
Lisa sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Anya.
Setelah beberapa saat Lisa menjenguknya, Lisa membenarkan selimut Anya dan meninggalkannya karena masih tak sadarkan diri.
Ia pun keluar dari ruang rawat Anya dan menemui Jack untuk mengobrol.
Ternyata, Jack lah yang membawa Anya ke rumah sakit. Malam itu Lisa meminta pertolongan kepada Jack untuk menolong Anya yang ditinggalkan Rosa dan anak buah Sam di gedung.
Lisa mengetahui tempat Anya karena Lisa menaruh sebuah pelacak di HP Anya sebelumnya.
“Kudengar dia harus dirawat disini beberapa hari lagi. Jika bukan karena kamu, dia bisa saja mati,” ucap Lisa pada Jack.
Jack hanya tersenyum pada Lisa.
“Sudah seharusnya aku membantumu,Lia.”
“Omong-omong, aku mau bertanya sesuatu padamu. Disaat kamu tiba-tiba menghilang, apakah itu karena kamu merencanakan sesuatu atau sedang menunggu sesuatu yang lain?” tanya Jack.
“Titik didih,” jawab Lisa.
__ADS_1
“Suhu saat air mendidih?” tanya Jack.
“Air tidak tiba-tiba mendidih langsung. Sepuluh derajat, tiga puluh derajat, tujuh puluh derajat, hingga mendidih. Air selalu melewati semua nilai itu dan mendidih saat mencapai batas. Lalu, akhirnya menguap. Berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Begitupun manusia. Saat mencapai titik didih, akal sehat mereka akan menguap dan mereka melakukan hal yang tidak seharusnya,” ucap Lisa dengan bahasa yang dikiaskan.
“Mereka melakukan hal yang seharusnya tidak melewati titik didih,” sambung Jack yang paham dengan kata kiasan Lisa.
***
Malamnya, Roy bersama timnya merayakan keberhasilan atas ‘IP PAY’ yang telah berhasil terdaftar di bursa efek Amerika.
Mereka menyewa gedung terbesar di kota malang dan merayakannya di sana.
Disela-sela pesta itu, Roy kembali mengingat ucapan Lisa bahwa ia ingin mengakhiri hubungannya bersama Roy.
Roy pun bergegas pergi ke luar untuk menemui Lisa di rumahnya. Saat ia akan keluar, asistennya pun bertanya.
“Kamu mau pergi kemana, Pak? Acara ini belum selesai.”
“Aku akan pergi sebentar ke suatu tempat,” jawab Roy yang langsung pergi dari sana.
__ADS_1
Roy menuju mobilnya yang terparkir di halaman gedung lalu bergegas menuju rumah Lisa.
Lima belas menit berlalu, Roy pun telah sampai ke depan rumah Lisa. Ia turun dari mobilnya dan menelpon Lisa.
“Aku sedang berada di halaman rumahmu. Aku sangat amat merindukanmu. Lama-lama aku bisa gila. Mari bertemu denganku sebentar saja,” ucap Roy pada Lisa yang mengangkat telepon darinya.
“Aku tidak bisa melakukannya lagi, Pak. Pikirkanlah istrimu,” jawab Lisa.
“Aku tahu itu. Namun, hanya kamu yang kupikirkan di hari seperti ini. Izinkan aku menemuimu walau sebentar. Kumohon padamu, Lisa,” Roy yang terus meminta untuk bertemu.
“Hubungan kita sudah berakhir, Pak,” jawab Lisa yang langsung memutus saluran telepon.
Roy hanya diam dan masih berdiri melihat rumah Lisa di halamannya. Saat Roy akan masuk ke mobilnya dan pergi dari sana, Tin datang menggunakan mobilnya.
Tin turun dari mobilnya lalu menghampiri Roy yang masih berdiri di seberang jalan.
“Pimpinan Roy,” sapa Tin.
Roy pun menundukkan kepalanya untuk menyapa balik.
__ADS_1
“Berani sekali kamu datang kesini. Menantuku mengetahui tentang hubungan kamu dengan Lisa. Jangan membuat masalah disini. Jika kamu mengabaikan ucapanku, kamu akan menyesalinya,” Tin memperingatkan.