
Sementara Ayas melepaskan tangan Reygen yang masih melingkar pada pinggang biolanya, ia mengerucutkan bibir manisnya dan melipat ke dua tangan di depan dada.
"Hei, cantik, kenapa wajahnya di tekuk seperti itu, hah?" Reygen menyentuh dagu Ayas namun segera di tepis oleh sang pemilik.
Ayas mendelik pada Reygen kemudian ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana di ikuti oleh Reygen.
"Siapa wanita tadi?" Ayas menajamkan tatapannya pada Reygen yang duduk di sampingnya.
"Oh ... jadi kamu cemburu? hm." Reyegn terkekeh dan menutup mulutnya dengan tangan.
"Apa menurutmu ini hal yang lucu?" Ayas memalingkan wajahnya.
"Maaf, Sayang ... dia Naura, wanita yang pernah ada di masa laluku. Aku dan dia sempat melakukan sesuatu yang terlarang saat kita berdua berada dalam pengaruh minuman yang memabukkan." Reygen menatap Ayas yang sedang membuang muka darinya.
"Lalu, apa sekarang kamu masih menginginkannya?" Ayas mengalihkan pandangannya untuk menatap Reygen.
"Istriku ... dengar baik-baik, ya, setelah aku menikahimu, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk meninggalkan semua kebiasaan buruk di masa laluku. Tidak akan ada lagi wanita yang bisa menggetarkan ranjangku selain dirimu, istriku yang manis." Reygen menatap Ayas, ia meraih kedua tangan Ayas dan meremasnya dengan lembut.
"Ternyata bad boy itu memang pandai merayu, ya." Ayas tersenyum dan Reygen langsung menghentikan senyuman Ayas dengan membungkam mulut Ayas dengan mulutnya.
Reygen memegangi ke dua tangan Ayas dengan tangannya
Ia tidak menghentikan bibirnya untuk terus menjelajahi bibir mungil nan seksi milik Ayas sampai mereka kehabisan napas.
"Nakal!" Ayas memukul Reygen manja.
"Pacaran setelah menikah memang mengasyikkan, ya." Reygen kembali melanjutkan ke nakalannya pada Ayas dan Ayas suka, membuat mereka semakin larut dalam kenikmatan yang tercipta dari ke dua bibir seksi yang sedang berpagutan.
Reygen semakin memperdalam sesapannya dan menekan punggung Ayas dengan kedua tangannya.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka selesai dengan permainannya yang menyebabkan bibir Ayas setengah bengkak karena kenakalan bibir seksi Reygen.
"Ternyata kau pandai juga, ya," Reygen mencolek hidung Ayas dengan jari telunjuknya.
"A-aku ... baru pertama kali melakukannya." wajah Ayas tertunduk dan merona seperti tomat matang siap panen.
"Baru pertama saja sudah pandai, apalagi kalau sudah sering? bisa-bisa aku akan sulit melepaskannya," Reygen menggoda Ayas.
"Sudah, jangan di bahas lagi. Aku malu." Ayas membuang wajahnya dari Reygen.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan di rumah, dan--" Reygen tidak melanjutkan perkataannya.
"Dan, apa?" Ayas menyambar perkataan Reygen.
"Kita, kan, sudah halal?" Wajah Reygen memelas.
"Ada syaratnya," Ayas menantang.
__ADS_1
"Baik, apa syaratnya?" Reygen menerima tantangan dari Ayas.
"Nanti saja di rumah, sekarang kita makan dulu. Aku udah bawain makanan." Ayas bangkit dan meninggalkan Reygen di sofa, ia segera mengambil rantang yang ia bawa dari rumah tadi dan di letakkan di atas meja kerja Reygen.
Ayas dan Reygen pun menyantap makanan yang di bawa oleh Ayas itu bersama-sama. Mereka terlihat sangat bahagia dan sesekali
saling menatap dengan tatapan penuh cinta.
Setelah selesai dengan acara makan siang bersama, Ayas pun segera membereskan rantang dan hendak berpamitan kepada Reygen.
"Hubby, aku pulang dulu, ya." Ayas berkata dengan lembut pada Reygen.
"Hah, Hubby?" Reygen mengerutkan keningnya.
"Iya, Hubby ... karena sekarang kamu adalah kekasih dunia dan akhiratku," tersenyum manja pada Reygen.
"Kalau begini ... rasanya aku ingin segera pulang, hm." Reygen tersenyum dan mendekati Ayas.
"E, e ,e, mau apa cepat pulang coba?" Ayas menatap tajam pada Reygen.
