
*PROOK
“Astaga,” ucap asistennya terkejut dan menjatuhkan kado itu.
“Bukankah itu dildo?” lanjut asistennya.
Rosa pun sangat emosi ketika melihat hadiah yang diberikan oleh Nita itu.
“Aku salah satu pelanggan hotel yang kau pesan di hari ulang tahunmu tempo hari, dan aku telah mendengar soal ulang tahunmu. Aku membelikan itu untuk menghiburmu,” ucap Nita tersenyum sinis.
“Kudengar kemarin suamimu tidak datang, dan kamu menginap sendirian. Saat kamu mencapai usia tertentu, barang itu memberi lebih banyak kesenangan daripada suami. Kuharap itu sedikit menghiburmu,” imbuh Nita masih sinis.
Mereka dan partner menarinya saling tertawa mendengarkan ucapan Nita.
“Mari potong kuenya. Tunggulah di ruang duduk. Akan ku ambilkan kue, ucap Lisa yang langsung mengambil kue yang dibawa Nita.
Rosa pun menuju ruang tunggu, sedangkan Nita dan Sinta berpamitan pada Lisa untuk langsung pulang.
Lisa dan Rosa pun telah duduk di ruang tunggu untuk mengobrol dan istirahat sejenak.
“Jangan marah, Kak. Aku tidak tahu mereka akan melakukan itu,” ucap Lisa yang menenangkan Rosa.
Rosa hanya diam saja dan menyuruh asistennya memanggil partner menari Nita dan Sinta untuk menghadapnya.
__ADS_1
“Para wanita sudah pergi, Bu,” ucap asisten yang sudah bersama partner menari.
“Bukalah ini,” ucap Rosa yang memberikan sebuah amplop.
Mereka berdua pun kaget setelah melihat isi amplop itu. Amplop itu berisi cek uang senilai 10.000 dolar, tiap amplop.
“Untuk apa ini, Bu?” tanya salah satu partner.
“Uang saku untuk kalian. Gunakanlah sesuka kalian” jawab Rosa.
“Apa? Semua ini?” tanya partner yang masih kebingungan.
Rosa kembali mengeluarkan amplop dari tasnya.
“Namun, aku butuh bukti. Bukti yang pasti. Kalian bisa merekam atau mengambil foto saat itu. Baiklah, kalian boleh pergi,” lanjut Rosa.
Mereka berdua pun menundukkan badan dan pergi dari sana.
“Aku paham kamu membenci mereka, Kak. Tapi, apakah kamu yakin akan melakukan ini? Ini sudah masuk tindak kejahatan,” ucap Lisa.
“Aku selalu melakukan semua yang kuinginkan,” jawab Rosa sembari memperbaiki riasannya.
“Bagaimana jika ini menjadi masalah, Kak?” tanya Lisa yang masih berusaha mencegah Rosa melakukan itu.
__ADS_1
“Itu tidak akan pernah menjadi masalah untukku. Mereka harus diberi ganjaran,” jawab Rosa.
“Apa hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya padamu, Kak?” tanya Lisa.
“Kamu tahu kenapa ayahku tidak mau memberikanku salah satu bisnisnya padaku? Apakah karena aku belum dewasa? Hhhh.”
“Aku selalu membuat kekacauan dan dia selalu membereskannya. Ayahku pasti lelah. Dia ingin hidup dengan tenang sekarang,” ucap Rosa.
Lisa hanya diam saja saat mendengarnya dan bingung akan berkata apa lagi.
“Apa ada masa, saat Pimpinan Roy dan IP Group terlibat?” Lisa mulai bertanya lebih dalam secara halus.
“Masalah terbesarnya adalah kekacauan yang kubuat untuk menikahinya,” jawab Rosa.
“Apa itu, Kak?” tanya Lisa
“Saat itu, aku sedikit mengubah takdir dua orang wanita, agar aku bisa menikahi suamiku. Saat dia masih lajang, banyak keluarga kaya yang mengincarnya. Dia tampan dan tinggi. Dia juga dikenal sebagai orang elite yang bebas dari skandal. Banyak wanita yang mengincarnya saat itu, walaupun aku lebih tua darinya. Aku bahkan pernah bercerai dulu. Menurut rumor, dia berhubungan sesaat dengan seorang wanita. Jadi, akulah yang mengurusnya saat itu.” ucap Rosa.
“Lalu?” tanya Lisa yang penasaran.
“Lalu, dulu ada seorang wanita menghalangi dan menuntut untuk mengambil kembali, perusahaan suaminya. Dia istri dari Pimpinan Perusahaan IKIP. IKIP adalah hadiah pernikahanku untuk suamiku,” ucap Rosa.
“Seorang gadis SMA dan wanita tua. Takdir mereka berubah karena ku,” lanjut Rosa yang tersenyum kecil ke Lisa.
__ADS_1
Lisa mencengkeram erat pegangan sofa yang sedang ia duduki. Lisa berusaha menahan emosinya yang sedang tidak karuan karena mendengar ucapan Rosa.