
Mereka berdua berpisah di halaman TK untuk melanjutkan urusannya masing-masing.
Saat Lisa berada di dalam mobilnya, ia menelpon Jack untuk meminta bantuannya.
“Halo?” ucap Jack di telepon.
“Anggota Dewan Majelis, Jack. Kali ini aku menelpon untuk meminta bantuanmu,” balas Lisa.
“Aku minta maaf karena telah mengganggu terakhir kali kita bertemu,” ucap Jack.
“Tidak masalah, Tuan. Saat ini, aku sedang mencari anggota dewan untuk mengisi acara di TK Athfal. Apakah Kamu bisa meluangkan waktu untuk kami?” tanya Lisa.
“Tunggu, aku tidak biasa memberikan ceramah pada sembarang orang, akan kupikirkan dulu nanti,” ucap Jack yang menutup telponnya.
***
Malam hari di kediaman ayah Roy, terlihat banyak orang berkumpul di rumahnya untuk memperingati hari meninggalnya mendiang ibu kandung Roy.
Roy dan Rosa yang baru tiba, langsung memasuki rumah untuk berduka cita dan mendoakan mendiang bersama keluarga Roy.
Setelah acara itu selesai, orang-orang yang hadir di acara peringatan mendiang ayah Roy berpamitan dan bergegas untuk pulang.
__ADS_1
Terkecuali keluarga besar Roy, mereka semua berkumpul setelah orang-orang pergi dari sana untuk minum teh bersama dan membicarakan urusan keluarga mereka.
Ayah Roy memulai pembicaraan mereka dengan wasiat mendiang istrinya. Mendiang istrinya ingin memiliki cucu laki-laki dari salah satu anaknya.
“Berapakah umurmu, Rosa?” tanya ayah Roy.
“Umurku genap 46 di tahun ini, Ayah,” jawab Rosa.
“Hhhh. Umurmu sudah 46 tahun. Tidak mungkin kamu bisa memberiku cucu di umurmu yang sekarang ini,” ucap Ayah Roy.
Rosa sakit hati saat mendengar ucapan ayah mertua nya, dan ia keluar dari ruangan untuk menyendiri.
Saat Rosa sedang menyendiri, Roy datang menghampirinya. Rosa mengadu pada Roy bahwa ia sangat kesal di acara peringatan kematian mendiang ibu mertuanya.
Roy hanya diam dan tak menanggapi ucapan istrinya itu.
“Kenapa kamu tidak terlihat stres? Kamu juga membutuhkan seorang anak laki-laki, tapi kenapa hanya aku yang stres?” ucap Rosa.
“Kita sudah berusaha maksimal,” jawab Roy pelan.
“Berusahalah lebih keras lagi!” suruh Rosa.
__ADS_1
“Berusaha apa lagi? Pikirkanlah usiamu!” jawab Roy dengan nada tinggi.
“Maksudmu, ini semua salahku? Hhhhh. Jika kakakmu punya putra lebih dulu, kamu akan menyalahkanku karena kamu tidak diberi beberapa saham oleh ayahmu?” tanya Rosa sewot.
“Hentikan. Sudah cukup!” ucap Roy singkat.
“Bagaimana jika kakakmu mendapatkan seluruh saham milik ayahmu, hanya karena dia memberi cucu laki-laki padanya?” ucap Rosa yang masih kesal.
“Terkadang, aku penasaran apa yang kamu pikirkan. Sejak kapan kamu tertarik pada saham perusahaan? Lima tahun lalu? Sebelum pernikahan kita? Atau setelah pernikahan kita?” tanya Roy.
“Sayang,” ucap Rosa.
“Cepatlah berkemas lalu pulang denganku,” ucap Roy yang langsung pergi meninggalkan Rosa.
Rosa sangat kesal suaminya tidak membelanya dan malah meninggalkannya sendirian. Rosa bingung harus berbuat apa, lalu ia menelpon Lisa untuk curhat kepadanya.
“Lisa. Aku sangat stres hari ini. Ini sungguh membuatku gila,” sambat Rosa.
“Ada apa? Apa yang terjadi padamu, Kak?” ucap Lisa di telepon.
“Upacara peringatan ini sangat menyiksaku. Aku muak dengan mertuaku. Kenapa kita harus menyiapkan makanan untuk orang-orang yang sudah tiada?”
__ADS_1
“Aku harus memakai seragam khusus yang jelek, kemudian mencuci piring dan menyiapkan makanan untuk para tamu.”
“Ayah mertuaku hanya membicarakan soal memiliki cucu laki-laki. Bagaimana bisa dia bersikeras untuk mempunyai cucu laki-laki saat ini?” curhat Rosa.