"Ya, mau kamu, lah," Reygen kembali memeluk Ayas.
"Hubby ... kalau aku terus di sini, sepertinya kamu gak akan kerja-kerja?" Ayas melepaskan pelukan Reygen.
"Baiklah, aku tunggu syarat darimu, manis." Reygen mencolek hidung bangir Ayas dan kembali ke meja kerjanya.
"Aku pulang dulu." Ayas mendekati Reygen dan mengecup punggung tangan suaminya, "Assalamualaikum, awas jangan macam-macam!" sebelum pergi Ayas melotot pada Reygen membuat pria tampan itu terkekeh menahan tawa.
Reygen kembali berkutat dengan dokumen-dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Sudah tidak sabar untuk pulang dan menemui istri tercintanya, Reygen segera membuka lembar demi lembar dokumen yang sedang ada di hadapannya.
Bibir seksi nya tidak berhenti tersungging yang membuat mood nya meningkat drastis sehingga ia sangat bersemangat.
***
Senja mulai menyapa, matahari sore telah menyemburkan seberkas cahaya jingga yang mulai tenggelam di ufuk barat.
Reygen segera bersiap untuk pulang dan meninggalkan ruangan kerjanya. Ia bergegas menuju tempat parkir yang tersedia di belakang kantornya.
Mobil sedan mewah berwarna hitam tersebut mulai membelah jalanan dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Sudah tidak sabar bertemu dengan sang permaisuri di dalam kerajaannya, Reygen tidak ingin membuang waktu di perjalanan.
Sebelum tiba di rumah, Reygen sempat membeli sesuatu dari sebuah Mall yang terlewati oleh perjalanannya menuju rumah.
"Assalamualaikum," Reygen membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
Baru kali ini Reygen mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumussalam... " jawab Ayas yang segera berlari setelah mendengar suara salam dari suami tercintanya.
Ayas mencium punggung tangan Reygen dan dibalas kecupan yang mendarat di keningnya oleh sang pria berwajah super tampan tersebut.
"Jangan lari-lari, nanti kalau jatuh gimana?" Reygen mencubit hidung Ayas.
"Kan, ada Hubby-ku yang akan manangkap!" mengangkat ke dua alisnya dengan cepat dua kali.
"Dasar, nakal!" Reygen menyatukan keningnya dengan kening Ayas.
Ayas segera meraih tas kerja yang di jinjing oleh Reygen. Mereka berjalan bersama dengan satu tangan Reygen melingkar di pinggang Ayas.
Kemesraan mereka berdua seolah tidak ada habisnya, memang 'pacaran setelah menikah itu sangat mengasyikkan' kata Reygen.
"Sayang, aku tadi mampir ke mall untuk membeli ini." Reygen memberikan sebuah paper bag kepada Ayas.
"Apa ini?" Ayas menerima paper bag dari Reygen.
"Buka saja."
Ayas merogoh paper bag berisi sesuatu yang terbungkus oleh plastik transparan.
Ia membuka bungkusan plastik yang berisi lingerie berwarna hitam. Ayas menjembreng lingerie tersebut.
"Baju apa ini?" Ayas menjembreng lingerie yang ia pegang.
"Hm ... nanti aku ingin melihatmu memakainya." Reygen mencolek hidung bangir Ayas.
"Ya, tapi nanti setelah kau bisa memenuhi syarat dariku." Ayas meletakkan linggerie pada tempatnya semula.
"Lalu, apa syaratmu?" Reygen mendekatkan wajahnya ke wajah Ayas.
"Sholat pengantin dan doakan aku." Ayas beranjak dari duduknya berjalan ke kamar mandi.
Reygen menatap punggung Ayas yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Sholat pengantin? bahkan aku baru kali ini mendengarnya. Hm ... Yasmine Humaira binti Kurniawan, kau benar-benar berhasil membuatku penasaran!" Reygen tersenyum tipis.
***
Malam mulai menyapa dengan sinar rembulan yang tipis menerangi sebagian bumi.
"Sayang ... apa setelah aku berhasil memenuhi syarat darimu, kau akan merelakan dirimu untukku?" Reygen duduk bersandar pada head board tempat tidur.
"Hm, asal kau berjanji untuk setia dan tidak kembali ke duniamu yang dulu." Ayas tersenyum dan menatap Reygen.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan membuktikannya."
Reygen tersenyum dan memeluk tubuh Ayas, ia mengecup kening istrinya penuh dengan rasa cinta, mereka tidur dalam pelukan hangat keduanya untuk menjemput mimpi indah.