Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 80 : Ronald


__ADS_3

Disela pembicaraan Reygen dan Ronald, Ayas datang menghampiri untuk mengajak Reygen makan siang, sekalian ia juga mengajak Ronald bergabung di meja makan bersama.


"Eh, ada, Kak Ronald! sekalian kita makan siang bareng, yuk, Kak!".ajak Ayas kepada Ronald.


"Nald, makan dulu, nanti kita lanjut lagi ngobrolnya." Reygen bangkit dan menggandeng tangan Ayas berjalan menuju ruang makan.


Ronald mengikuti Reygen dengan hati yang sedikit gelisah, bertambahnya usia dan kedewasaan mereka tentu akan semakin banyak cobaan atau ujian dalam hidupnya.


Hidup ini tidak hanya untuk hura-hura, karena ada saatnya roda kehidupan memaksa manusia untuk berpikir keras dalam mengarungi jalan hidupnya.


Seperti kehidupan Reygen, Ayas, Ronald, dan yang lainnya pasang surut kehidupan membuat mereka dipaksa untuk belajar menghadapi semua persoalan hidup yang kadang tidak di inginkan.


"Kak Ronald, ayo makannya biar banyak supaya kuat hadapi kenyataan!" gurau Ayas.


Ronald tersenyum begitu juga dengan Reygen, ternyata Ayas bisa juga bercanda padahal selama ini Ronald menganggap Ayas adalah sosok wanita yang serius dan kaku seperti Reygen tidak bisa di ajak bercanda, tapi ternyata Ayas supel juga orangnya.


"Kamu tau aja, Yas, kalau aku lagi gak kuat hadapi kenyataan!" timpal Ronald kepada Ayas.


"Boong, Ayas cuma becanda, Kak, jangan diambil hati, ya!" tandas Ayas.


Reygen hanya menjadi pendengar setia dan menyimak obrolan Ayas dan Ronald, Reygen tidak pernah banyak bicara kepada orang lain selain kepada Ayas yang terkadang dianggap cerewet oleh istrinya tersebut.


Bukan pembicaraan basa-basi, tetapi saat Reygen berbicara kepada Ayas itu adalah bentuk perhatian yang memang kadang terkesan banyak mengatur, toh untuk kebaikan Ayas juga, karena Reygen ingin yang terbaik untuk istrinya tersebut.


"Iya, santai aja, Yas! jangan kek suami lo, tuh! yang selalu pasang muka datar dan dingin kek balok es!" ucap Ronald sembari menoleh ke arah Reygen.


Mendengar ucapan Ronald, Reygen langsung menatap tajam ke arah Ronald seperti ingin menerkamnya saja membuat Ronald kembali memasang wajah pasrah dan hanya bisa berdecak kesal kepada sahabatnya itu.


Acara makan siang pun selesai, Ayas membantu bi Ipah membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor di dapur sedangkan Ronald dan Reygen kembali berbincang di ruang tengah.


"Rey, gimana nih, gue?" tanya Ronald.


Ronald berharap ada solusi mengenai perjodohannya dengan wanita yang tidak ia cintai.

__ADS_1


"Jalani aja dulu!" jawab Reygen dengan nada datar.


"Gimana gue bisa jalanin kalau gue gak suka sama ceweknya!" ucap Ronald dengan nada sedikit kesal.


"Ya, kalo lo mau nolak perjodohan dari orang tua lo, lo harus punya alasan yang jelas dan kuat buat yakinin orang tua lo!" ucap Reygen sedikit memberi nasehat.


"Ya, alasan gue karena sekarang gue lagi suka sama Sarah!" Ronald menundukkan kepalanya.


"Apa? lo serius?" tanya Reygen sambil menajamkan tatapannya kepada Ronald.


"Serius, lah, makanya gue gak mau di jodohin," jawab Ronald.


Mendengar ucapan sahabatnya itu, Reygen sejenak terdiam. Memang betapa sulitnya pilihan yang ada di hadapan mereka, ia mengingat saat pernikahannya dengan Ayas yang tidak langsung mendapat restu dari Evelyn, betapa bersusah payahnya mereka berusaha meyakinkan Evelyn untuk merestui pernikahan mereka dan betapa banyaknya ujian dalam rumah tangga mereka.


Reygen berharap semoga Ronald pun bisa melalui ujian dalam kisah asmaranya bersama Sarah, semoga saja mereka sekuat dirinya dan Ayas dalam mempertahankan cinta dan kasih sayang.


