayas penasaran.
"Kamu pernah bilang apa sama dia?"
Sarah menggerakkan wajahnya sekilas pada Reygen.
"Bilang apa? gak bilang apa-apa,"
merasa heran karena selama ini Ayas merasa tidak ada yang aneh dari perkataannya terhadap Reygen.
"Yas, kamu sudah dewasa. Jadi pertanggung jawabkan ucapanmu pada pria itu,"
"Maksud Kak Sarah, apaan sih?"
Ayas semakin bingung.
"Jangan becanda, Kak,"
Ayas merasa tidak percaya dengan perkataan Sarah.
"Makanya kalau bicara, tuh, di saring dulu, tapi ... apa kamu emang suka sama dia?"
Sarah melirikkan bola matanya pada Reygen yang sedang duduk di sofa.
"Siapa sih yang gak suka sama wajahnya, tapi, kan, Ayas cuma bercanda, Kak,"
dengan nada manja dan wajah memelas.
"Buatmu mungkin becandaan, tapi buat dia itu serius!" mengomel.
"Terus, Ayas harus gimana?" dengan manja.
Sarah hanya mengangkat ke dua bahunya.
"Kakak berangkat kerja dulu, cepet sehat, ya, calon pengantin, cup."
Sarah mengecup kening Ayas yang hampir tertutup oleh kasa sebagai penutup luka bekas jahitan di pelipisnya.
'calon pengantin? apa sih maksudnya?'
pertanyaan yang menari-nari di dalam otak Ayas saat ini.
Setelah Sarah berpamitan pada Ayas, ia pun berpamitan pada Reygen yang sudah berdiri di dekat pintu.
"Tolong jaga adikku,"
Sarah pun menghilang di balik pintu kamar rawat inap kelas VVIP tersebut.
Mendengar perkataan dari Sarah, membuat Reygen tersenyum lebar, itu tandanya Sarah merestui Reygen yang berniat akan segera menikahi Ayas secepatnya meskipun Ayas masih belum keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Sarah sampai pintu kamar ruangan, Reygen segera menghampiri Ayas dan duduk di kursi yang ada di samping brankar.
Sesaat kemudian seorang mengetuk pintu dan langsung di persilahkan masuk oleh Reygen.
Seorang petugas rumah sakit datang membawa makanan untuk Ayas, dan setelah mengantarkan makanan petugas tersebut pun langsung meninggalkan ruangan.
"Kamu makan dulu, ya,"
Reygen mengambil nampan yang berisi makanan dari rumah sakit untuk Ayas.
Tadinya Ayas menolak untuk di suapi. Namun, karena ia kesulitan dengan kondisi ke dua tangannya yang masih sakit untuk di gerakkan akhirnya ia menerima suapan dari sendok yang berasal dari tangan Reygen.
Reygen tersenyum tatkala suapannya berhasil memasuki rongga mulut Ayas.
"Kamu harus cepat sembuh,"
kembali menyuapi Ayas.
"Lagian, siapa juga yang mau sakit lama-lama," Ayas cemberut, "udah, saya kenyang,"
sambungnya sambil menutup mulut rapat-rapat.
"Ayolah, sedikit lagi,"
Reygen tetap memberikan suapan pada Ayas.
Ayas menggelengkan kepalanya.
"Ssshhhh ... ah ...."
Ayas merasakan sakit di bagian kepalanya karena bekas jahitan yang masih basah.
"Kamu kenapa "
Reygen panik dan langsung meletakkan nampan berisi makanan ke samping brankar, Reygen mencoba mengusap kepala Ayas namun urung di lakukan karena ia paham sekali kalau Ayas tidak akan terima bagian manapun dari tubuhnya di sentuh oleh pria kecuali keadaan darurat.
"Gak apa-apa, cuma pusing banget kepala, sama masih sakit bekas jahitannya."
Ayas mencoba memegangi kepalanya yang sakit dengan tangan kiri nya.
"Perlu aku panggilkan dokter?"
ucap Reygen.
"Gak usah, bentar lagi juga ga apa-apa,"
dengan nada lirih.
Beberapa saat kemudian seorang dari luar mengetuk pintu ruangan VVIP yang di tempati oleh Ayas.
Tok..tok..
Dokter dan dua orang perawat segera memasuki ruangan Ayas setelah ia mengetuk pintu.
"Permisi, Pak, kami akan membawa pasien ke ruangan radiologi untuk pemeriksaan tulang rusuk kanan yang cedera."
seorang suster berbicara pada Reygen.
"Boleh saya ikut ke ruangan tersebut, Sus?"
Reygen meminta untuk menemani Ayas.
"Boleh, memang di sarankan ada anggota keluarga yang mendampingi untuk mengetahui hasil radiografinya."
Suster menjelaskan.
Reygen sebenarnya ingin membantu suster yang kepayahan saat membantu Ayas untuk pindah ke kursi roda pasien. Namun, ia tidak berani menyentuh bagian tubuh manapun dari gadis yang bertubuh sintal tersebut.
"Aww!"
Ayas mengerang kesakitan saat bahu kanannya nya tak sengaja tersenggol oleh suster, dan suster tersebut pun langsung meminta maaf. Ayas tidak marah karena hal itu memang mutlak ketidak sengajaan dari suster, tetapi Reygen sempat marah kepada suster, karena menurutnya suster tersebut kurang berhati-hati
__ADS_1