
“Sayang!” Blind mulai mengejar Lisa.
“Pak Blind. Tolong aku! Tolong aku, Pak Blind. Tolong panggilkan ambulan untukku,” Sam merengek memegang kaki Blind dan meminta tolong untuk memanggilkan ambulan.
Blind bingung harus berbuat apa, apakah ia harus mengejar istrinya, atau menolong Sam yang sedang kesakitan.
***
Malam harinya, Jack sedang menjadi bintang tamu di sebuah acara stasiun TV yang disiarkan langsung.
Jack ingin membuka semua aib tentang keluarga Sung disana. Ia juga mengatakan bahwa pernah diserang oleh beberapa orang hingga dirinya masuk rumah sakit.
“Tapi, kamu Anggota Dewan. Siapa yang berani menyerangmu? Seseorang yang terkait politik?” tanya pembawa acara.
“Seorang mantan perdana menteri. Kekerasan, pembunuhan, merger ilegal, bisnis korup dan masih banyak lagi. Aku berencana menghukum mereka semua,” jawab Jack pada pembawa acara di stasiun TV.
“Kamu terlalu berterus terang, Pak. Publik dan bahkan aku sendiri bisa berspekulasi tentang siapa yang kamu maksud,” ucp pembawa acara.
“Benar sekali. Aku menuduh mereka, secara terbuka dan langsung. Targetnya adalah empat orang. Aku akan membuat pengecualian hanya untuk salah satu dari mereka.”
“Tersangka pertama yang berani mengakui kesalahannya dan melaporkan yang lainnya. Aku berjanji orang itu akan dibebaskan,” ucap Jack terang-terangan di stasiun TV.
***
Roy sedang berada di rumahnya. ia sedang melihat berita yang disiarkan secara langsung melalui tabletnya.
__ADS_1
Sebelum melihat siaran langsung yang menampilkan Jack, Roy juga melihat berita tentang, Lisa yang akan memasuki kantor jaksa sejak pagi.
Roy sangat bingung harus berbuat apa untuk menebus kesalahannya, yang padahal ia tidak tahu apapun soal kejahatan yang dilakukan keluarga Sung.
*TOK TOK!!
“Sayang, buka pintunya,” Rosa mengetuk pintu ruang kerja Roy dengan membawa makanan.
Roy membuka pintu dan pergi berjalan tanpa menghiraukan istrinya sedikitpun.
“Kamu harus makan….”
“Kamu mau kemana selarut ini? Sayang?” Rosa terlihat sangat menyedihkan karena Roy tak menghiraukannya.
Roy masuk ke dalam mobilnya dan menyetir sendirian untuk menemui Lisa yang masih berada di sebuah kantor firma hukum.
Roy melihat Lisa yang sedang memeriksa kembali berkas-berkas yang akan ia gunakan untuk tuntutan.
Roy pun segera menghampiri Lisa dan…
“Aku akan menanggung hukuman dengan adil terkait IKIP. Mari kita akhiri perang yang menghancurkan ini,”
“Kenapa?” tanya Lisa singkat.
“Ini terlalu menyakitkan bagiku,” jawab Roy.
__ADS_1
“Apa yang menyakitkan?”
“Melihat cintaku kepadamu berubah menjadi bahan lelucon. Menyerangmu untuk bertahan hidup, itu terlalu menyakitkan dan mengerikan,” jawab Roy.
Roy pun berjalan lebih dekat lagi tepat disamping Lisa yang duduk di kursi, untuk berlutut di hadapan Lisa.
“Kumohon. Mari kita akhiri ini sekarang,” ucap Roy yang memohon.
Begitupun dengan Lisa, ia berdiri dan ikut berlutut di depan Roy.
“Apa istimewanya berlutut? Sudah. Aku juga bisa berlutut di depanmu. Kita sama-sama berlutut. Ini tidak lagi bermakna.”
Roy tak bisa berkata apapun saat Lisa juga ikut berlutut.
“Bagaimana bisa disebut kompensasi, jika pelaku berbuat semaunya? Permintaan maaf yang benar adalah menuruti keinginan korban,” lanjut Lisa.
“Apa keinginanmu?” tanya Roy.
“Matilah! Ibu dan Ayah kandungku, serta Bu Tin telah meninggal. Kamu. Sung, Rosa, dan Sam. Kita akan impas jika kalian juga mati. Aku mau kalian berempat mati. Jika ada yang menolak mati, bunuh mereka semua, lalu bunuh dirimu sendiri. Maka, ini akan berakhir.”
Roy sangat terkejut dan kaget saat mendengar perkataan Lisa yang sangat mengerikan itu.
Lisa pun berdiri dan mengatakan…
“Jika tidak mau melakukan itu, jangan datang lagi kemari.”
__ADS_1
Lisa pergi meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Roy yang masih berlutut.
Lisa keluar dari ruangan itu dan menangis sejadi-jadinya di depan ruangan lain.