Melihat Ronald yang sedang sedikit frustasi, membuat Reygen juga tidak tega dan berusaha mencari solusi untuk sahabatnya tersebut.


Mendengar pertanyaan Reygen, Ronald hanya menggelengkan kepala dengan wajah sedikit muram.


"Lo coba aja, kenalin dulu Sarah sama bonyok lu, kali aja mereka berubah pikiran setelah lihat Sarah," saran Reygen.


Ronald terlihat sedang mempertimbangkan saran dari sahabatnya tersebut, dalam benaknya pun terpikir hal yang sama dengan Reygen, ia akan memperkenalkan Sarah kepada orang tuanya.


Tetapi masalahnya saat ini hubungan ia dengan Sarah pun belum dinyatakan resmi karena Ronald belum benar-benar menyatakan perasaannya dan mengikrarkan hubungan mereka ke arah yang lebih jelas.


"Tapi, gue belum resmi pacaran, sih, sama Sarah, cuma gue yakin Sarah juga punya perasaan yang sama terhadap gue!" ucap Ronald yakin.


"Gila lu, kirain gue, lo udah bener-bener jalin hubungan sama Sarah!" Reygen melempar bantal sofa ke arah Ronald.


Sebenarnya ini yang membuat Ronald tambah bingung, bagaimana caranya menyatakan perasaan kepada Sarah, karena selama ini memang Ronald tidak pernah merasa jatuh cinta seperti sekarang.


Sepertinya karma memang ada, dulu Ronald selalu mengejek Reygen yang sedang di mabuk cinta dan sekarang malah ia sendiri yang merasakannya.

__ADS_1


"Lo, coba, deh, minta bantuan istri gue, kali aja dia bisa bantuin lo buat yakinin perasaan lo, sama Sarah!" ucap Reygen.


"Bener juga, ya!" timpal Ronald.


Tak berapa lama Ayas pun telah selesai dengan pekerjaannya di dapur dan ikut bercengkrama dengan kedua pria blasteran di ruang tengah.


Ayas duduk di samping Reygen dan ia segera disambut oleh suami dengan tangan yang merentang. Ayas memukul tangan Reygen yang mengisyaratkan pelukan karena karena kedua tangan Reygen merentang lebar menyambut Ayas yang hendak duduk.


"Lagi ngobrolin apa, sih? serius banget keknya?" tanya Ayas penasaran.


Sejenak Ronald hanya menoleh kepada Reygen berharap sahabatnya itu yang menjelaskan perihal masalah yang sedang ia hadapai, tetapi ternyata Reygen malah sibuk sendiri memainkan jari-jemari Ayas dan sesekali menciumi jari lentik milik istrinya tersebut. Dasar Reygen!


"Ada apa, sih, Kak? kok, malah diem?" tanya Ayas kembali.


Ayas merasa aneh karena Ronald malah terdiam saat Ayas bertanya kepadanya, sedangkan Reygen? halah sudahlah dia sedang fokus dengan mainan hidupnya (jari-jari Ayas yang sedang di mainkan oleh Reygen).


Akhirnya Ronald pun angkat bicara,


"Yas, bantuin gue!" Ronald memberanikan diri bicara kepada Ayas.


"Bantuin apaan, Kak?" Ayas bertanya dan mengernyitkan keningnya menatap Ronald.


Ia merasa heran karena Ronald meminta bantuan kepadanya. Apa sih, yang sebenarnya terjadi sampai wajah Ronald terlihat tegang dan kusut seperti itu? tanya dalam benak Ayas.


"Lo tanya sama Sarah, mengenai perasaannya sama gue!" tandas Ronald dengan cepat.


"Apa?" merasa sedikit heran, Ayas mencoba bertanya mengenai ucapan Ronald barusan.


"Gue suka sama Sarah, tapi gue gak bisa ungkapin perasaan gue. Yas, lo bisa bantu 'kan?" tanya Ronald penuh harap.


Mendengar ucapan Ronald, Ayas hanya tersenyum karena merasa lucu dengan sahabat suaminya tersebut, bagaimana tidak lucu, minum minuman beralkohol, dunia malam, bahkan predikat badboy telah mereka sandang, tetapi hanya untuk menyatakan perasaan malah sepertinya nyali mereka ciut seketika.


"Ya udah, nanti Ayas bantu tanya sama Kak Sarah!" ucap Ayas membuat hati Ronald sedikit lega.

__ADS_1


__ADS_2