BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Tempat Kerja Pertama


__ADS_3

Lisa kembali ke kamarnya dan menunggu kepulangan Blind. Lisa mengambil kembali paket yang dibuang oleh Blind, dan membawanya ke kamar.


Saat Blind pulang dan memasuki kamar, ia melihat istrinya yang sedang duduk di meja kerjanya.


“Kamu baru pulang, Sayang? Kamu dari Luar?” tanya Blind yang baru memasuki kamar.


Lisa hanya diam dan menunjukkan paket yang telah dibuang Blind.


“Paket ini. Kenapa kamu membuangnya? IKIP adalah perusahaan tempat kerja pertamamu. Kenapa kamu berbohong kepadaku?” ucap Lisa yang menunjukkan riwayat pekerjaan Blind saat ia masih bekerja di IKIP.


“Lalu apa ini?” tanya Lisa yang menunjukkan video rekaman masa kecil Lisa yang dibawa ke mobil ambulans karena dianiaya.


“Ini tentang apa?” lanjut Lisa.


Blind yang masih berdiri sangat kaget dan bingung harus menjawab apa.


“Entahlah. Ini bukan untukku,” jawab Blind yang ketakutan.


“Sayang, percayalah padaku,” ucap Blind yang menyentuh pundak Lisa.


Lisa menyingkirkan tangan Blind dari pundaknya.


“Jangan berani menyentuhku! Kamu bilang tidak merahasiakan apapun dariku. Aku menikahimu karena kamu mengaku bahwa kamu seorang yang polos dan naif. Jangan pernah sentuh aku lagi sebelum kamu menjelaskan semua ini padaku,” Lisa memperingatkan.

__ADS_1


“Sayang,” ucap Blind yang semakin bingung harus berbuat apa.


“Keluar dari kamar ini!” usir Lisa.


Blind pun putus asa untuk membujuk istrinya lalu keluar dari kamar meninggalkan Lisa.


***


Pagi hari, pukul 7 tepatnya. Rosa terlihat baru bangun dari tidurnya. Sejenak, ia merenungi dirinya sendiri atas kesialan yang menimpa dirinya.


Ia beranjak dari tempat tidurnya dan memakai kimono untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai dalaman saja, lalu keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerja Roy.


Di ruang kerja Roy, terlihat Roy yang sedang memakai dasi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.


“Aku tidak memberitahu Ayahku tentang sikapmu akhir-akhir ini yang sudah berubah. Aku mengatakannya demi kebaikanmu,” ucap Rosa.


“Apa gunanya berpura-pura, padahal hubungan kita sedang kacau?” balas Roy.


“Aku berusaha keras untuk itu. Dibandingkan dahulu, kini aku tidak melakukan apapun,” ucap Rosa.


“Kamu tidak melakukan apapun? Kamu bangga dengan itu? Hidupmu baik-baik saja terlepas dari perbuatanmu,” ucap Roy yang mengambil jas lalu meninggalkan Rosa.


Rosa yang ditinggalkan Roy sendirian di rumahnya pun bergegas mandi dan pergi ke rumah ayahnya, untuk memperlihatkan proposal bisnis yang diberi Lisa kemarin.

__ADS_1


Terlihat Rosa yang telah sampai di rumah ayahnya. Ia keluar dari mobil sendirian dan masuk ke dalam rumah.


Saat itu, Sam juga sedang berada di rumah Sung, untuk menemani Sung.


Mereka bertiga pun duduk bersama untuk mengobrol tentang bisnis yang akan mereka bangun.


Rosa memberikan proposal kepada ayahnya dan mengaku seolah-olah dialah yang membuat proposal itu.


“Bersepakat dengan pemerintah kota malang untuk meratakan distrik lampu merah dan mengubah area itu menjadi distrik perbelanjaan IP?” tanya Sung sembari membaca proposal.


“Benar, Ayah,” jawab Rosa singkat.


“Wahhhh. Itu ide yang sangat bagus,” sahut Sam.


“Aku ingin memiliki pusat distrik perbelanjaan terbesar di Malang, Ayah,” ucap Rosa.


“Kamu sangat sukses besar belakangan ini, Rosa. Kamu bahkan berhasil mengajak Anggota Dewan Jack,” puji Sam.


“Ide siapa ini? Siapa yang membuat proposal sebagus ini?” tanya Sung yang curiga bahwa itu pasti bukan ide Rosa.


“Ini ideku, Ayah,” jawab Rosa ragu.


“Ini bukan idemu. Aku sangat yakin, ini bukanlah darimu sepenuhnya. Katakanlah yang sebenarnya. Siapa itu?” tanya Sung yang menggelengkan kepalanya dan masih penasaran.

__ADS_1


“Dia temanku. dia juga salah satu ibu dari TK Athfal. Dia sangat mengandalkanku, karena aku menawarkan promosi jabatan untuk suaminya. Aku akan memperkenalkan pada Ayah nanti.” jawab Rosa yang akhirnya mengaku.


__ADS_2