Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 88 : Ultah yang Terlupakan


__ADS_3

Ayas dan Reygen gegas kembali ke hotel karena baju Reygen yang basah kuyup tidak mungkin bisa kemana-mana ditambah hari memang sudah mulai senja.


Ayas segera menyiapkan baju ganti untuk Reygen yang kini sedang membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, kaos putih lengan pendek dipadukan dengan celana jeans warna mocca pendek pula akan menjadi busana santai Reygen sore ini.


Setelah Reygen selesai dengan ritual mandi sore nya, Ayas pun bergantian membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.


"Yank! lama banget, sih!" Reygen sudah tak sabar mengajak Ayas kembali berjalan-jalan dan lanjut makan malam.


Tahu sendiri kan kalau wanita di dalam kamar mandi itu banyak ritualnya tak cukup sepuluh atau lima belas menit, tetapi bisa sampai setengah jam atau bahkan satu jam. Itu aku! hehe.


Mulai bosan menunggu bidadarinya keluar dari kamar mandi, Reygen mulai mengambil ponsel pintar agar menjadi solusi untuk menghilangkan bosan yang hakiki akibat menunggu terlalu lama.


Dasar laki-laki! baru setengah jam saja sudah jenuh menunggu, apalagi wanita sudah bertahun-tahun menunggu di halalkan tapi tetap sabar dan setia meski belum ada kepastian. Ciyeee curhat!


Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka,


CEKLEK


Ayas keluar dengan rok tutu di padukan dengan kaos yang sedikit membentuk badannya, tidak terlalu ketat tapi cukup membuat tubuhnya terlihat nyata.


Reygen menatap Ayas dari ujung kepala sampai ujung kaki, diamatinya Ayas yang sedang berjalan lambat keluar dari kamar mandi.


"Yank!" sahut Reygen membuat wanita cantik itu menoleh.


"Iya, Bii!" Ayas menghentikan langkahnya dan menghampiri Reygen yang sedang duduk di sofa.


"Sini, duduk!" Reygen menepuk tempat duduk di sebelahnya.


Ayas pun duduk di samping Reygen sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tercium aroma sampo yang sangat kuat dari rambut basah Ayas membuat Reygen betah berlama-lama mengendus rambut panjang Ayas.


"Kamu tahu apa yang membuatku sangat bahagia saat ini?" tanya Reygen sambil membelai-belai rambut panjang Ayas yang masih setengah basah.


Ayas menatap Reygen dan mengernyitkan keningnya kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


"Enggak! emangnya apa yang bisa bikin kamu sangat bahagia, Bii? bisakah aku memberikannya untukmu?" Ayas balik bertanya kepada Reygen.


"Kamu!" jawab Reygen singkat.

__ADS_1


"Maksudnya?" kembali tanya Ayas.


"Dengan hadirnya kamu dalam hidupku, kebahagiaanku terasa sempurna. Tolong temani sisa hidupku selamanya." Reygen meraup tubuh Ayas dan mengecup keningnya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu sih, Bii? tentu aku akan menemani hidupmu sampai ajalku tiba, karena kau adalah imam dan juga teman hidupku untuk selamanya." Ayas membalas pelukan Reygen dan membenamkan wajahnya si dada bidang sang suami.


Senja yang menguning membuat suasana semakin terasa romantis, cahaya jingga yang mengintip di balik jendela menjadi saksi keharmonisan hubungan suami istri antara Ayas dan Reygen.


Semua terasa indah jika kita selalu bersama, suka dan duka, sedih dan juga bahagia.


Kesetiaan adalah salah satu Penyumbang utama keharmonisan keluarga, kepercayaan akan tumbuh subur jika kesetiaan kedua pasangan terjaga dan terpelihara dengan baik.


Namun, ketika kepercayaan telah terkhianati maka akan sulit kepercayaan itu tumbuh dan berkembang sehingga pasti akan ada ketidak percayaan dalam rumah tangga yang menyebabkan konflik berkepanjangan, karena kepercayaan itu ibarat sebuah kaca yang jika retak akan sulit di perbaiki, jika pun bisa pasti akan meninggalkan bekas retakan yang selalu terlihat.


"Yank! sekarang tanggal berapa, ya?" tanya Reygen memancing.


Ucapan Reygen membuat Ayas berpikir sejenak.


