Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 20 : Masa Lalu


__ADS_3

Matahari kian meninggi dan hampir berada ditengah-tengah langit nan cerah, Ayas yang merasa bosan karena seharian hanya di dalam rumah saja akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kediaman Reygen.


Ia mulai menjelajahi halaman rumah mewah yang luas itu, banyaknya pepohonan yang meneduhkan membuat Ayas tidak merasa kepanasan saat dia berjalan-jalan di sekitar rumah Reygen meskipun dengan baju syar'i yang ia kenakan.


Ayas mulai berjalan ke belakang halaman rumah Reygen dan ia duduk di gazebo dekat kolam renang milik Reygen, Ayas ditemani bi Ipah untuk lebih mengetahui seluk beluk rumah mewah itu setelah mereka memasak untuk makan siang.


Ia ingin mengetahui kebiasaan Reygen dan makanan apa saja yang Reygen sukai untuk bisa belajar pada bi Ipah agar ia bisa membantu wanita separuh baya itu ketika sedang berada di dapur untuk memasak makanan buat Reygen.


"Den Reygen itu sebenarnya tidak susah kalo mau makan, cukup ada telor ceplok pakai kecap manis juga sudah bisa membuatnya menikmati hidangan, tapi selama ini, Den Reygen sangat jarang makan di rumah karena memang sedari kecil, Den Reygen sudah sering di tinggal oleh kedua orang tuanya dan hal itu menjadi salah satu penyebab Aden berperilaku salah tanpa mengindahkan apapun."


Bi Ipah bicara panjang lebar pada Ayas, bahkan ia juga menceritakan bahwa Reygen sering membawa wanita ke dalam rumahnya semenjak kejadian pesta malam itu bersama Michelle dan sejak saat itu ia sering membawa beberapa wanita ke dalam rumahnya entah hanya untuk mengobrol atau hal yang lainnya.


Bi Ipah juga menceritakan awal mula ia berperilaku amoral terhadap para wanita itu di sebabkan oleh rasa kekecewaannya terhadap kematian Reddick yang menurutnya disebabkan oleh seorang wanita.


Sejak saat itu ia tidak ingin jatuh cinta pada wanita manapun karena Ia tidak mau menjadi budak cinta yang hanya akan mendatangkan malapetaka.


Namun, bi Ipah berkata pada Ayas, semenjak Ayas masuk ke rumah Reygen dan jatuh dari kolam renang pria itu tampak sangat jarang keluar rumah dan mabuk-mabukan, bahkan ia sudah beberapa kali menolak ajakan Remon dan Ronald yang selalu mengajaknya berpesta dengan minuman keras dan wanita.


"Ehem,"


Suara maskulin dari seorang pria yang berasal dari dekat gazebo membuat kedua wanita yang berbeda usia itu menoleh ke arahnya.


"Aden!"


Bi Ipah sedikit terkejut mendapati Reygen sudah ada di belakangnya, ia segera bangkit dari duduknya di tepian gazebo, kemudian ia menoleh pada Ayas yang sedang duduk di sebelahnya, "bibi tinggal dulu ke dapur ya, Non."


Bi Ipah segera berpamitan pada Ayas dan langsung di sambut oleh senyuman manis dan anggukan dari gadis cantik berhijab itu.


Setelah bi Ipah berlalu masuk ke dalam rumah dari pintu belakang yang langsung menghubungkannya ke dapur.


Reygen melanjutkan langkahnya mendekati Gazebo dan segera duduk di tepian gazebo menggantikan posisi duduk bi Ipah.


"Ini jam berapa? kok sudah pulang kerja?"


Ayas bertanya pada Reygen tanpa menatap wajahnya, Ia hanya memandangi riak air di dalam kolam renang yang ada di hadapannya tertiup angin.


"Aku bukan karyawan biasa, itu kantorku sendiri, jadi aku bebas mau kapan saja pulang ataupun datang."


Reygen menatap Ayas lekat-lekat. Tidak bisa dipungkiri lagi akan kekaguman pria itu pada Ayas.


"Hh, dasar sombong!"


Ayas hanya bergumam pelan namun dapat di dengar oleh Reygen.


"Bukankah itu memang benar?"


Reygen merasa angkuh dan menaikkan alisnya.

__ADS_1


Ayas menoleh pada Reygen dengan tatapan yang tajam.


"Ya, ya, lagian siapa juga yang mengaku itu perusahaanku! dasar sombong. Ingat, ya, semua yang kita miliki ini hanya titipan dari Yang Maha Kuasa jadi kamu tidak boleh sombong karena semua milikmu bisa saja di ambil lagi oleh-Nya kapan saja ...."


Suara Ayas ketika hampir seperti berceramah itu terdengar sangat merdu di telinga Reygen.


