Badboy Insaf

Badboy Insaf
Bab 31 : Gara-gara Malu


__ADS_3

Setelah beberapa menit di dalam ruangan radiologi akhirnya hasil dari pemeriksaan tulang rusuk Ayas pun selesai.


"Cederanya cukup berat jadi bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk bisa kembali normal seperti biasa."


Dokter menjelaskan setelah melihat foto fisiografi hasil pemeriksaan.


Mendengar penjelasan dari dokter membuat Ayas sedikit murung karena ia berpikir tidak bisa cepat-cepat kembali untuk bekerja dan membayar hutang-hutang pada Reygen atas tanah panti dan pembangunannya.


Ke dua bola mata Ayas mulai berkaca-kaca tapi ia masih bisa menyunggingkan senyuman palsunya.


"Tapi masih bisa sembuh total, kan, Dok?"


Ayas bertanya pada dokter.


"Masih, yang penting selama cedera belum pulih sepenuhnya, di sarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat atau mengangkat benda-benda yang berat dan harus rutin minum obatnya."


jelas dokter pada Ayas.


Cedera tulang rusuk Ayas di sebabkan oleh benturan yang sangat keras ketika ia mengalami kecelakaan.


Melihat wajah Ayas yang murung, Reygen pun tidak kuasa menyembunyikan wajah sendunya.


Setelah mereka kembali ke ruangan rawat, Reygen segera mencoba untuk menghibur Ayas.


"Hei, kamu kok nangis?"


Melihat Ayas yang meneteskan air mata pada sudut netranya.


Ayas mencoba menyembunyikan kesedihannya dan segera mengusap air matanya dengan tangan kiri.


"Kalau saya belum sembuh, berarti saya tidak bisa bekerja untuk membayar hutang,"


Ayas menjelaskan kesedihannya pada Reygen.


"Haha, aku kira kamu sedih karena apa?"


Reygen merasa geli dengan pemikiran Ayas.


"Kenapa ketawa? apa ini lucu?"


Ayas mengerucutkan bibirnya.


"Aku kira kamu sedih karena sakit yang lama, ternyata ...." Reygen tersenyum, "tenang saja, yang penting kamu cepet sembuh, dan ingat setelah dokumen selesai aku akan segera membuktikan perkataanku tempo hari."


jelas Reygen pada Ayas.


"M-maksudnya?"


Ayas mengerutkan keningnya.


"Aku akan membuktikan keseriusanku sama kamu,"


Reygen berbisik di dekat telinga Ayas dengan senyum penuh arti, membuat gadis cantik yang ada di hadapannya kegelian karena hembusan napas dari Reygen yang menyentuh daun telinganya dan membuatnya membulatkan ke dua bola mata.


" istirahatlah, aku menunggu di sana,"


sambung Reygen kemudian menunjuk sofa di salah satu sudut ruangan tersebut.

__ADS_1


Reygen tampak menghubungi seseorang melalui ponsel pintarnya.


Sebenarnya saat ini Ayas sedang menahan sesuatu, ia kebelet ingin ke kamar kecil. Ia berusaha untuk turun dari brankar dengan usahanya sendiri. Namun, karena tubuhnya yang lemah dan kepala yang masih terasa sakit, ia tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya dan melorot ke atas lantai.


PRAKK!


Tiang infusan jatuh bersama tubuh Ayas, membuat Reygen segera menoleh ke arah suara.


"Ayas!"


Reygen segera berlari menghampiri Ayas yang kini tengah terduduk lemas di atas lantai dengan tiang infus yang tergeletak di sampingnya.


Wajahnya pucat dan matanya sayup-sayup terbuka dengan paksa. Ia merasa sangat pusing dan lemas.


Reygen segera menggendong Ayas ala bridal style, ia meletakkan tubuh Ayas perlahan-lahan ke atas brankarnya.


Kelopak mata Ayas berkedip secara perlahan mencoba untuk mempertahankan kesadarannya dan menatap pada Reygen.


"Kamu lagi ngapain, sih, sampai jatuh?"


Reygen meraih tiang infus yang masih tergeletak di atas lantai.


Sesaat Ayas tidak menjawab pertanyaan Reygen, Ia mencoba menahan rasa sakit yang mendera tulang rusuknya.


"Ssshhh,"


desah Ayas yang menahan rasa sakit.


"Hei, kamu baik-baik saja kan?"


Menatap dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Mau butuh apa biar aku ambilkan," nadanya lembut.


"Saya ... mau ke kamar kecil," sedikit memelankan suaranya.


Reygen tersenyum mendengar pengakuan dari Ayas.


