Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 22 : Orang jahat


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah hati Reygen saat ini. Ia sudah bersiap untuk berangkat ke kantor tanpa harus menunggu alarm pada ponselnya berbunyi. Reygen begitu bersemangat pergi ke kantor dan hal itu karena Ayas akan selalu bersamanya.


Kontrak kerja Ayas hanya satu tahun dan tentu saja hal itu tidak akan di sia-siakan oleh Reygen untuk dapat selalu bersama gadis pujaan hatinya.


Reygen sengaja akan mengajak Ayas untuk meeting menemui Klien bisnisnya dan sekalian mengajaknya makan malam di salah satu restoran terbaik di kota ini.


Ayas sudah mempersiapkan CV untuk di serahkan pada Reygen, sebenarnya CV itu tidak penting untuk Reygen, Ia hanya ingin mengetahui biodata Ayas saja tanpa harus bertanya pada sang pemilik biodata karena gengsi yang masih melekat pada pria tampan pemilik Perusahaan Scalfh itu.


Ayas yang sudah membantu bi Ipah menyiapkan sarapan pagi, kini sudah siap dengan pakaian kantor yang waktu itu di belikan oleh Reygen di salah satu Mall.


Setelan baju blazer warna hitam di padukan dengan jilbab pashmina warna mocca membuat Ayas terlihat sangat cantik dan elegant.


TOK..TOK..TOK..


"Non, Aden sudah menunggu di meja makan untuk sarapan."


Suara bi Ipah terdengar dari balik pintu kamar Ayas.


"Iya, Bi ... sebentar."


Ayas menjawab perkataan bi Ipah, Ia sedang merapikan jilbabnya di depan meja rias.


Setelah selesai dengan pakaiannya, Ayas segera mengait tas ransel kecilnya yang berwarna hitam dan menenteng CV di dalam amplop coklat untuk di serahkan pada Reygen.


Ayas keluar dari kamar tidurnya menuju ruang makan, di sana sudah ada Reygen yang menunggunya untuk sarapan pagi bersama.


Melihat Ayas dengan setelan blazer warna hitam, Reygen melongo sampai tidak mengedipkan kedua matanya untuk menatap Ayas. Ia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Ayas.


Melihat tingkah Reygen, Ayas hanya diam mematung di dekat meja makan, dan menatap heran pada Reygen yang seperti terhipnotis oleh penampilannya.


"Kamu lagi ngapain?"


Ayas menatap heran pada Reygen yang sedang berjalan perlahan mengelilingi tubuhnya yang masih mematung di dekat meja makan.


Mendengar perkataan Ayas, Reygen segera tersadar dari kebodohannya yang seolah hilang akal melihat kecantikan Ayas.


"Eh, eng-gak ... ga apa-apa."


Reygen berjalan kembali menuju kursi makannya dan mengangkat kedua alisnya dengan lama, "kenapa aku jadi kayak orang bego sih?"


Reygen memukuli kepalanya sendiri sambil bergumam pelan.


Ayas duduk di kursi makannya dan Reygen juga duduk di kursinya, mereka mulai menyantap sarapan pagi dengan nasi goreng kecap dan telor ceplok di temani segelas susu putih.


Selesai dengan acara sarapan pagi, Reygen dan Ayas segera berangkat ke kantor.


Hari ini akan menjadi hari yang cukup menyibukkan karena banyak pekerjaan di kantor di tambah ada meeting dengan klien pada jam makan malam membuat Ayas harus lembur untuk menemani Reygen meeting.


Ayas dan Reygen mulai memasuki kantor, pria tampan dan gadis cantik itu berjalan beriringan menuju lift kantor, tanpa mereka sadari ada sepasang iris mata tajam sedang memperhatikan mereka.


Beberapa berkas sudah menunggu untuk di tanda tangani oleh Reygen dan Ayas sedang mengatur jadwal Reygen untuk satu minggu kedepan.


Mereka berdua sibuk dengan pekerjaan masing-masing, namun di dalam satu ruangan yang sama.


Tidak terasa jam makan siang sudah tiba Reygen mengajak Ayas untuk makan siang di luar. Ayas pun menerima ajakan Reygen dan mereka segera keluar dari kantor menuju sebuah restoran yang dekat dengan kantor mereka.