Reygen hanya senyum-senyum sendiri sambil terus memandangi wajah cantik Ayas tanpa ia mendengarkan semua perkataan gadis yang sedang menatapnya tajam itu.


"Hei, kamu denger gak, sih, apa yang saya bicarakan?"


Sambung Ayas yang merasa semua perkataan panjang lebarnya tidak di dengar oleh Reygen.


"Ehm, aku denger, kok! aku sengaja pulang cepat karena ingin mengajakmu makan siang di luar."


Reygen masih saja memandangi wajah Ayas sambil tersenyum.


"Aku udah masak makan siang tadi sama Bi Ipah, sayang kalau gak di makan nanti mubazir."


Ayas berkata dengan nada datar lebih terlihat ketus.


"Baiklah, aku akan makan siang di rumah tapi di temani sama kamu, ya." Ayas mendengus, sedangkan Reygen bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu belakang rumahnya diikuti oleh Ayas yang berjalan malas di belakangnya.


Mereka menuju ruangan makan yang tidak jauh dari dapur, Ayas dan Reygen segera menduduki kursi makan mereka dan mulai menyantap hidangan yang sudah tertata di atas meja makan.


"Setelah ini, aku akan mengajakmu melihat panti yang sedang di bangun."


Ayas merasa sedikit tidak percaya.


"Beneran?"


Ayas menatap Reygen yang ada dihadapannya dan hanya terhalang oleh meja makan yang cukup lebar.


"Hm, setelah ini kamu bersiaplah."


Reygen kembali menyantap makan siangnya.


"Aku sudah siap, kok, tinggal ambil tas dan langsung berangkat."


Ayas tampak senang mendengar perkataan Reygen yang akan mengajaknya untuk melihat panti yang hari ini sudah di mulai pembangunannya.


"Apa aku boleh minta sesuatu?"


Ayas mencoba menatap pada Reygen pelan-pelan, Ia seperti ragu kalau Reygen akan mengabulkan permintaannya.


Reygen menghentikan suapan makanan ke dalam mulutnya dan segera menatap Ayas.


"Minta apa?"

__ADS_1


Suara Reygen terdengar melemah seperti sedang berbicara pada anak kecil dan tatapannya terlihat sangat hangat.


"Sehabis melihat panti, aku mau ke makam bunda, boleh, kan?"


Ayas menampakkan wajah sendunya yang membuat Reygen sangat gemas dan tidak bisa menolak permintaannya.


"Hm, jika besok kamu bersedia untuk lembur di kantor, aku akan mengabulkan permintaanmu."


Reygen mengajukan syarat pada Ayas.


"Kamu ini bener-bener selalu mencari kesempatan, ya!"


Ayas mengerucutkan bibir mungilnya dan meletakkan sendok dengan kasar ke atas piring.


"Siapa yang mencari kesempatan, aku sudah melihatmu kembali sehat dan besok ada meeting penting dengan klien jam tujuh malam, jadi mau kau mengajukan permintaan atau tidak aku akan tetap menyuruhmu lembur."


Reygen menjelaskan alasannya menyuruh lembur pada Ayas.


"Dasar!"


Ayas mendengus kesal meskipun alasan Reygen cukup masuk akal.


Setelah selesai dengan makan siang mereka, Ayas segera membereskan meja makan dan membawa peralatan makan yang telah mereka pakai.


Bi Ipah membantu Ayas mencuci piring dan bi Ida mengelap meja makan.


Reygen sudah menunggu Ayas di depan rumahnya untuk mengambil tas dari dalam kamar tidurnya, mereka pun segera memasuki mobil sedan mewah milik Reygen dan mulai melaju membelah jalanan menuju panti.


"Oh ya, kamu belum menyerahkan CV lamaran kerjamu pada perusahaan, dan Aku harap besok kamu sudah menyerahkannya padaku."


Reygen menoleh sekilas pada Ayas yang sedang duduk di sebelah kursi pengemudi.


"Baiklah, besok aku akan menyiapkannya."


Ayas hanya melirik pada Reygen yang sudah kembali memfokuskan pandangannya ke depan kaca mobil sambil mengendalikan setir mobilnya.


Reygen lebih suka menyetir sendiri dari pada harus memakai sopir pribadi padahal ia mempunyai satu supir pribadi yang stand by di rumahnya, tetapi sangat jarang sekali ia menggunakan jasanya karena Reygen merasa lebih nyaman kemana-mana sendirian.


Hari semakin senja membuat sinar jingga kemerahan menyembur dari langit sebelah Barat, Ayas tampak senang karena akan melihat panti kembali di bangun, dan Ia bisa membawa anak-anak panti untuk menempatinya.




Jangan lupa VOTE, LIKE, DAN KOMEN, ya.


Love you all😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2