Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 25 : Jatuh Cinta 2


__ADS_3

Ronald hanya menunduk dan tersenyum geli sambil mengusap tengkuk lehernya. Baru kali ini dia seperti melihat sosok seorang manusia yang sedang jatuh cinta pada Reygen.


"Terus, Lo sekarang mau ngapain ngajak gue kesini?"


Ronald duduk di samping Reygen.


"Lo bisa gak, ajak Sarah kemana gitu, biar gue bisa ngomong berdua sama Ayas."


Reygen menatap kedua gadis yang sedang duduk di kursi taman lainnya.


"Gue, sih, mau banget ngajak bidadari surga itu jalan, tapi masalahnya dia mau gak jalan sama gue?"


"Nyadar diri juga, Lo, ya,"


Reygen hanya mengolok-olok Ronald yang merasa tidak percaya diri. Baru kali ini mereka menyadari bahwa diri mereka selalu saja bermain di lumpur yang kotor.


"Gua punya ide, gimana kalau, Lo ajak Sarah buat beli minum?"


Reygen mengangkat kedua alis tebalnya dua kali kepada Ronald.


"Boleh juga. Oke, gue coba, ya."


Ronald segera bangkit untuk menghampiri gadis berhijab itu dan mengajaknya membeli beberap botol air mineral.


Namun ternyata usaha Ronald gagal total, Sarah malah pergi bersama Ayas untuk membeli air mineral dan malah meninggalkan Ronald dan Reygen.


"Nald, gimana, sih, Lo? gue kan nyuruh, Lo, buat ngajak Sarah, kenapa malah Ayas juga ikutan, sih?"


Reygen menatap tajam pada Ronald.


"Ya, emang gue tau kalo bakalan kayak gini, cewek berdua tuh kompak banget gak bisa di pisahin kayaknya,"


Ronald merasa usahanya sia-sia.


Reygen hanya mendengus kesal, tetapi dia tidak putus asa untuk mencari alasan supaya ia bisa berdua dan menyatakan perasaannya pada Ayas.


Liburan yang sudah di rencanakan dan jurus untuk menyatakan cinta pada Ayas harus musnah dan tidak mendapat keberhasilan sedikitpun.


Reygen yang merasa rencananya sia-sia segera mengajak Ayas untuk pulang dan Ronald diminta untuk mengantarkan Sarah.


Sarah dan Ayas tidak ingin pulang jika mereka tidak sama-sama, alhasil Sarah dan Ayas satu mobil dengan Reygen dan di karenakan mobil Ronald masih di service akhirnya Ronald juga ikut dengan Reygen, mereka berempat menumpangi kendaraan yang sama yaitu mobil Reygen.


Kali ini Ronald di jadikan sebagai sopir oleh Reygen, ia duduk di kursi depan sedangkan Sarah dan Ayas duduk di kursi belakang.


Setelah mengantarkan Sarah, Ronald berniat untuk singgah ke rumah Reygen karena akhir-akhir ini mereka memang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


***


Sesampainya di rumah Reygen...

__ADS_1


Terlihat mobil Remon sudah terparkir di halaman garasi rumah Reygen.


Reygen, Ayas, dan Ronald segera masuk ke dalam rumah dan telah mendapati Michelle dan Remon yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Hei, Rey,"


Michelle segera menghampiri Reygen yang baru saja memasuki rumahnya.


Ayas hanya berjalan sambil membungkukkan badannya ketika melewati Michelle.


"Permisi,"


Ayas segera berlalu menuju kamar tidurnya dan di ikuti oleh tatapan Reygen yang selalu memperhatikan Ayas.


Melihat tatapan Reygen pada Ayas membuat Michelle cemburu.


"Rey, Kamu liatin apa, sih?"


Michelle mengusap dada bidang milik Reygen namun di tepis oleh pemilik dada bidang tersebut.


"Aku capek!"


Reygen tidak menghiraukan siapapun yang sedang ada di dekatnya saat ini, baik Michelle, Ronald atau Remon yang sedari tadi duduk di sofa, ia berjalan menuju tangga dengan cuek.


Merasa cemburu pada Ayas dan di abaikan oleh Reygen, Michelle bermaksud untuk mendatangi kamar Ayas, tetapi baru beberapa langkah saja ia berjalan, Ronald berusaha menghentikannya.


