BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Tetesan Air Mata Lisa


__ADS_3

“Kamu tidak perlu menjawabku. Aku hanya ingin kamu tahu dan merasa terbebani. Ketahuilah bahwa ada orang yang mencintaimu sedalam ini dan merasa terbebani lah untuk bertahan hidup.”


“Aku tidak akan lagi menjadi bayanganmu. Aku akan berusaha semampuku untuk membantumu balas dendam agar kamu tetap aman dan mengakhirinya secepat mungkin.”


“Saat semuanya sudah berakhir, berikan jawabanmu tentang perasaanku kepadamu. Kamu tidak boleh terluka sebelum menjawabnya.”


Lisa mulai meneteskan air matanya dan langsung bergegas pamit saat itu juga.


“Baiklah, Pak. Sampai jumpa lagi,” ucap Lisa yang kemudian keluar dari apartemen.


***


Keesokan harinya, keluarga Lisa sedang bersama untuk menyantap sarapan pagi di ruang makan.


“Aku sudah selesai makan, Ayah, Ibu, Nenek. Aku akan mengambil ranselku dahulu di kamar,” ucap Nisa yang pergi meninggalkan meja makan.


Saat Nisa sudah pergi, Blind memulai percakapan antara mereka.


“Aku akan menemui pengacara senior hari ini. Untuk membahas perbuatan Pimpinan Roy.”


“Kamu akan menemui pengacara?” tanya Tin.


Blind menganggukkan kepalanya dan..


“Dia menggunakan wewenangnya untuk mengancam kita. Dia harus menanggung akibatnya. Aku tidak akan membiarkannya merusak keluargaku,”


*KRIIIING!!!!

__ADS_1


Ponsel Blind pun berdering, lalu ia pun mengangkat telepon itu.


“Halo. Bu Rosa? Ya, Bu. Begitu rupanya, Baiklah. Ya, tentu saja. Sampai jumpa di kantor.” ucap Blind di telepon.


Lisa kaget dan berhenti sejenak dari makanannya. Lisa berpikir kenapa Rosa menelpon suaminya itu.


“Bu Rosa ingin bertemu denganku di kantornya, aku akan segera bergegas menemuinya,” ucap Blind yang langsung meletakkan sendok dan garpu dan beranjak pergi dari rumah.


Setelah selesai menyantap sarapan, Lisa membereskan semua piring yang berada di meja dengan Tin yang membantunya.


Lalu, ia mencuci semua piring dan menatanya kembali di rak piring.


Saat usai mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, Lisa kembali ke kamarnya untuk bersantai.


*KRIIINGGG


“Halo,” Lisa mengangkat telepon.


“Aku sangat merindukanmu. Saat kita bertemu di TK, aku tidak bisa menunjukkan bahwa aku senang bertemu denganmu. Kuharap kamu mengerti itu,” ucap Roy.


“Baiklah,” jawab Lisa singkat.


“Mari segera bertemu. Bukan di tempat biasa kita bertemu, tapi di tempat lain.”


“Dimana itu?” tanya Lisa.


“Ada hotel di sekitar tempatku rapat. Tidak akan ada yang curiga, meski aku dan kamu terlihat memasuki hotel.”

__ADS_1


“Kamu ingin bertemu denganku di hotel?” tanya Lisa yang kembali mengingat perkataan Rosa bahwa Roy hanya sekedar memuaskan hawa nafsunya.


“Ya. Aku sangat merindukanmu,” jawab Roy.


“Kamu sedang mabuk?”


“Sedikit. Itu sebabnya aku semakin merindukanmu,”


“Baiklah. Sampai jumpa dan hati-hati di jalan. Nanti kita bicara lagi.” ucap Lisa yang langsung mematikan telepon.


***


Malam hari pun tiba. Terlihat Rosa yang baru datang ke rumah Sung untuk mengunjungi rumah ayahnya.


Saat Rosa masuk ke dalam rumah, Sung langsung menjambak rambut Rosa dan mendorongnya ke lantai.


“Dasar wanita ****** bodoh!” bentak Sung yang menjambak Rosa lalu menariknya hingga Rosa tersungkur ke lantai.


“Aduuuh,” ucap Rosa yang kesakitan dan terduduk di lantai.


“Kamu hanya bisa makan dan merias wajahmu. Mengendalikan suamimu saja kamu tidak becus. Dasar wanita tidak berguna!”


*BRAAAK


ucap Sung yang kembali menendang Rosa hingga menatap sebuah meja.


Rosa pun semakin sesak dan sulit untuk bernafas saat Sung menendangnya.

__ADS_1


__ADS_2