"Kamu, kan, bisa minta tolong sama aku, Yas," tawar Reygen.


"Bagaimana mungkin minta tolong sama Bapak?" menundukkan kepala.


Reygen mengerti maksud Ayas dan ia hanya tersenyum dan sangat gemas dengan tingkah laku Ayas.


'untuk itu aku ingin segera menghalalkanmu, Yas!' gumam Reygen dalam hati.


Setelah Reygen menekan tombol panggilan darurat beberapa menit kemudian seorang suster segera masuk ke ruangan rawat Ayas.


"Permisi, ada apa, Pak?" tanya suster pada Reygen.


"Minta tolong antar pasien ke kamar mandi, ya, Sus," jawab Reygen.


"Oh, sebentar saya tutup dulu aliran infusnya." Suster menutup aliran pada selang infus. Kemudian ia membantu Ayas untuk berjalan dengan membopongnya masuk ke dalam kamar mandi.


Reygen tidak melepas sedetik pun tatapannya pada Ayas.


"Hati-hati," ucap Reygen.

__ADS_1


"Mbak, bisa sendiri gak?" tanya suster yang sedang di pintu kamar mandi.


"Tolong temani di dalam kamar mandi, saya tidak mau terjadi apa-apa padanya," perintah Reygen pada suster yang kemudian di taati oleh suster tersebut untuk menemani Ayas di dalam kamar mandi.


"Tapi, saya malu," sanggah Ayas.


"Hei, jangan bantah atau aku yang menemanimu di dalam sana," ancam Reygen.


"Huh, dasar," Ayas mendengus kesal.


Setelah selesai dengan hajatnya, suster pun membantu Ayas untuk kembali berbaring di atas tempat tidurnya dan segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Ngomong-ngomong, Bapak gak pergi ke kantor?" merebahkan tubuhnya diatas brankar.


"Gimana aku bisa kerja kalau keadaanmu seperti ini?" Reygen duduk di kursi samping brankar Ayas.


"Apa hubungannya kondisi saya dengan kepergian Bapak ke kantor?" dengan wajah polosnya.


"Dasar bodoh, ya jelas ada hubungannya lah, karena sebentar lagi kau akan menjadi tanggung jawab penuh untukku," tersenyum menang.


Mendengar perkataan Reygen, Ayas hanya menautkan ke dua alisnya dan menggigit-gigit kecil bibirnya sendiri.


tok..tok..


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.


"Masuk!" Reygen berkata dengan nada cukup tinggi.


Seorang pria gempal berumur sekitar 40 tahunan yang berpakaian formal dengan setelan jas warna hitam memasuki ruangan, Reygen beranjak menuju sofa ruang tunggu yang jaraknya sekitar tiga meter dari tempat tidur atau brankar Ayas.


Reygen tampak serius ketika berbicara pada orang tersebut dan ia membaca beberapa berkas yang di bawa oleh orang tersebut yang ada di dalam sebuah map berwarna hijau.


Setelah urusannya selesai Reygen segera kembali menghampiri Ayas dan duduk di kursi dekat brankar Ayas.


"Bersiaplah, besok aku akan membuktikan ucapanku padamu," Dengan sedikit nada yang di tekan.


"Memangnya besok ada apa?" penasaran.


"Aku akan membawa penghulu kemari," dengan nada datar.


Mendengar perkataan Reygen membuatnya membulatkan ke dua bola matanya dengan sempurna, hampir saja loncat dari tempatnya.


"Bapak becanda kan?" tersenyum sinis.


"Besok kamu akan lihat sendiri apakah aku sedang bercanda atau tidak," menatap tajam pada Ayas.


'Tidak... tidak... pasti dia hanya bercanda, sudahlah Yas, jangan terlalu di pikirkan nanti kepalamu bisa pecah!' gumam Ayas dalam hati.


Reygen yang sedang duduk si sofa melihat arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya sebentar lagi waktunya makan siang.


Tok..tok..


CEKLEK


Seorang petugas rumah sakit mengantarkan makanan untuk Ayas.


"Kamu makan dulu, ya," Reygen mengambil piring yang ada di atas nampan.

__ADS_1


Seperti tadi pagi Reygen dengan telaten menyuapi Ayas padahal sebelum bertemu dengan Ayas jangankan menyuapi makanan pada para wanitanya yang sedang sakit, bahkan menganggap mereka ada pun tidak karena Reygen menganggap semua wanita yang ia kencani hanya wanita yang bisa di beli dengan uang.


Yang ada di dalam otak Reygen saat ini hanyalah Ayas, ia tidak memikirkan dirinya sendiri, bahkan ia lupa kalau ia sendiri belum makan.


__ADS_2