
Entah kenapa semenjak mengetahui istrinya hamil, Reygen sangat ingin bercocok tanam di halaman belakang yang cukup luas. Ayas pun membantu sang suami untuk membuatkan kopi dan camilan berupa pisang goreng.
biji cabai dan tomat sisa bumbu dapur telah di semai di halaman belakang, hidup seperti ini memang sangat sederhana, tetapi tentu saja tidak mengurangi kebahagiaan sepasang suami istri yang tengah menanti buah hatinya terlahir ke dunia.
Namun sepertinya ketenangan dan kebahagiaan mereka akan segera kembali terusik, karena surat pemanggilan atas nama Reygen Scalfh untuk pemeriksaan kasus penganiayaan terhadap Cakra telah sampai ditangan petugas.
Dua orang petugas sudah siap mengantarkan surat pemanggilan kepada Reygen untuk dimintai keterangan di kantor kepolisian.
Mereka mengendarai mobil dinas kepolisian menuju rumah Reygen.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu terdengar sampai ke dapur. Ayas yang sedang membuatkan kopi untuk suaminya, sedangkan Reygen sedang asik di halaman belakang dengan aktivitas barunya yaitu menanam.
"Siapa itu?" tanya Ayas kepada dirinya sendiri.
Lantas ia bergegas membawa secangkir kopi untuk Reygen.
"Bii, sepertinya di depan ada tamu!" ucap Ayas sambil meletakkan secangkir kopi di teras belakang.
"Biar aku lihat!" Reygen pun mencuci tangan dan kakinya kemudian masuk kedalam rumah melalui pintu belakang.
Ia berjalan untuk membukakan pintu, disibaknya gorden jendela samping pintu, terlihat dua orang memakai seragam kepolisian tengah berdiri menunggu untuk dibukakan pintu.
Tanpa gentar sedikitpun, Reygen lekas membuka pintu.
Ceklek!
"Selamat sore, Pak!" ucap salah seorang petugas kepada Reygen yang baru saja keluar dari pintu.
"Selamat sore!" Reygen menimpali.
"Kami ditugaskan untuk menyampaikan surat pemanggilan dari kepolisian." Salah seorang dari petugas tersebut memberikan amplop kepada Reygen.
Reygen segera membuka amplop berwarna putih bercap kepolisian tersebut lalu ia membacanya dengan seksama.
Terlihat raut wajah yang sesekali mengerutkan kening dan diakhiri oleh helaan nafas yang berat darinya.
"Baik, terima kasih, Pak!" meskipun berat, Reygen mencoba tersenyum kepada kedua petugas tersebut.
"Oke, kalau begitu kami pamit! semoga Bapak bisa memenuhi panggilan dari kantor." ucap satu petugas.
"Akan saya usahakan." Reygen berkata dengan wajah tenang.
Setelah petugas berlalu, Reygen menutup pintu dan dengan langkah gamang ia memasuki rumahnya, berjalan menuju halaman belakang dimana istrinya sedang menikmati pisang goreng.
Di pegangnya surat pemanggilan tersebut erat-erat, seolah tidak tega memberi kabar kepada Ayas, Reygen hanya berdiri mematung sambil menatap istrinya yang sedang menyantap pisang goreng.
__ADS_1
Ayas pun menoleh dan melihat Reygen yang sedang menatapnya sendu.
"Sayang, tadi siapa?" tanya Ayas menatap pada suaminya.
"Itu, eu ... itu, tadi ... " Reygen sangat ragu untuk mengatakan yang sebernarnya.
"Bii, kamu kenapa? kok, kek gugup banget! emang siapa tadi yang dateng?" kembali cecar Ayas yang penasaran dengan tamu barusan.
Reygen duduk disamping sang istri, ia menyandarkan kepalanya di pundak Ayas lalu menarik napas panjang sebelum memberikan surat pemanggilannya kepada sang istri.
Reygen menatap lekat kepada Ayas, "Sayang tolong, jaga emosimu, ya!" Reygen menyodorkan amplop berisi surat pemanggilannya kepada Ayas.
Ayas menatap dengan seksama amplop yang diberikan oleh Reygen, "Apa ini, Bii?" tanya Ayas penasaran seraya mengambil amplop dari tangan Reygen.
Ia membuka amplop berisi surat tersebut lalu membacanya dengan seksama. Setelah beberapa menit, terlihat air bening yang menggenang di pelupuk matanya yang indah.
Tak terasa tangannya seperti tidak bertenaga dan surat yang ada di genggamannya terjatuh kelantai. Ia menatap Reygen dan menitikan air mata.
"Bii ... " suara sumbang yang menyiratkan kesedihan dari Ayas.
Reygen menggenggam kedua tangan Ayas dan meremasnya. Ia menatap Wajah sang istri lekat-lekat.
