Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 40 : Sholat Pengantin


__ADS_3

Mereka segera meninggalkan teater menuju tempat parkiran yang terletak di basement lantai paling dasar.


Reygen segera membukakan pintu untuk Ayas, setelah Ayas masuk ke dalam mobilnya, ia segera berjalan memutari badan mobilnya untuk masuk melalui pintu yang lain.


"Apa masih dingin?" Reygen kembali menggenggam tangan Ayas.


"Ya, Bhie, tolong AC mobilnya di kecilin," Ayas berkata dengan sedikit menggigil.


Sebenarnya Reygen ingin bertanya dengan sebutan baru untuknya dari Ayas "Bhie" apa itu artinya? Tapi segera ia tepis,karena wanitanya sudah menggigil kedinginan.


Reygen segera mengecilkan AC pada kendaraannya, kemudian ia posisikan tubuhnya untuk bisa berhadapan dengan Ayas yang sedang duduk di kursi sampingnya dan berniat memasangkan sabuk pengaman pada Ayas.


Reygen meraba setiap jengkal wajah Ayas dengan lembut dan penuh kehangatan.


Tangannya yang kekar seolah tidak bertenaga karena ia menyentuh wajah Ayas dengan begitu lembut.


"Kamu masih kedinginan?" Reygen menatap Ayas dengan tangannya yang masih mengusap pipi mulus Ayas.


"Sedikit," Ayas tersenyum.


Melihat keadaan sang istri baik-baik saja, Reygen segera mengeksekusi bibir seksi Ayas yang masih terasa dingin seperti habis keluar dari lemari es, sampai ia kehabisan napas lalu berhenti sejenak dan kembali memperdalam pautan bibirnya sampai berulang kali.


Kendaraan roda empat milik Reygen menjadi saksi bisu kehangatan mereka, dua insan saling berpautan memepertemukan ke dua lisannya penuh kehangatan.


"Bagaimana? apakah kau masih merasa kedinginan?" Reygen mengusap bibir Ayas dengan ibu jarinya, dan ke empat jari lainnya menahan dagu Ayas.


"Dasar nakal!" Ayas memalingkan wajahnya.


"Kenakalan yang kamu sukai bukan?" Telunjuk Reygen mengetuk hidung bangir Ayas.


Mereka tersenyum dan saling menatap penuh hangat sebelum akhirnya Reygen menancap gas kendaraannya meninggalkan area parkiran teater tersebut.


"Bhie ... aku lapar," Ayas berkata dengan nada manja pada Reygen.


"Kita mampir dulu di resto." Reygen mengarahkan kemudianya menuju sebuah Resto yang jaraknya tidak jauh dari teater.


Mereka makan malam bersama sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman Reygen.


***


Sesampainya di rumah, Ayas segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaian.

__ADS_1


Ia sangat lelah hari ini sampai tidak sempat menunggu Reygen yang sedang mandi.


Ayas sudah tertidur pulas di atas tempat tidur yang berukuran king size milik suami tampannya itu.


Reygen baru saja keluar dari kamar mandi, ia berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil baju tidur.


Setelah berpakaian, ia melihat Ayas sudah terlelap di atas tempat tidurnya. Reygen duduk di tepian ranjang dan mengusap rambut panjang Ayas.


Sesuai permintaan Reygen, jika di dalam kamar tidur dan hanya ada mereka berdua maka Ayas boleh membuka kerudungnya.


"Sayang ... terima kasih, setelah kau hadir dalam kehidupanku, aku merasa jiwa ini hidup kembali dan merasakan perasaan yang sama seperti manusia yang lainnya." Reygen mengusap-usap rambut Ayas.


Perasaan bahagia menyelimuti Reygen yang tengah di mabuk cinta.


Kehangatan kasih dan sayang dari Ayas sudah meluluhkan kerasnya hati sang pria berparas sempurna tersebut.


Betapa tidak, Reygen yang sangat membenci setiap wanita di awal masa remajanya kini telah berpaling dari kebencian kepada kecintaan.


Penilaiannya terhadap semua wanita bisa di beli dengan uang kini telah berubah menjadi sangat menghargai wanita.


Malam kian larut namun tak membuat Reygen berhenti untuk terjaga.


Ia meraih ponsel pintarnya dan mulai berselancar di dunia internet. Ia mempelajari tentang sholat pengantin yang diajukan sebagai syarat untuk memiliki Ayas seutuhnya.


"Haduh, susah banget sih bacaannya!" Reygen tampak frustasi ketika ia mengalami kesulitan menghafal bacaan sholat.