__ADS_1


Seseorang terlihat sedang menatap Ayas dan Reygen sedari mereka keluar dari lift. Seseorang tersebut tampak sedang bertanya kepada salah seorang karyawan di kantor Reygen untuk mengorek informasi mengenai gadis yang sedang bersama Reygen.



Hari mulai beranjak sore, cahaya jingga mulai menyembur dari ufuk Barat. Dua insan masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.



"Hei, apa kamu sudah lelah?"


Reygen bertanya pada Ayas yang masih berkutat dengan laptopnya yang di berikan oleh Reygen pada Ayas sebagai inventaris kantor untuk Ayas.



Ayas menatap Reygen.


"Enggak,"


Ayas kembali menatap layar monitor di depannya.



"Kalau kamu lelah istirahat dulu."


Reygen yang sedang duduk di kursi tahtanya mulai bangkit untuk menghampiri Ayas yang sedang sibuk di sofa ruangan Reygen.



Ruangan kerja Reygen cukup luas dan fasilitasnya cukup lengkap. Selain meja kerja dan kursi tahta milik Reygen, di dalam ruangan ini juga terdapat satu set sofa empuk untuk para tamu kantornya dan di lengkapi dengan satu kamar mandi di sudut ruangannya.




Reygen mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang empuk.



"Hei, apa pekerjaanmu masih banyak?"


Reygen menatap Ayas yang masih berkonsentrasi pada pekerjaannya.



"Dikit lagi, kok!"


Ayas masih belum menengok ke arah Reygen dan hanya lengket dengan laptopnya.



"Cepetan siap-siap, kita akan segera pergi ke Restoran untuk makan malam dengan Klien."


Reygen melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


__ADS_1


"Iya, ini udah selesai."


Ayas segera mematikan laptopnya setelah Ia selesai dengan pekerjaannya.



"Oh ya, ini CV ku."


Ayas menyerahkan amplop coklat berisi CV miliknya.



"Simpan saja di atas meja."


Reygen memerintahkan pada Ayas.



Mereka segera bersiap untuk meninggalkan kantor menuju sebuah restoran untuk menemui klien bisnis Reygen.



Setelah mereka keluar dari kantor, seseorang memasuki ruangan Reygen yang memang tidak terkunci. Orang itu mulai mengendap-endap di dalam ruangan Reygen .



Ia memeriksa meja kerja Reygen dan melihat amplop coklat yang tergeletak di atas meja depan sofa dalam ruangan kerja Reygen. Ia segera membuka amplop yang berisi CV milik Ayas.



Seseorang itu terlihat membuka lembar demi lembar kertas yang ada di dalam amplop. Setelah mendapat informasi dari CV milik Ayas, seseorang tersebut terlihat mengepalkan kedua tangannya dan mengeratkan rahangnya.



"Awas, kau!"


Ia berdecak kesal setelah melihat CV milik Ayas seolah menyimpan dendam dan kebencian yang sangat amat dalam kepada gadis cantik bertubuh sintal itu.



Acara makan malam pun sudah selesai dan semua berjalan sesuai harapan. Klien sangat puas dengan kerja sama yang terjalin bersama perusahaan Reygen.


Ayas dan Reygen segera meninggalkan restoran menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, Reygen sudah di sambut oleh Ronald dan Remon.


Namun, bukan hanya dua orang sahabat prianya yang datang saat ini, Remon dan Ronald juga membawa seorang wanita bersama mereka.


"Hei, Rey, apa kabar?"


Suara Michelle menyapa Reygen yang baru saja turun dari mobil.


Ayas yang melihat Michelle dan kedua sahabat Reygen langsung keluar dari mobil.


"Permisi,"

__ADS_1


Ayas membungkukkan tubuhnya ketika melewati ke tiga manusia yang tengah berdiri di dekat pintu rumah Reygen.


Ronald dan Remon juga Michelle memasang wajah penuh tanda tanya mengenai gadis berjilbab yang baru saja masuk ke dalam rumah Reygen.


__ADS_2