"Sayang, jangan khawatir, Aku akan baik-baik saja. Nanti malam aku akan menemui momy untuk meminta om Rendra mencabut tuntutannya." Reygen menghapus air mata yang telah jatuh di pipi mulus Ayas.
"Bii, aku takut!" Ayas memeluk Reygen erat, ia menangis sedih.
"Sayang, kendalikan emosimu, karena kau sedang hamil. sebaiknya sekarang kita mandi dan kamu istirahat. Aku akan menghubungi Sarah dan Ronald untuk menemanimu." Reygen membantu Ayas berdiri dan mengantarnya sampai kamar mandi.
"Aku temenin mandinya, ya!" ucap Reygen, bukan sedang mencari kesempatan, melainkan karena ia sangat khawatir kepada istrinya.
"Gak usah, Bii. Aku bisa sendiri, kok!" tutur Ayas dengan lemas.
"Kalau kamu merasa pusing, cepat teriak panggil Aku, ya!" Reygen mengusap pipi Ayas dengan lembut.
"Hm..." Ayas mengangguk dan segera memasuki kamar mandi.
***
Ronald dan Sarah ...
Setelah Reygen menghubungi Ronald, pria berambut pirang tersebut segera menemui Sarah di kostannya.
Ia mengajak Sarah untuk berangkat bareng dengan kendaraannya. Namun, sebelum ia menemui Sarah, Ronald telah menghubungi Remon untuk lebih dulu berangkat kerumah sahabatnya itu.
"Sar, sudah siap?" tanya Ronald kepada Sarah yang baru saja membukakan pintu untuknya.
"Ya!" jawab Sarah singkat sambil mengaitkan tali tas kecil di pundaknya.
__ADS_1
Mereka segera memasuki mobil Ronald dan melaju membelah jalanan. Ronald tampak senyum-senyum sendiri ketika curi-curi pandang kepada gadis yang ada di sebelahnya melalui kaca spion tengah.
Melihat gelagat Ronald yang aneh menurut Sarah, lantas ia beranikan untuk bertanya.
"Kamu kenapa sih, dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Sarah sambil mengkerutkan kedua alisnya.
"Gak apa-apa. Cuma seneng aja lihat kamu!" jawab Ronald sambil tersenyum.
"Seneng kenapa?" tanya Sarah kembali.
"Hm... gak tahu, seneng aja." jawab Ronald datar.
"Kalau seneng tuh ada alasannya!" ucap Sarah memancing.
"Kalau aku gak punya alasan untuk senang berada di dekatmu bagaimana?" tanya Ronald kembali membucin.
Pria satu ini memang pandai menggombal, tapi kali ini sepertinya ia tidak sedang bermain-main dengan ucapannya. Tatapannya begitu lekat kepada gadis yang sedang duduk disampingnya.
Tidak menjawab pertanyaan dari Ronald, gadis itu hanya tersipu dengan pipi yang sudah memerah seperti tomat matang yang siap di panen.
Sarah memalingkan pandangannya ke luar melalui kaca jendela mobil untuk menghilangkan kegugupannya.
"Dasar playboy, pandai sekali dia berkata manis!" gumam Sarah dalam hati.
Tanpa banyak kata, Ronald hanya terus curi pandang kepada Sarah. Mereka menyimpan debaran asmara yang sama, tetapi Sarah lebih bisa menahan perasaannya ketimbang Ronald yang blak-blakan mengumbar rayuannya.
Senja semakin pudar, cahaya jingga darinya mulai terseret kedalam gelapnya malam. Satu jam tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Reygen.
Ronald mengetuk pintu dan segera di buka oleh sang empunya rumah, Reygen.
"Masuk!" ajak Reygen kepada Ronald dan Sarah.
Mereka duduk di sofa ruang tamu, Reygen segera menjelaskan kepada Ronald dan Sarah mengenai penggilannya perihal kasus hukum yang tengah ia hadapi. Ia meminta kepada Ronald dan Sarah untuk menemai Ayas sementara ia akan pergi menemui Evelyn.
"Rey, apa kau yakin, tante Evelyn akan mengabulkan permintaanmu?" tanya Ronald ragu, karena dia hafal karakter orang tua Reygen.
"Tidak ada salahnya aku mencoba. Aku minta kalian menjaga Ayas, untukku, karena saat ini dia sedang mengandung." ucap Reygen datar, seraya meminta kepada kedua orang tersebut.
"Apa? Ayas sedang hamil?" tanya Sarah terkejut.
"Ya, untuk itu aku tidak bisa membiarkannya sendiri dirumah. Aku khawatir terjadi sesuatu kepadanya." tutur Reygen.
"Sekarang dimana adikku?" tanya Sarah cemas.
"Dia sedang istirahat di dalam kamar." jawab Reygen.
"Aku akan menemuinya." Sarah bangkit dan segera berjalan menuju kamar Ayas.
__ADS_1