BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Memenuhi Halaman Kantor Jaksa


__ADS_3

Lisa menghela nafas panjang.


“Apakah kamu memimpikan masa depan, setelah semua ini berakhir?” tanya Jack.


“Aku tidak pernah memikirkan itu,”


“Ini akan segera berakhir. Kamu harus mulai memikirkannya,” ucap Jack.


“Masa depan? Ada apa di masa depan?” ucap Lisa dengan melamun.


Lisa kembali menghela nafas dan berhenti melamun.


“Bagaimana denganmu sendiri?” tanya balik Lisa.


“Aku ingin memasakkan makanan yang enak di rumah untukmu. Kehidupan sehari-hari, layaknya keluarga kecil yang bahagia, itu yang aku impikan,” jawab Jack.


Lisa hanya tersenyum saat mendengar ucapan Jack.


*TING!!!


Muncul notif pesan dari ponsel Lisa.


Pesan itu dari pengacaranya. Pengacaranya mengatakan bahwa, Roy akan langsung hadir di persidangan kedua yang akan dilaksanakan esok hari.


Lisa kaget dan tak menyangka, jika Roy akan langsung hadir dalam persidangan yang tak biasanya ia hadir, saat orang biasa yang memberi tuntutan.


Lisa menyampaikan kabar itu kepada Jack, lalu bergegas pulang untuk beristirahat.

__ADS_1


“Pimpinan Roy akan menghadiri sidang esok hari. Aku kembali ke rumah dan beristirahat untuk mempersiapkan diri,” ucap Lisa.


“Baiklah. Sampai ketemu lagi, Lia,” balas Jack yang juga ikut pergi dari sana.


***


Tepat keesokan harinya, para reporter dan wartawan berkumpul memenuhi halaman kantor jaksa.


Mereka siap untuk menyerbu, dan memberi pertanyaan saat Roy dan Lisa datang.


Beberapa saat kemudian, Roy datang dengan mobilnya. Sopirnya turun dan membukakan pintu untuknya.


Begitupun dengan pengawalnya, langsung mengamankan Roy dari para wartawan dan memberi jalan lewat untuknya bersama satpam kejaksaan.


Saat para wartawan dan reporter mengikuti Roy yang berjalan masuk, terlihat Lisa yang baru datang dan keluar dari mobilnya.


“Apa yang kamu rencanakan, Pak?”


“Bisakah beritahu kami?”


“Benarkah kamu kekasih, Bu Lisa?”


“Apakah kamu berpacaran dengannya?”


“Bagaimana menurutmu, Bu Lisa?”


“Tolong jawab pertanyaan kami!”

__ADS_1


Para reporter dan wartawan mulai mengerumuni Roy dan Lisa yang akan masuk kedalam ruang sidang.


Lisa dan Roy terus berjalan untuk masuk ke ruang sidang, tanpa menanggapi pertanyaan para reporter yang berkumpul disana.


***


Sam telah berada di rumah sakit untuk mengobati kakinya yang terluka.


Sam terbaring di kasur dengan kakinya yang telah divonis patah tulang oleh dokter.


“Ini kasus patah tulang kompleks yang parah. Jadi, syaraf dan ototnya cidera. Saat kami melakukan operasi lagi, saraf peronealnya lumpuh, dan kemungkinan besar, cideranya permanen,” jelas Sang Dokter.


“Permanen?” ucap Sung yang kaget.


Dokter hanya bisa menunduk, karena telah berusaha keras untuk mengoperasi, lalu pergi meninggalkan kamar Sam.


“Astaga, Tuan!! Kakiku!! Apa yang harus kulakukan dengan kakiku sekarang, Tuan? Aku tidak akan bisa berjalan lurus lagi! Kenapa aku harus menghadapi cedera seperti ini?” Sam berteriak dan mengeluh pada Sung.


“Mari kita cari cara. Tenanglah, Sam,” ucap Sung yang juga bingung harus berbuat apa.


“Bagaimana aku bisa tenang? Kakiku yang sebelumnya sehat, kini telah cacat!!! Aku tidak bisa hidup dengan ketidak adilan seperti ini! Bisakah kamu juga mematahkan kaki, Lia? Kumohon, Tuan!”


“Ada masalah yang lebih besar, Tuan. Lia menyebutkan nama kalian dalam tuduhan pembunuhan di pengadilan. Namamu, nama istrimu, dan juga nama Sam,” ucap John yang baru masuk ke ruangan Sam dirawat.


“Astaga. Dasar gila! Kamu dengar itu, Tuan?” saut Sam yang semakin emosi.


“Selain itu, Pimpinan Roy juga menghadiri pengadilan,” lanjut John.

__ADS_1


__ADS_2