BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Berbagi Perasaan


__ADS_3

Sesampainya Lisa dan Blind di Villa Roy, mereka masuk ke dalam Villa itu. Villa itu sangat luas, jika seseorang masuk melewati pintu gerbang utama. Maka, ia harus menempuh jarak sekitar 1 Km untuk sampai ke depan halaman Villa itu.


Di depan halaman Villa itu pun juga sangat luas. KIra-kira memerlukan 1000 mobil yang parkir untuk memenuhi halaman depan Villa Roy.


Lisa dan Blind pun turun dari mobil, yang kemudian disambut dengan beberapa pelayan untuk masuk ke dalam Villa.


“Wah, benar apa kata orang-orang. Villa Pimpinan Roy seperti istana. Aku tidak percaya ada Villa semewah dan seluas ini di tengah-tengah Kota Malang,” ucap Blind kagum.


Lisa hanya terdiam saat mendengar ocehan suaminya itu.


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam Villa itu. Disana telah terlihat beberapa tamu undangan yang telah hadir dalam acara itu. Beberapa orang menikmati minuman dan beberapa yang bersenda gurau dengan lainnya.


Saat Lisa dan Blind telah sampai di depan panggung, terlihat Roy dan Rosa yang sedang mengobrol bersama duta luar negeri dan beberapa tamu penting lainnya. Rosa pun menyapa Lisa yang sedang berjalan ke arahnya.


“Kamu sudah datang, Lisa. Halo, Pak Blind,” sapa Rosa.


“Terima kasih banyak sudah mengundang kami, Pak, Bu,” ucap Blind sambil menundukkan kepalanya.


“Perkenalkan. Dia Lisa, teman dekatku,” ucap Rosa yang memperkenalkan Lisa pada kliennya.

__ADS_1


“Kamu punya teman? Kukira ratu sepertimu tidak akan pernah punya teman,” ucap kliennya sambil tertawa.


“Tapi memang, temanmu sangat cantik sekali. hahahaha,” celetuk kliennya lagi.


“Pembicaraan kalian terlihat serius, silahkan melanjutkannya. Kami akan berkeliling melihat-lihat dahulu,” ucap Lisa yang menggandeng Blind.


“Tentu Lisa. Kamu boleh berkeliling melihat-lihat dan menikmati makanan terlebih dahulu,” ucap Rosa.


Lisa pun tersenyum dan pergi bersama Blind. Saat Lisa sudah melangkah pergi, sesekali ia menoleh kepada Roy dan menundukkan kepala untuknya. Begitupun Roy yang melihat Lisa dari kejauhan.


Saat Lisa dan Blind telah selesai berkeliling untuk melihat-lihat suasana sekitar Villa, ia kembali bergabung dengan Roy dan Rosa yang sedang menikmati anggur bersama kliennya.


“Sepertinya, kamu harus menyelamatkan suatu negara di kehidupanmu sebelumnya Pak,” jawab Blind sambil tertawa.


Mereka pun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Blind. Begitupun dengan Rosa yang juga ikut tertawa.


Lisa melihat Roy dari kejauhan. Sepertinya Roy sedang menerima telepon entah dari siapa. Lisa pun berniat untuk menemui dan berbicara dengan Roy. Lisa meninggalkan Blind, Rosa dan kliennya dengan alasan pergi ke toilet.


Sesudah Roy menutup teleponnya, Lisa datang dari belakang Roy.

__ADS_1


“Pimpinan Roy, aku ingin berterima kasih padamu,” ucap Lisa.


“Untuk apa?” jawab Roy singkat.


“Kamu cukup mempercayaiku untuk membuat para ibu berbaikan atas apa yang sudah terjadi diantara mereka. Dan aku berterima kasih karena kamu telah mengundangku ke acara ini,” jawab Lisa.


“Ini Alunan Piazzola, aku sendiri yang meng-covernya,” ucap Lisa sambil memberikan sebuah kotak berisikan kartu memori.


“Mereka yang menyukai Alunan Piazzolla terbagi menjadi dua. Mereka yang suka dengan alunannya dan mereka yang butuh alunannya,” lanjut Lisa.


“Menurutmu siapa yang butuh alunannya?” tanya Roy.


“Menurutku orang-orang yang membutuhkan pemulihan, sangat butuh Alunan Piazzolla,” jawab Lisa.


“Inti dari Alunan Piazzolla adalah berbagi perasaan, Pak. Kamu sembuh melalui pasanganmu,” ucap Lisa yang terus berusaha menarik perhatian Roy.


“Kamu ingat saat kita berdansa bersama? Aku merasakan sesuatu yang tak bisa kujelaskan,” ucap Lisa.


Roy pun masih terdiam sedari tadi saat mendengarkan ucapan Lisa.

__ADS_1


__ADS_2