Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 34 : Hanya di dalam Kamar


__ADS_3

Jika cinta hanya sebuah ilusi, maka Reygen membiarkan jiwanya hanyut dalam sebuah imaginasi, semua terasa indah ketika ia menatap wajah sang kekasih.


Reygen pulang dengan ujung alisnya yang sedikit robek karena pukulan dari Cakra yang memakai cincin dan mengenai pelipis ujung alis Reygen.


Reygen masuk ke dalam kamar tidurnya, di sana Ayas sedang merapikan tempat tidur dengan mengganti seprai pada kasur yang berukuran king size tersebut.


Warna hijau tosca menjadi warna yang dominan pada seprai yang ia pasang.


Ayas menyadari Reygen sudah pulang, dan langsung menyambutnya ke depan pintu kamar, betapa terkejutnya Ayas ketika ia melihat ujung alis Reygen meneteskan darah yang sudah kering dan menempel di permukaan wajah yang terpahat sempurna pada suaminya itu dan tulang pipinya pun sedikit membiru karena luka memar.


"Itu ... wajahnya kenapa?"


Ayas berdiri dan menunjuk wajah Reygen.


"Ga apa-apa, cuma sedikit kebentur tadi,"


tersenyum.


Mereka berjalan beriringan dengan Reygen di depan dan Ayas mengikutinya sampai mereka duduk di tepian ranjang tempat tidur.


"Sebentar, saya ambilkan air hangat."


Ayas berjalan dengan terburu-buru untuk mengambil semangkuk air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan darah yang sudah mengering pada wajah tampan Reygen.


"Kebentur apa, sih, sampai seperti ini? apa jatuh, atau ...?"


Ayas mulai mengelap darah kering di wajah Reygen, ia menghentikan ucapannya karena takut Reygen marah mendengar kelanjutan dari perkataan Ayas.


"Aku berkelahi."


Reygen memegang tangan Ayas yang sedang membersihkan wajahnya.


Reygen menatap Ayas dengan mesra yang tentu saja membuat gadis cantik itu merasa malu bukan kepalang, wajahnya memerah seperti tomat yang sudah siap untuk di panen.


Ayas hanya menundukkan kepalanya karena saat ini jantungnya sedang berdetak tidak normal menghadapi kelakuan manis suaminya.


"Hei, tatap aku!"


Reygen mengangkat dagu Ayas dengan jari jemarinya.


Ayas hanya memejamkan matanya, ia belum begitu kuat mental kalau harus bertatapan wajah dengan Reygen dari jarak yang sangat dekat seperti sekarang.


"Kalau kau masih tidak mau menatapku, aku akan menciummu!" tatapan yang sangat lembut, tetapi mengintimidasi.


Mendengar perkataan Reygen membuat Ayas membulatkan ke dua bola matanya seketika.


"Iya, iya, saya lihat wajah Bapak," menatap Reygen dengan penuh ketakutan dan ke kaguman.


Reygen mengambil handuk kecil dan mangkuk yang sedang Ayas pegang, ia meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur.


"Yas, aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun. Biarkan aku menjagamu," dengan nada lirih. Ayas merasa tersipu dan tersentuh oleh perkataan Reygen, ia tersenyum dan memalingkan wajahnya.


"Pak ... hm, boleh saya bertanya?"

__ADS_1


"Kalau mau bertanya, tataplah orang yang hendak kau tanyai," Reygen kembali menarik wajah Ayas untuk menatapnya, "aku tahu kalau wajahku sangat tampan tapi kau tidak perlu sungkan karena wajah tampan ini hanya milikmu seorang," sambung Reygen sambil tersenyum manis.


"Ke pedean banget, sih! bikin enek tahu gak?" Ayas terkekeh.


"Tapi itu fakta, kan? hm " Reygen tersenyum menggoda.


"Ah, sudah. Saya mau tanya, kenapa Bapak sampai terluka seperti ini? emangnya abis berantem sama siapa, sih?"


"Aku abis berantem sama Cakra, dia yang sudah membuatmu masuk rumah sakit," menatap Ayas dengan serius.


"Apa? siapa Cakra?" tanya Ayas penasaran.


"Dia yang sudah menggusur panti tanpa sepengetahuanku. Cakra adalah manager di perusahaanku, apa kamu masih ingat waktu kalian pernah bertemu di ruanganku?"


"Hmm ...." Ayas tampak berpikir sejenak, "Ah, ya, dia pernah memperkenalkan diri sewaktu kita ketemu di dalam lift,"


"Ya, dan dia yang menyuruh sopir taxi gadungan itu untuk mencelakaimu," Mencubit hidung bangir Ayas.