"Michelle, mau kemana, Lo?"


"Jangan ikut campur!"


Michelle tidak menghiraukan Ronald dan terus berjalan menuju kamar Ayas.


Remon yang tidak mengerti dengan situasi saat ini bertanya pada Ronald.


"Nald, ada apa, sih? terus cewek yang pake jilbab itu siapa sih? kok dia bisa tinggal disini?"


Remon bertanya dengan rasa penasarannya. Ia memang yang paling muda di antara Ronald dan Reygen oleh karena itu ia sering dianggap si bungsu yang masih kecil oleh ke dua sahabatnya.


"Anak kecil gak akan ngerti."


Ronald hanya duduk sambil menunggu kejadian apa selanjutnya antara Michelle dan Ayas.


TOK..TOK..


Michelle mengetuk pintu kamar Ayas.


"Siapa?" Ayas bertanya dari dalam kamarnya.


"Cepet buka!" Michelle berkata dengan nada cukup keras.

__ADS_1


Mendengar yang mengetuk pintu adalah seorang wanita akhirnya Ayas segera membuka pintu kamarnya. Dia sudah bisa menebak bahwa Michelle yang mengetuk pintu kamarnya.


CEKLEK


Pintu kamar pun terbuka.


Baru saja Ayas membuka pintu kamarnya, Michelle sudah berkata dengan nada kasar pada Ayas.


"Heh, cewek kampung, awas ya jangan berani deketin Reygen!"


Michelle menunjuk wajah Ayas dengan jari telunjuknya dan hampir menyentuh hidung bangir milik gadis cantik berhijab tersebut.


"Maksud mbak, apa?"


Ayas mengernyitkan dahinya.


"Jangan pura-pura polos, deh, Lo. Emang, Lo udah di apain sama Reygen sampe-sampe Lo bisa tinggal disini, hah?"


Michelle semakin terbakar emosi.


Mendengar suara Michelle yang semakin meninggi membuat Ronald segera menghampiri Michelle dan Ayas sebelum Reygen mendengar keributan.


Remon yang melihat Ronald berjalan menuju kamar Ayas semakin kepo dengan apa yang terjadi sebenarnya, ia pun mengikuti Ronald dari belakang.


Michelle yang semakin emosi tidak dapat menahan tangannya untuk menampar Ayas namun segera di tahan oleh Ronald.


Reygen yang hendak turun untuk mengambil minuman dingin dari lemari es di dapurnya mendengar suara keributan dari kamar Ayas dan ia pun segera melangkahkan kakinya menuju asal suara yang terdengar jelas di telinganya.


"Hei, ada apa ini?"


suara Reygen membuat semua orang terdiam.


Bi Ipah dan bi Ida yang mendengar keributan tersebut pun tak mau ketinggalan cerita, mereka berdua mengintip di balik dinding kamar Ayas yang menghubungkan ke ruangan tengah rumah tersebut, namun ketika melihat Reygen sudah turun tangan akhirnya ke dua asisten rumah tangga tersebut segera kembali ke tempatnya masing-masing.


Bi Ipah dan bi Ida ingin sekali membantu Ayas, karena Ayas menganggap mereka seperti saudara dan orang tua yang selalu ia hormati, untuk itu bi Ipah dan bi Ida merasa kasihan melihat Ayas di maki-maki oleh Michelle, tetapi apa daya mereka hanyalah seorang asisten rumah tangga yang terkadang keberadaan mereka tidak di anggap oleh sebagian orang.


Setelah Reygen membuka suara, tidak ada yang berani menjawab pertanyaannya kecuali Ronald.


"Udah-udah, gak usah di bahas. Michelle, sebaiknya kamu pulang. Remon, antarkan Michelle pulang,"


Ronald berusaha meredam suasana.


Michelle pun segera menuruti perkataan Ronald karena ia juga takut kalau Reygen marah padanya mengenai hal ini.


Reygen yang melihat Ayas meneteskan air mata segera bertanya pada Ayas, tetapi gadis cantik bertubuh sintal itu hanya diam dan masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya meninggalkan Reygen dan Ronald yang masih mematung di depan pintu kamar Ayas.


~*~*~


Jangan lupa vote, like dan komen, ya...

__ADS_1


love you😍😍😍


__ADS_2