Ia menganggap syarat yang di berikan Ayas itu sangat sulit.


"Syarat yang diberikannya sangat sulit. Namun, aku tidak akan menyerah karena aku akan mendapat imbalan yang setimpal. Hm." Reygen tersenyum tipis.


Ia kembali fokus dengan pelajarannya dan sesekali terlihat memejamkan kedua matanya sambil membaca ayat suci dan doa sholat.


"Sepertinya aku harus belajar secara privat sama ustadz, supaya cepat menguasai gerakan dan bacaannya." Reygen mulai sedikit putus asa dengan pelajaran sholat yang ia pelajari secara online.


Menurutnya dengan belajar secara langsung dan praktek akan lebih memudahkannya dalam menghafal gerakan maupun bacaan sholat.


Esok ia akan mendatangi ustadz yang cukup terkenal di sekitaran komplek rumahnya. Ia akan datang langsung ke rumah ustadz yang di maksud.


"Lebih baik sekarang aku tidur dari pada besok gak konsen belajarnya." Reygen kembali menatap Ayas yang mungkin sudah bermimpi indah dalam lelapnya.


***

__ADS_1


Ayam jantan telah membangunkan insan dunia yang masih terlelap dalam mimpi, mentari pagi akan segera menyambut bumi dengan cahaya terangnya.


Ayas yang sudah terjaga sedari tadi, ia telah selesai mengerjakan ritual pagi seperti biasanya.


"Hubby ... bangun sayang, udah pagi." Ayas mencubit gemas pipi Reygen.


"Hm." Reygen hanya melenguh dengan mata yang masih terpejam.


"Ish, susah banget di banguninnya," Ayas mengeraskan cubitannya.


"Aw!" Reygen memegangi pipinya yang di jembel cukup kuat oleh Ayas.


"Hihi, siapa suruh susah banget di banguninnya. Cepetan sebentar lagi waktu subuhnya abis," Ayas mendengus kesal.


"Biarin, nanti kita tambahin lagi biar gak abis." Reygen kembali memeluk guling empuknya.


"Bener-bener, ya." Ayas mencubit pinggang Reygen.


"Aw!" Reygen mengusap pinggangnya yang terasa seperti tersengat lebah, "ampun, ampun ... aku bangun." Reygen segera duduk sambil mengucek ke dua kelopak matanya yang masih terasa berat untuk terbuka.


"Ayo!" Ayas menarik tangan Reygen menuju kamar mandi.


"Hei, manis. apa kamu mau ikut mandi bersamaku? hm!" Reygen menatap Ayas kemudian ia mengedipkan satu matanya.


"Dasar nakal, emangnya kamu anak kecil harus di mandiin?" Ayas membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Reygen yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Mau kemana?" Reygen menarik pergelangan tangan Ayas.


"Wahai Pria tampan, apa kau mau aku mandikan dengan bunga tujuh rupa?" Ayas menatap tajam pada Reygen.


"Tidak masalah dengan bunga tujuh rupa, yang penting aku bisa mandi bersamamu." Reygen mendekatkan wajahnya ke wajah Ayas sampai hidung bangir mereka saling menyentuh.


"Ihh, nakal banget, sih, kamu!" Ayas memukul manja dada Reygen, wajahnya merah merona karena selalu di godai oleh suaminya.


Ia meninggalkan Reygen dan segera berjalan menuju lemari pakaian untuk menyiapkan setelan kerja suaminya.


Tidak berapa lama Reygen pun selesai dengan ritual paginya, ia segera menghampiri Ayas dan mengambil celana formal yang telah di siapkan oleh Ayas.


Setelah selesai memakai celana, Reygen meminta Ayas untuk memasangkan dasi juga jasnya.


Ayas sempat terpesona dengan tubuh Reygen yang proporsional, tubuh yang tinggi dan tegak serta kulit putihnya membalut otot kekar milik Reygen di tambah wajah yang terpahat sempurna membuat ketampanan Reygen menjadi semakin sempurna.

__ADS_1


Pesona pria tampan itu memang luar biasa, beruntung Ayas bisa mendapatkannya, begitupun sebaliknya paras cantik bak bidadari terpatri indah pada wajah Ayas yang juga memiliki aura yang tidak biasa.


Sungguh dua insan yang nyaris tiada cela. Namun, sesempurna apapun pandangan manusia mengenai mahluk ciptaan-Nya pasti ada satu kelemahan yang tersembunyi di baliknya.


__ADS_2