Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 57 : Gugur


__ADS_3

"Bii ... sakittt!" Ayas berteriak kesakitan dan memegangi perut datarnya.


"Ayas!" kedua bola mata Reygen membelalak seketika, saat melihat istrinya mengerang kesakitan sambil meremas baju yang menutupi area perutnya.


Reygen segera meninggalkan Cakra dan berlari menghampiri istrinya.


"Sayang, kamu kenapa? apakah ada yang luka? bertahanlah!" Reygen kembali menghampiri Cakra dan melayangkan bogem di wajahnya, ia membalikkan tubuh Cakra dengan paksa dan menggeledah saku celana Cakra, lalu merebut kunci mobil dari saku celananya.


Reygen kembali berlari untuk menggendong Ayas dan membawanya masuk ke dalam mobil Cakra. Ayas sudah semakin pucat, entah kenapa akhir-akhir ini tubuhnya sering merasa lelah dan sangat lemah.


Kelopak matanya terasa berat untuk berkedip, "Bii, sakiitt!" suara Ayas semakin terdengar parau, Reygen memasangkan seat belt untuk Ayas dan betapa terkejutnya ia saat melihat baju bagian bawah yang dikenakan Ayas terdapat bercak darah.


"Sayang, apa kau terluka?" tanya Reygen sedikit panik.


"Perutku sakit banget, Bii! hiks, hiks" ucap Ayas sambil menangis kesakitan.


Reygen memeriksa seluruh tubuh Ayas, dan melihat betis mulus milik istrinya tersebut berlumuran darah berasal dari pusat mahkota kewanitaannya.


Reygen segera melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia sangat hawatir dengan keadaan istrinya.


Melihat Ayas mengerang kesakitan dengan sedikit sisa tenaganya, Reygen merasa sesak di dadanya. Kedua netranya mulai mengembun tak tahan melihat istrinya begitu kesakitan.


"Tahan, Sayang. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Reygen mempercepat laju kendaraannya.


***


"Suster, tolong istri saya!" Reygen memasuki ruangan Instalasi Gawat Darurat.


"Silahkan, Bapak menunggu saja disana!" Suster menunjuk kursi tunggu di luar ruangan IGD.


"Tapi, saya suaminya suster!" Reygen menolak untuk menunggu di luar.


"Ini sudah prosedur rumah sakit, Pak!" jelas suster kepada Reygen.


Reygen tetap berusaha menerobos masuk dan tak menghiraukan peringatan dari suster. Namun, suster memanggil seorang dokter karena Reygen berusaha masuk ke ruangan IGD.


"Dokter Firman!" sebut Reygen kepada dokter yang baru saja tiba di IGD.


"Reygen!" dokter Firman menimpali. "sedang apa disini?" tanya dokter Firman kepada Reygen.


"Istri saya sedang berada di dalam, Dok!" ucap Reygen penuh cemas.

__ADS_1


Suster mencoba bicara kepada Firman, karena Reygen mendesak untuk tetap masuk menemani Ayas.


"Ini, Dok, Bapak ini memaksa ingin masuk ke IGD untuk menemani istrinya." ucap suster.


"Biarkan dia masuk!" titah dokter Firman kepada suster.


"Ayo, Rey!" dokter Firman mengajak Reygen masuk.


Reygen mengikuti dokter Firman dan menemani Ayas yang sedang mendapatkan penanganan.


Setelah dokter umum yang bertugas menangani Ayas selesai memeriksa pasiennya, Reygen sudah tidak sabar mengetahui keadaan istrinya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Reygen penasaran, berharap dokter umum tidak mengatakan hal yang tidak ia inginkan.


"Kita bicara di luar," dokter umum mengajak Reygen untuk berbicara di pintu ruangan dimana Ayas masih terbaring lemas. Namun, Ayas masih bisa mendengar perkataan dokter umum itu sayup-sayup.


Hati Reygen sangat tidak tenang saat ini, wajahnya suram seperti langit yang tertutupi mendung hitam nan kelam yang hendak mengucurkan derasnya air hujan.


"Hm, maaf. Kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada dalam kandungan pasien." ucap dokter yang telah memeriksa Ayas.


Degh!


Selama ini Reygen tidak mengetahui bahwa Ayas sedang mengandung janin berusia 3 minggu, sebenarnya Ayas sudah bisa merasakan kehadiran janin dalam perutnya, oleh karena itu disaat ia pingsan di dalam kamar mandi, Ayas menolak untuk diperiksa ke dokter, karena bulan ini ia tidak mendapat tamu bulanan. Namun, ia belum terlalu yakin karena baru satu minggu tamu bulanannya telat.


Air mata dari sudut netra Reygen pun tak terbendung lagi, ia mengepalkan kedua tangannya dan rahangnya menegas dengan nafas yang tersengal menahan emosi juga kesedihan yang tiada tara.


