
"Aisss! sakitnya. Ternyata begini rasanya kehilangan keperawanan, tapi kenapa banyak yang rela ya? kasihin sama pacarnya yang belum tentu tanggung jawab?" Ayas menggerutu sambil berjalan pelan menuju kamar mandi, miliknya sangat sakit bahkan berjalan saja sulit.
"Aw!" kembali Ayas mengerang kesakitan dan berjalan mengegang seperti kepiting.
Reygen yang baru saja terjaga, melihat Ayas sedang berjalan sangat pelan menuju kamar mandi, ia mengernyitkan keningnya dan segera mencari celana boxer yang semalam ia lempar entah kemana.
"Ah, itu dia!" Reygen menemukan boxernya dan segera memakainya. Ia menyusul Ayas yang sudah dekat dengan kamar mandi.
"Hei, mau kemana?" Reygen memeluk Ayas dari belakang.
"Lepas!" Ayas memukul tangan Reygen yang sudah melingkar di tubuhnya.
"Galak banget!" Reygen tetap bergeming memeluk Ayas.
"Bhie, lepas! aku mau mandi." rengek Ayas.
"Mandi bareng, yuk!" Reygen membenamkan wajahnya di ceruk leher Ayas.
"Kalau kamu ikut ke dalam, yang ada bukan mandi!" Ayas menjewer kuping Reygen.
"Aw! sakit, Yang!" Reygen mengusap telinganya yang terasa panas karena jeweran Ayas cukup kuat, membuat telinga sang pangerannya merah.
"Makanya, lepas!" Ayas melotot melirik pada Reygen, "udah siang nih!" Ayas berusaha melepas tangan Reygen yang masih erat melingkar di tubuhnya.
Namun Reygen tidak melepas tubuh Ayas begitu saja, ia membawa tubuh sintal milik istrinya ala bridal style kembali ke atas tempat tidur.
"Hei, Bhie, kamu mau ngapain lagi?" Ayas memukul-mukul dada Reygen.
"Mau bercocok tanam lagi!" jawab Reygen dengan wajah tanpa dosa.
"Bii! aku saja masih sangat kesakitan, karena semalam kau tidak mau berhenti. Apa kamu tega sama aku?" Ayas memelas meminta belas kasihan kepada Reygen.
"Biar cepat terbiasa, Sayang! nanti kan gak sakit lagi!" Reygen kembali mengukung tubuh sintal milik istrinya. Entahlah apa yang selanjutnya terjadi, mungkin mereka akan berolah raga pagi dengan bercocok tanam.
***
__ADS_1
Satu minggu telah Reygen dan Ayas lalui di sebuah villa milik keluarga Reygen. Hari ini mereka memutuskan untuk pulang kerumah.
Kabar menikahnya Reygen dengan Ayas sudah sampai di telinga Evelyn dan Rouge Scalfh.
Rouge tidak mempermasalahkan pernikahan Reygen yang tidak terlebih dulu meminta izin kepadanya, karena ia berpikir Reygen sudah dewasa mungkin ada sesuatu yang membuatnya melakukan hal demikian. Pastinya alasan tersebut sangat kuat.
Tapi tentu saja tidak dengan Evelyn. Ia sangat marah karena Reygen tidak meminta restunya terlebih dulu.
Reygen dan Ayas turun dari mobilnya dan berjalan bergandengan memasuki rumah, tidak disangka Evelyn sudah berdiri di ruang tamu sambil bersedekap tangan di depan dada.
Reygen melihat Evelyn yang sedang berdiri membelakanginya, sedangkan Rouge sedang duduk di sofa dan membaca majalah, langkah Reygen-pun terhenti tatkala melihat kedua orang tuanya sudah berada di rumahnya.
Ia memegang erat tangan Ayas yang kini berdiri mematung disampingnya. Reygen sangat paham sifat Evelyn.
"Bagus!" Evelyn bertepuk tangan dengan wajah yang sinis. "rupanya kalian sudah kembali!" Evelyn membalikkan badannya menghadap Reygen dan Ayas.
Evelyn berjalan mendekati Ayas, ia memutari tubuh Ayas dengan tatapan memicing. Matanya mengarah ke tubuh Ayas dari ujung kepala sampai ujung kaki. Reygen hanya menatap lurus ke depan, sedangkan Ayas hanya menundukkan kepala.
"Jadi ini, Wanita yang sudah membuatmu durhaka!" Evelyn menunjuk wajah Ayas penuh murka.