"Uhh ... sakit tau!" Ayas menepuk tangan Reygen yang sedang mencubit hidungnya sedangkan Reygen tertawa lepas.


Untuk sesaat tatapan mereka menghangat, hingga Ayas menunduk karena malu di tatap oleh Reygen tanpa berkedip.


"Yas, gimana cedera kamu?" Reygen membuka suara.


"Sudah mendingan." Ayas tersenyum.


"Syukurlah. Aku mandi dulu, kamu istirahat aja duluan." mengusap ujung kepala Ayas yang tertutup hijab.


Reygen segera berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya sedangkan Ayas sedang menunggu Reygen selesai dengan ritualnya.


Perut sixpack nya terlihat sangat jelas dan kulit putihnya sangat segar karena baru saja terguyur air dan sabun mandi.


Ayas mencoba mengalihkan pandangannya, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membuang hajat kecilnya.


"Hei, mau kemana?" Reygen menarik tangan Ayas dari belakang.


"Hmpp ... m-mau ke kamar mandi," tersenyum kikuk.


Reygen melepas tangan Ayas dengan senyuman. Ia kembali melihat isi lemari pakaiannya dan mengambil satu pasang baju tidur dari dalamnya. Ia segera mengenakan baju tidurnya dan duduk di sofa yang terletak di salah satu sudut kamar tidurnya.


Beberapa menit kemudian Ayas telah keluar dari kamar mandi dan Reygen memanggilnya.


"Yas ... kemari sebentar," Reygen melambaikan tangannya pada Ayas.


Ayas segera menghampiri Reygen dan ia hanya mematung di hadapan Reygen yang sedang duduk di sofa panjang berwarna abu-abu yang letaknya dekat dengan jendela kamar.


"Ada apa?" masih berdiri sambil memainkan kedua tangannya sendiri.


"Duduklah," Reygen menepuk tempat duduk di sebelahnya.


Ayas pun duduk di sebelah Reygen.


"Ada apa Pak?" Ayas menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Bisa gak, kalau lagi bicara sama aku jangan menunduk terus, karena aku ingin melihat kecantikanmu dengan jelas," menatap lekat-lekat pada Ayas membuat gadis cantik itu tersipu malu.


Ayas memberanikan diri untuk menatap wajah tampan Reygen.


"Bukankah aku sudah halal untukmu?" tanya Reygen.


"Hm," Ayas hanya mengangguk.


"Bolehkah Aku minta padamu untuk menanggalkan hijab ketika kita berada di dalam kamar ini berdua?" dengan wajah yang memelas.


"T-tapi ... tapi saya masih malu."


Reygen tak menghiraukan perkataan Ayas, perlahan ia segera mengulurkan tangannya untuk menyentuh hijab Ayas.


"Bolehkan?" bisik Reygen dan di angguki oleh Ayas.


Perlahan Reygen menyingkap hijab Ayas dari depan sampai terlepas sempurna dari kepala sang pemilik hijab.


Rambut panjang nan hitam legam terjuntai lurus menutupi punggungnya. Ayas tertunduk karena malu baru pertama ini kepalanya polos tanpa hijab di depan seorang pria dewasa.


Reygen tersenyum dan mengangkat dagu Ayas dengan lembut.


"Bidadariku," gumam Reygen pelan.


'Ya Tuhan ... tolong hamba yang tak kuasa menahan rasa, aku gemetaran ya Allah!' ucap lirih Ayas dalam hati sambil tangannya terus memilin-milin ujung baju tidurnya karena gugup.


Reygen menatap kagum pada kecantikan Ayas yang tidak memakai hijab, aroma shampo yang masih menempel pada rambut Ayas membuat Reygen terlena dan memejamkan ke dua bola matanya.


Untuk beberapa saat ia menikmati harumnya aroma yang menguar dari rambut Ayas yang masih setengah basah karena sehabis keramas ia tidak menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.


"Yas ... m ... bolehkah aku ...." Reygen menghentikan sejenak ucapannya.




***Hai-hai readers setiaku***...



***Komen yuk biar Saya makin semangat update nya***...



***Makasih yang udah kasih jempol dan bara apinya***...๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘



***Yuk kita ngopi dan setangkai bunga sangat indah buat author..๐ŸŒนโ˜•***



***semoga kalian selalu di beri kesehatan dan murah rizki***...

__ADS_1



๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2