"Karena sepertinya pasien mengalami benturan yang keras, atau jatuh dan mengalami stres yang berat." sambung dokter umum tersebut.


Reygen sudah tidak bisa menahan sesaknya, ia berjalan dengan gontai menuju bangsal dimana Ayas terbaring di atasnya.


Reygen meneteskan air mata tanpa suara dan memeluk tubuh Ayas yang sedang terbaring lemah,


"Maafkan, aku, Sayang," Reygen menangis disela perkataannya meski tanpa terisak, "aku tidak bisa menjagamu dengan baik sampai-sampai kita harus kehilangan calon buah hati kita." Reygen tak kuasa lagi menahan tangis, begitupun dengan Ayas, mereka saling memeluk satu sama lain berusaha untuk menguatkan diri masing-masing.


Seumur hidup baru kali ini Reygen menangis sesenggukan dihadapan seorang wanita tanpa daya dan upaya, ia hanya bisa meluapkan segala kesedihannya kepada wanita yang kini menjadi tumpuan suka dan duka dalam hidupnya.


Dokter Firman menghela nafas menunjukkan rasa empatinya kepada Reygen. Dokter Firman menepuk pundak Reygen seraya berkata, "Rey, sabar! paman turut prihatin." Reygen hanya diam mendengar ucapan dokter Firman.


Ayas tidak dapat berkata apapun, saat ini ia merasa antara mimpi dan nyata, sulit menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan calon bayinya semasa dalam kandungan.


Seperti tidak ada habisnya air mata Ayas mengucur deras di pipinya, sampai ia merasa sesak dan suster segera memasangkan selang oksigen di hidung Ayas.

__ADS_1


Setelah hampir satu jam mereka meluapkan kesedihannya, suster menghampiri keduanya untuk membawa Ayas ke ruangan rawat inap.


"Permisi, kami akan segera memindahkan pasien ke ruang rawat." suster mendorong bangsal menuju ruang rawat inap.


"Dokter Firman, saya tinggal dulu!" ucap dokter umum yang hendak meninggalkan Reygen dan Firman.


"Ah, ya. Terima kasih, Dok!" ucap dokter Firman kepada dokter umum, teman satu profesi di rumah sakit tersebut.


Tatapan Reygen kosong menatap bangsal yang ada dihadapannya kini telah melaju, otaknya hanya dipenuhi oleh dendam kepada Cakra.


"Rey, ayo kita jalan!" suara dokter Firman menyadarkan angannya yang melayang terhadap sosok Cakra.


Reygen mengangguk dan menghela napas panjang untuk menetralkan emosinya. Ia membantu suster mendorong bangsal yang di tempati istrinya. Reygen meminta Ayas untuk dirawat di kamar VIP.


***


"Tenanglah, Rey! istrimu akan baik-baik saja. Paman tinggal dulu, ya, karena masih ada pekerjaan." dokter Firman membantu memeriksa keadaan Ayas, meskipun ia adalah dokter bedah dan bukan dokter kandungan, tapi ia mengerti kondisi Ayas saat ini. Dia tidak mau membuat Reygen bertambah panik.


Firman adalah saudara sepupu dari Rouge, ayahnya Reygen.


"Terima kasih, Paman!" ucap Reygen menatap Firman tanpa kesan.


"Ya." dokter Firman meninggalkan Reygen dan Ayas.


Ayas dalam lirihnya,


"Bii ... hiks, hiks, cobaan apalagi ini? apakah aku akan kuat melewatinya? hiks, hiks," Ayas berkata terbata-bata disela isak tangisnya.


Reygen menggenggam erat kedua tangan Ayas, "Sayang, kamu ini bicara apa? kita pasti bisa melalui ini semua, asalkan kita selalu bersama." Reygen mencoba memberi jawaban yang bisa membuat hati Ayas sedikit tenang.


"Sekarang, kamu istirirahat, ya. Gak usah banyak pikiran, yang penting kamu cepat sehat." Reygen menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh Ayas.


'Ya Allah, kenapa kau ambil anakku? bahkan sebelum ia sempat mengecap indahnya dunia dan mengenal sosok ayah yang sangat bertanggung jawab, apa ini adil untukku? sesungguhnya, takdir apa yang sedang Kau mainkan untuk kami?' ratap Ayas dalam hatinya, ia tak dapat berucap dengan bibirnya yang seakan terasa kelu. Sudut nanarnya kembali menitikan air mata yang sudah membentuk sungai di pipinya.


Dalam keadaan tak berdaya, di selimuti kesedihan yang membara, ia hanya bisa berpasrah dalam doa. Senandung yang tak terucap oleh lisan. Namun, terpanjat melalui sanubari terdalam. Ayas memintal pilu dalam gugu...




Bersambung...😭

__ADS_1


__ADS_2