"Hm, tanggal 30 Juli! memangnya kenapa, Bii?" tanya Ayas polos.


"Maaf, Bii! aku benar-benar lupa." Ayas menunduk merasa bersalah karena lupa tanggal kelahiran suaminya.


Ayas memang tak begitu memperhatikan tanggal lahir Reygen yang tercantum di KTP nya dulu, karena dahulu Ayas tidak menganggap penting Reygen dalam hidupnya.


Tetapi saat ini orang yang dianggap tidak penting itu telah berubah menjadi orang yang sangat teramat penting dalam hidupnya, penting di dunia dan sampai ke akhirat.


Muncul ide untuk memberikan kejutan kepada Reygen di malam nanti.


"Ya udah, sebagai permintaan maaf aku, nanti malam aku kasih kamu kado spesial!" ucap Ayas dengan mata yang berbinar.


"Aku, gak minta apa-apa, Yank! cukup kamu selalu ada buat aku, itu sudah cukup!" ucap Reygen sambil tersenyum.


Ayas merasa bahagia mendengar ucapan Reygen, betapa Ayas merasa dirinya begitu berharga untuk Reygen membuatnya terharu dan kembali memeluk Reygen dan meneteskan air mata.


"Hei, kenapa kamu nangis?" tanya Reygen yang melihat Ayas menitikan air mata.


Reygen mengusap manik bening yang menetes di pipi Ayas

__ADS_1


"Aku sangat bahagia, Bii! semoga kamu selamanya seperti ini, tidak berubah dan aku mohon jangan pernah berubah!" jawab Atas dengan lirih.


"Manusia itu sifatnya alam, pasti berubah! tapi aku akan selalu berusaha menyayangimu seperti ini selamanya, karena kalau cinta itu perpaduan nafsu dan kasih sayang dan lambat laun akan tergerus oleh usia sedangkan rasa sayang tidak akan pernah berubah meskipun sampai ajalku tiba, karena rasa sayang tak akan pernah berpindah dari sini!" Reygen menyimpan telapak tangan Ayas di atas dada bidangnya.


Ayas tersenyum dan merasa dirinya sangat tenang bila berada dekat dengan Reygen, bukankah memang itu salah satu ciri keluarga sakinnah? merasa tenang berada dekat dengan pasangan.


"Ya sudah, setelah sholat maghrib, kamu langsung bersiap untuk dinner, ya!" ucap Reygen sambil mengusap pipi mulus Ayas.


Ayas pun mengangguk dan tersenyum kepada Reygen.


Entah bawaan bayi atau apa, Ayas sudah merasa sangat lapar dan ingin memakan camilan.


"Bii, aku udah lapar!" rengek Ayas kepada Reygen.


"Mau beli apa?" tanya Reygen.


"Beli camilan, yuk!" ajak Ayas dengan semangat.


Reygen hanya tersenyum dan lekas bangkit dari duduknya kemudian ia meraih tangan kanan Ayas dan membantunya berdiri.


"Ya udah, siap-siap sana!" titah Reygen kemudian mengambil kunci mobil dari atas nakas.


Ayas segera mengenakan hijabnya dan mengambil ponsel lalu memasukkannya ke dalam tas selempang kecil berwarna putih.


Mereka berjalan keluar kamar hotel dan menuju parkiran.


Segera Reygen menancapkan gas kendaraannya dan membelah jalanan menggunakan mobil sedan seharga miliaran tersebut menuju sebuah toko makanan di sekitaran hotel.


Beberapa bungkus makan ringan dan minuman sehat seperti susu dan air mineral telah masuk ke keranjang belanjaan Ayas.


Setelah dirasa cukup, Ayas dan Reygen segera menuju kasir dan mengantri untuk membayar semua belanjaan mereka.


Setelah struk belanjaan di dapat, Reygen kembali menggandeng tangan Ayas dan membawakan belanjaan sang istri menuju mobil.


Banyak sekali makanan yang di beli oleh Ayas, tetapi tak membuat Reygen risih atau banyak bertanya kepadanya.


Reygen malah senang jika Ayas tidak segan-segan meminta apapun kepada-Nya, hal itu menandakan bahwa Ayas telah sepenuhnya percaya kepada suaminya tersebut dan tak meragukan lagi Reygen sebagai suaminya yang penuh tanggung jawab.

__ADS_1


__ADS_2