
Lisa tertawa ketika melihat bekas luka di tangannya akibat kuku jari Blind.
“Hahahahaha. Kamu mengatakan rela mati untukku. Seperti inikah kecemburuanmu?” tawa Lisa yang melihat tangannya memerah akibat kuku jari Blind..
“Ibu melihatnya bukan? Cinta adalah hal yang paling bodoh. Meski benar aku menyukai Pimpinan, tapi apa yang ibu takutkan? Cinta itu bodoh seperti yang ibu lihat,” ucap Lisa pada Tin.
“Apa yang kamu bicarakan sekarang?” tanya Blind dengan emosi.
“Dari temanku yang mempunyai masalah, dan beberapa malam sebelumnya. Aku selalu bersama Pimpinan,” ucap Lisa yang sudah mulai terang-terangan pada Blind.
“Dia membantu Bu Rosa belakangan ini, Blind. Tidak usah kamu anggap serius ucapannya. Itu tidak benar. Biarkan saja,” ucap Tin yang heran mendengar apa yang diucapkan oleh Lisa.
“Itu benar. Aku melakukan semua itu dengan Pimpinan,” timpal Lisa yang langsung pergi ke kamarnya.
Dikamarnya, Lisa langsung bergegas mengambil koper dan memasukkan beberapa baju ke dalam kopernya.
Blind menyusul Lisa ke dalam kamar dan melihatnya sedang memasukkan beberapa baju ke dalam kopernya.
__ADS_1
“Apalagi yang akan kamu lakukan, Sayang? Kamu mau pergi kemana lagi?” tanya Blind yang sudah sangat putus asa dengan perilaku Lisa kepadanya.
“Kamu juga punya rahasia yang tidak kamu ceritakan kepadaku, tentang paket itu. Jadi, apa gunanya aku memberitahumu? Kita berdua sudah saling menyimpan rahasia satu sama lain. Bagaimana kita bisa melanjutkan hubungan kita? Aku akan pergi dari sini untuk sementara,” ucap Lisa yang masih sibuk membereskan baju-bajunya.
“Tidak, Sayang. Jangan pergi. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sini!” ucap Blind yang langsung menutup koper Lisa.
Blind langsung berlutut di depan Lisa untuk memohon, agar Lisa tidak pergi dari sini.
“Kumohon, Sayang. Jangan pergi dari sini. Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku. Tolong jangan pergi. Kamu membuatku stres, jika pergi dari sini,” ucap Blind yang berlutut dan memohon pada Lisa.
Lisa tetap tidak menghiraukan suaminya meski sudah berlutut. Lisa pun mengambil kembali kopernya dan pergi dari rumah.
“Kamu tidak boleh melakukan ini. Kamu mau pergi kemana?” tanya Tin.
“Kamu tahu aku tidak punya tempat tujuan. Kamu pasti juga sudah tahu. Alih-alih kamu menghentikanku, bergabunglah denganku agar kita berdua selamat,” jawab Lisa yang lalu keluar dari rumah meninggalkan Tin dan suaminya.
Ternyata, Lisa pergi menuju sanggar baletnya untuk sementara. Disana terdapat kamar yang layak untuk ditempati.
__ADS_1
Lisa menghadap komputernya untuk melihat dari sana apa yang dilakukan oleh suaminya dan Tin di rumah.
Lisa sengaja memasang sisi TV di rumahnya tanpa sepengetahuan Tin dan Blind untuk mengawasi mereka.
Blind terlihat sedang menangis sendirian di kamarnya. Begitupun Tin, terlihat ia sedang mondar-mandir bingung untuk merencanakan sesuatu.
Sebenarnya, Lisa merasa kasihan melihat Blind.
Akan tetapi, itu tidak sebanding perlakuan Blind pada ayah Lisa dulu, saat ia masih bekerja untuk ayah Lisa dan mengkhianatinya.
***
Esok paginya di Perusahaan IP Group, terlihat Roy yang melanjutkan rapat yang sempat tertunda tempo hari.
Setelah selesai dengan rapatnya, dan para kliennya telah pergi, Roy mengambil ponselnya dan menelpon Lisa.
Saat Roy menelpon Lisa, ponsel Lisa ternyata sedang tidak aktif, karena Lisa yang sengaja mematikannya.
__ADS_1