BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Proposal Bisnis Lisa


__ADS_3

Lisa mengeluarkan stop map dan memberikannya pada Rosa.


“Ini proposal bisnis yang kubuat. Tunjukan ini pada Ayahmu, Kak. Sibukkan dirimu dengan pekerjaan dan semua akan kembali seperti semula. Beritahu pada Nita dan Sinta, betapa menakutkannya dirimu,” ucap Lisa yang seolah-olah meyakinkan.


“Kamu punya ide untuk itu?” tanya Rosa.


“Penampilan kita sebentar lagi, kamu bisa menunjukkan pada mereka saat itu. Istirahatlah dan tenangkan dirimu untuk saat ini,” ucap Lisa yang menarik slimut untuk Rosa.


Beberapa saat kemudian, Rosa pun tertidur pulas. Lisa yang masih berada di lantai dua menuruni tangga dan menuju ruang kerja Roy.


“Istrimu sudah tertidur,” ucap Lisa pada Roy saat sudah berada didalam ruang kerjanya.


Roy hanya diam dan menggenggam tangan Lisa.


“Istirahatlah, aku akan pulang,” ucap Lisa yang berusaha melepaskan genggaman Roy.


Roy menahan Lisa agar tidak pulang meninggalkannya. Roy mengajak Lisa untuk pergi ke alamat rumah di pinggiran kota yang mereka gunakan untuk bermalam tepo hari.


Sesampainya mereka disana, Roy mengobati luka di pipi Lisa yang terkena serpihan kaca.


“Aku menambahkan obat tidur pada minuman istrimu, tapi bisa saja dia terbangun. Kamu tidak boleh melakukan ini,” ucap Lisa.


“Kamulah yang membuatku melakukan ini. Semoga lukamu tidak membekas,” ucap Roy yang selesai mengobati bekas luka.


Saat malam tiba, Lisa memasak untuk makan malam Roy yang masih berada disana.

__ADS_1


“Aku baru menyadari, bahwa kebahagian sejati. Ada pada hal-hal sederhana,” ucap Roy.


Setelah mereka selesai makan, Roy berkeliling setiap ruangan Rumah. Roy melihat piano di pojok ruangan, dan berjalan ke arah piano itu.


Roy melihat dan membuka buku berisi bermacam-macam instrumen di atas piano itu.


“Kukira kamu hanya menyukai alunan Piazzolla,” ucap Roy pada Lisa.


“Memang hanya itu yang aku suka, selain itu hanya jadi pelengkap,” ucap Lisa.


Saat Lisa bergegas membereskan piring dan sisa makanan yang masih berada diatas meja, ia mendengarkan Roy memainkan alunan Piazzolla menggunakan piano Lisa.


Lisa mengurungkan niatnya untuk membereskan piring dan menuju ke arah Roy di pojok ruangan yang sedang memainkan pianonya.


Lisa membuka jas blazer yang sedang dipakainya dan kini hanya mengenakan dress tanktop.


Lisa menari dan memutari setiap sudut ruangan, yang semakin membuat Roy semakin tertarik pada Lisa.


Saat lagu yang dibawakan sudah hampir selesai, Lisa duduk di pangkuan Roy dan merangkulnya.


“Ini sebabnya aku ragu, kalau aku bisa jatuh cinta,” ucap Roy pada Lisa.


Lisa memeluk Roy saat mendengarkan ucapan Roy.


Karena waktu sudah mulai malam, dan Lisa harus pulang malam ini juga, Roy akan mengantar Lisa ke rumahnya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Lisa, Rumahnya terlihat sangat sepi. Sepertinya semua orang di rumahnya telah tertidur.


Roy pun pamit dan segera pulang dari sana.


Saat Lisa sudah berada di dalam rumahnya, ia menemui Tin untuk membicarakan rencananya.


“Dari semua data suara Sung yang telah berhasil ku analisa, setidaknya ada 20 yang bisa sah secara hukum. Termasuk yang ada di ponsel Pimpinan Roy, itu bisa membuktikan bahwa mereka mengakuisisi secara ilegal,” ucap Lisa.


“Bagus, Lia” ucap Tin.


“Mari membawa kasus ini ke firma hukum, Bu Tin,”


“Untuk melakukan itu, kita harus siap membuka identitas asli kita. Kita akan sulit mengumpulkan bukti, jadi, mengajukan gugatan adalah menjadi langkah terakhir kita,” saran Tin


“Aku ingin Roy dan Sung diadili secepatnya,” ucap Lisa.


“Aku setuju denganmu soal itu, tapi kita harus membuat rencana untuk menemukan waktu terbaik, saat kita mengakses brankas milik Pimpinan Roy. Dengan begitu, kita bisa membawa ini kepada publik,” lanjut Tin.


“Tai tetap saja. Aku ingin kita mempercepatnya,” ucap Lisa yang kekeh untuk mempercepat.


Mereka pun saling menatap karena perbedaan rencana dan pendapat masing-masing.


“Kamu merasa gelisah saat berada di dekat Pimpinan Roy?” tanya Tin yang curiga.


Lisa pun diam sejenak dan ragu untuk menjawabnya.

__ADS_1


“Tentu saja aku gelisah, sangat gelisah tidur dengan musuhmu sendiri. Maka itu, aku ingin mempercepatnya,” jawab Lisa yang memalingkan muka.


__ADS_2