BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Suhu AC


__ADS_3

Sekian lama mereka membicarakan tentang saham perusahaan, kini mereka telah selesai dan menuju ke kamar untuk beristirahat bersama.


Saat di kamar, Lisa membuka kemeja Roy dan melepas dari badannya. Lisa melihat bagian tubuh belakang Roy yang dipenuhi bekas luka semasa kecilnya.


Lisa pun memeluk Roy dari belakang dan mencium pundak Roy. Sepertinya, Lisa sudah mulai benar-benar jatuh cinta kepada Roy.


Mereka sama-sama memiliki masa kecil yang kelam dan dipertemukan untuk saling menyembuhkan satu dengan lain.


Mereka tidur bersama di malam itu.


***


Di rumah Rosa, terlihat Rosa bersama asistennya yang sedang berusaha menghubungi Roy.


Akan tetapi, usaha mereka hanyalah sia-sia, karena Roy meninggalkan ponselnya di kantor saat ia berangkat menemui Lisa.


“Dia tidak menjawab telepon dariku. Kamu yakin dia tidak berada di kantornya?” bentak Rosa pada asistennya.


Asistennya hanya diam tak berani menjawab.


“Dia mengatakan ada urusan pekerjaan. Kemana dia pergi? Seharusnya dia ada di kantornya saat ini. Sial,” umpat Rosa.

__ADS_1


Asistennya pun berjalan mendekati Rosa dan mengatakan…


“Aku mendapat kabar dari asisten Pimpinan, Bu. Dia mengatakan bahwa Pimpinan tidak akan pulang hari ini. Ada hal mendesak di perusahaan, dan dia harus menyelesaikannya,”


Seketika mendengar ucapan asistennya, Rosa teringat kembali perkataan Lisa, yang mengatakan bahwa suaminya telah berselingkuh darinya.


Badan Rosa lemas hingga terjatuh duduk di lantai.


“Apakah kamu baik-baik saja, Bu?” tanya asisten yang panik.


Badan Rosa pun mulai menggigil kedinginan karena mengingat ucapan Lisa. Rosa mengamuk pada asisten dan pembantunya untuk menaikkan suhu AC.


“Aku kedinginan. Kamu mengendalikan suhu rumah?” tanya Rosa yang masih menggigil kedinginan.


Asisten dan para pembantunya pun mulai menaikkan suhu AC dan membawa pemanas ruangan sekaligus


Begitupun di rumah Lisa, Terlihat Blind yang sedang menelpon Lisa dan menanyakan kapan Lisa akan pulang.


“Kamu tidak bisa pulang malam ini, Sayang?” tannya Blind di telepon.


“Aku akan menjemputmu meski sudah larut. Pulanglah bersamaku. Aku tidak mau kamu bermalam di luar,” lanjut Blind.

__ADS_1


“Dia tidak boleh bermalam di luar. Berikan padaku! Aku mau bicara dengannya,” saut Tin yang mengambil ponsel Blind.


“Pulang sekarang!” bentak Tin.


Lisa pun langsung mematikan teleponnya saat mendengar Tin yang berbicara di telepon.


Keesokan harinya, di rumah pinggiran kota milik Lisa. Terlihat Roy yang baru bangun tidur dan langsung mencari cara dan membaca berkas-berkas untuk mendapatkan seluruh saham perusahaannya..


Lisa yang baru bangun setelah Roy, membuatkan kopi dan sarapan untuk Roy yang sedang bekerja di ruang keluarga.


Kemudian, Lisa ikut duduk bersama Roy dan membantunya untuk bekerja.


Hingga malam tiba, mereka masih sibuk dengan urusan itu, sesekali mereka mengambil anggur dan menyalakan perapian tradisional untuk menghangatkan ruangan mereka di sela-sela pekerjaan.


Dua malam berlalu, Lisa dan Roy belum kembali ke rumahnya.


Saat mereka akan beranjak istirahat untuk tidur, Blind kembali menelpon Lisa.


“Kamu tidak bisa pulang lagi malam ini? Ini tidak benar, Sayang. Siapa temanmu yang punya masalah itu?” Blind yang terus menanyakan dari telepon.


“Aku akan kembali esok hari,” jawab Lisa yang langsung menutup panggilan.

__ADS_1


Begitupun Rosa yang tak kunjung mendapatkan kabar dari suaminya. Rosa hanya duduk dan merencanakan sesuatu untuk esok hari.


__ADS_2