
Sam dan John yang berada di sana hanya diam, tak berani melakukan apapun untuk menolong Rosa. Karena, mereka berdua lebih takut kepada Sung.
“Kamu akan aku kurung di ruang bawah tanah. Seharusnya aku tidak memberimu keringanan apapun,” lanjut Sung yang semakin marah.
“Buka ruangannya!” perintah Sung pada Sam dan John.
Rosa sangat takut saat mendengar ia akan dikurung oleh ayahnya, dan ia berlutut memohon pada Sung agar tidak mengurungnya di ruang bawah tanah.
“Ayah, Aku mohon jangan lakukan itu padaku. Aku telah ditunjuk sebagai direktur distrik perbelanjaan. Aku akan melakukan apapun untuk Ayah. Aku akan membantu Ayah untuk mendapatkan saham kembali. Ayah, suamiku sangat menurutiku belakangan ini. Percayalah padaku, Ayah.”
Rosa berlutut dan memegang kaki ayahnya untuk memohon.
Sam yang melihat Rosa pun merasa kasihan dan berbicara pada Sung.
“Dia sudah berusaha keras, Tuan,” bujuk Sam.
“Dasar bodoh!!!” Sung malah membentak Sam.
“Lantas kenapa jika dia berusaha? Apa itu mengubah fakta bahwa aku bertengkar dengan besanku tempo hari?” lanjut Sung.
“Lebih mudah untuk memberi Roy pelajaran daripada menghukum Rosa, Tuan,” Sam yang masih berusaha untuk membujuk Sung.
“Sialan”
*BRAKK
__ADS_1
Umpat Sung yang kembali menendang Rosa.
“Astaga, Tuan. Tenanglah,” Sam yang langsung menghalangi Sung agar tidak menyakiti Rosa kembali.
Sung pun pergi dari sana meninggalkan Rosa, Sung dan Sam.
Saat Sung telah pergi, Sam membantu Rosa untuk berdiri kembali.
“Kamu baik-baik saja, Rosa?” tanya Sam.
Rosa pun berdiri dan langsung pergi meninggalkan rumah ayahnya.
Saat Rosa telah kembali ke rumahnya, ia menuju kamarnya dan melihat Roy yang sudah tidur lebih dulu.
Rosa menaiki kasur secara diam-diam dan akan menusuk leher Roy saat itu.
Saat Rosa mengarahkan pisaunya tepat di leher Roy yang sedang terlelap, ia kembali ragu untuk menusuk suaminya.
Rosa menarik pisaunya kembali dari leher Roy dan bergegas keluar dari kamarnya.
Rosa menangis dan terduduk di balik pintu kamar sembari meratapi dirinya sendiri.
“Berandal itu selingkuh dan ****** itu mengejekku di siang bolong, dan aku tak bisa melakukan apapun karena Ayahku. Aku ingin menghancurkan mereka semua, tapi ku pendam demi menjadi direktur distrik perbelanjaan. Aku tidak tahan dengan mereka. Kehidupan ini sangatlah tidak adil. Ini membuatku gila.” gumam Rosa sendirian.
***
__ADS_1
Besok paginya, pagi-pagi sekali Lisa sengaja menelpon Roy, lalu mematikannya kembali.
Lisa sengaja mematikannya kembali hanya untuk mengetes seberapa cepat respon Roy dengan panggilan Lisa.
“SATU, DUA, TIGA,”
*KRIIING!!!!
Tepat tiga detik setelah Lisa menghitung, Roy kembali menelpon Lisa.
“Kenapa kamu menutup teleponnya? Aku sangat merindukanmu,” ucap Roy.
“Aku meneleponmu, karena aku juga merindukanmu, tapi kupikir kamu sibuk, lalu aku mematikannya kembali. Aku tak ingin mengganggumu” basa-basi Lisa.
“Mau bertemu? Aku akan kirimkan alamat hotel yang ku bicarakan kemarin,”
“Baiklah. Aku akan menunggunya,” ucap Lisa.
Beberapa saat kemudian, mereka telah bertemu di hotel untuk melepas rindu.
Roy yang telah dahulu datang langsung memeluk dan mencium bibir Lisa, saat melihat Lisa yang baru memasuki kamar.
“Tunggulah di ruang makan. Aku akan berganti pakaian dan menyiapkan makanan untukmu,” ucap Roy.
Lisa hanya mengangguk dan menuju kursi di ruang makan untuk menunggu Roy mempersiapkan semuanya.
__ADS_1