"Mom, Aku bisa menjelaskannya!" Reygen menoleh pada Evelyn.
"Mom, ini salahku! jangan libatkan istriku!" Reygen semakin erat menggenggam tangan Ayas.
Untuk saat ini, Rouge hanya ingin mengamati. Ia berpikir belum saatnya untuk turun tangan. Ia membiarkan Evelyn--istrinya--yang menangani putranya.
"Rey, Aku tidak masalah dengan pernikahan kalian, selesaikan urusanmu dengan Momy-mu. Papi ke atas dulu." Rouge menepuk pundak Reygen pelan. Ia berjalan menuju tangga meninggalkan Reygen, dan Evelyn juga Ayas di ruang tengah.
Sifat Rouge dan Evelyn memang sering bertolak, tak jarang mereka sering berdebat hanya karena masalah sepele, tapi Rouge selalu mengalah dan tetap bersikap kalem.
"Coba lihat wanita ini? apa dia pantas bersanding denganmu, Rey?" tatapan meremehkan dari Evelyn kepada Ayas.
Jika bukan mama mertua yang berbicara seperti itu kepada Ayas, ia pasti sudah membungkam mulut Evelyn rapat-rapat.
"Mom, apa maksudnya?" Reygen menahan gemuruh badai yang sudah bergejolak dalam dadanya.
__ADS_1
"Apa aku salah? bukankah dia memang hanya seorang gadis yang berasal dari panti asuhan? Rey, dia tidak sepadan denganmu!" Evelyn mencibir status Ayas yang hanya dari kalangan orang biasa.
"Cukup, Mom! katakan, apa yang Momy inginkan dariku?" tanya Reygen tak ingin basa-basi lagi.
Ayas merasakan sesak yang teramat di dalam dadanya. Namun, ia hanya bisa diam dan sekuat tenaga menahan air mata yang terus memaksa untuk mengalir di pipinya.
"Tinggalkan, Dia!" Evelyn mencebik, matanya tajam menusuk kepada Ayas.
Air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata Ayas-pun tak tertahankan lagi.
tes!
Manik bening menetes dari ujung netra indah milik Ayas, ia memejamkan kedua matanya dan menarik napas panjang. Sekuat tenaga menahan gejolak emosi yang sudah memenuhi ruang dalam hati.
"Tidak!" Reygen menatap tajam pada Evelyn.
"Jika kau tidak mendengarkanku, silakan pergi dari rumah ini!" Evelyn menunjuk pintu keluar rumahnya.
"Baik, jika itu keinginanmu. Aku akan pergi." Reygen menarik tangan Ayas untuk meninggalkan rumah. Namun, Ayas bertahan.
"Nyonya, maafkan saya. Ini semua salah saya, jangan libatkan Rey, karena bagaimanapun Dia putra Nyonya. Jadi tolong maafkan Dia. Saya memang tidak pantas bersanding dengan seorang Putra Scalfh yang kaya raya. Rey, jangan pergi! biar aku saja yang pergi." Ayas membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan cepat menuju pintu keluar.
"Dari kecil yang merawatku itu bi Ipah, jadi untuk apa Momy berperan sebagai orang tua yang peduli terhadapku di saat aku sudah mendapatkan kebahagiaanku. Momy, kau terlambat!" Reygen meninggalkan Evelyn dan mengejar Ayas.
Ia memaksa Ayas untuk masuk ke dalam mobilnya, meskipun Ayas menolaknya beberapa kali. Sampai Reygen turun dari mobil dan membawa paksa tubuh Ayas untuk masuk ke mobilnya.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan meningglkanmu." Reygen menatap lekat pada Ayas yang sudah duduk di kursi samping pengemudi.
Reygen memasangkan seat belt untuk Ayas, ia segera menancap gas meninggalkan kediaman mewah yang sedari kecil menjadi tempatnya berteduh dari teriknya matahari dan derasnya guyuran air hujan.
Ayas hanya menangis tersedu menatap keluar melalui jendela mobil, ia memejamkan kedua matanya dan merasakan sakit yang teramat dahsyat di dalam hatinya.
Baru saja ia mengecap kebahagiaan yang menurutnya sempurna, lalu ia harus merasakan kepedihan yang luar biasa.
Reygen tak kuasa melihat wanita yang ia cintai seperti ini. Ia mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus istrinya, kemudian tangan kirinya menggenggam tangan kanan Ayas, sedangkan satu tangannya lagi tetap fokus pada stir mobilnya.
__ADS_1
***
😢😢😢