BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Memutuskan Hubungan


__ADS_3

Keesokan harinya, terlihat Nisa yang sudah berseragam dan siap untuk berangkat ke sekolah.


Blind pun yang akan mengantar Nisa ke sekolah, karena Lisa masih belum pulang. Tin juga ikut mengantar Ayu sampai halaman rumah.


“Nisa, ibu mungkin akan segera pulang. Mari kita tunggu sebentar lagi ya, Nak,” ucap Blind.


“Baiklah, Ayah,” jawab Ayu sambil menganggukkan kepalanya.


Saat mereka sudah dihalaman rumah dan akan berangkat pergi, Lisa datang dengan mobilnya, lalu turun dari sana.


“Itu, Ibu,” ucap Nisa yang langsung berlari ke arah ibunya dan memeluknya


“Aku merindukanmu, Ibu,” ucap Nisa.


“Ibu juga merindukanmu, Nak. Kamu mau berangkat ke TK? Ibu akan mengantarmu ke sekolah,” ucap Lisa yang membenarkan bando Nisa.


“Hari ini Ayah akan mengantarku, Ibu,” jawab Nisa.


“Istirahatlah,” ucap Blind yang berdiri di belakang Nisa.


“Nisa, datanglah ke sanggar ibu sepulang sekolah. Ibu akan memberikanmu sebuah hadiah,” ucap Lisa.

__ADS_1


“Baiklah, Ibu. Aku tidak sabar menunggu nanti,” ucap Nisa.


“Ayo, Nisa. Sebelum kamu terlambat,” ucap Blind yang memanggil Nisa.


“Sampai jumpa, Ibu, Nenek,” ucap Nisa yang melambaikan tangan dan masuk ke mobil Blind.


Setelah Blind pergi dengan Nisa, kini tinggal Lisa dan Tiin.


Lisa berjalan ke arah Tin yang berdiri di depan pagar.


“Apa yang telah kamu lakukan? Aku mempercayaimu untuk memutuskan hubungan dengan Pimpinan Roy.”


Aku juga sudah memberitahu firma hukum tentang identitas asliku. Bagaimana jika kita ketahuan sebelum mengungkapkan semuanya?” ucap Tin yang kesal dengan perbuatan Lisa.


Tin sangat kaget ketika mendengar itu.Tin menyuruh Lisa masuk ke dalam untuk melanjutkan perbincangan.


Sesampainya mereka di dalam rumah, mereka menuju ruang rahasia untuk melanjutkan perbincangannya.


“Rosa, si iblis sialan itu. Kenapa ia harus bertindak sejauh itu? Ibumu sudah kehilangan semua yang dia miliki. ****** sialan itu akan menanggung akibatnya. Kita harus membuatnya dihukum,” ucap Tin yang kesal.


Lisa pun tersenyum pada Tin.

__ADS_1


“Hhhh. Tidak semudah yang kita pikirkan. Hukum pun memihak mereka. Mengamati mereka dari dekat membuatku menyadarinya,” ucap Lisa yang berdiri dan menuju tembok yang terpampang foto Rosa.


“Kematian harus dibayar dengan kematian,” ucap Lisa sambil menancapkan jarum di foto Rosa.


“Lia. Kamu sudah berjanji untuk tidak menjadi monster. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Tin yang masih duduk dan takut Lisa akan berbuat sesuatu diluar kendali.


“Aku akan membuatnya bunuh diri, dengan caraku. Akan kulakukan itu, tanpa ampun. Akan kubuat dia memohon untuk mati daripada hidup dengan kesengsaraan,” ucap Lisa yang sudah bertekad bulat.


*DING DONG


Suara bel rumah Lisa berbunyi, Tin langsung melihat layar untuk memeriksa siapa yang datang.


“Rosa dan asistennya datang kemari,” ucap Tin.


Lisa bersiap untuk keluar dan menemui Rosa.


“Tetaplah disini, Bu Tin. Aku akan keluar untuk menemuinya,” ucap Lisa.


Lisa mempersilahkan Rosa masuk ke rumahnya untuk duduk dan mengobrol..


“Setelah kekacauan yang kamu buat, kamu tidak datang ke TK lagi?” tanya Rosa yang langsung duduk di sofa.

__ADS_1


“Aku sangat menyesalinya, Kak. Maafkan aku yang tiba-tiba mengatakan itu padamu,” jawab Lisa yang masih berdiri.


“Suamiku belum pulang sejak pertunjukan itu. Firasatku sangat buruk tentang ini,” curhat Rosa tentang suaminya.


__ADS_2