BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Lisa, Rosa dan Roy


__ADS_3

Saat Lisa berjalan memasuki rumah Rosa, Lisa melihat dinding rumah Rosa yang dipenuhi dengan foto-foto keluarganya.


Lisa terus melihat foto-foto yang terpampang di dinding, selagi pembantu Rosa menyiapkan teh dan camilan.


Saat teh dan camilan telah disiapkan, Rosa dan Lisa duduk bersama di ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan saat berada di toko tadi.


Lisa menyarankan agar Rosa berlatih menari balet agar menguatkan otot intinya daripada mengoperasi alat reproduksinya. Lisa mengatakan bahwa, menari balet juga dapat mengencangkan kembali otot-otot inti.


“Apakah menari balet bisa meningkatkan otot inti sebanyak itu?” tanya Rosa penasaran.


“Menari balet dapat mengembangkan otot internal dan elastisitas kulit, Kak, Menari balet juga mengharuskan penarinya melakukan banyak kontak fisik. Jadi, itu sangat meningkatkan hubungan,” ucap Lisa yang meyakinkan Rosa.


Rosa menganggukkan kepalanya dan sesekali minum teh.


“Beberapa wanita bahkan bisa hamil, saat mereka telah didiagnosis mandul,” lanjut Lisa.


Rosa pun tertawa saat mendengar ucapan Lisa barusan.


“Kamu bisa dihukum karena iklan berlebihan, Lisa,” ucap Rosa yang masih tertawa.


“Menyebutnya iklan berlebihan justru melebih-lebihkan efeknya, Kak” balas Lisa yang juga tersenyum.


“Gaunnya pun sangat indah, Kak. Aku yakin suamimu akan memandangmu berbeda, begitu kamu memakai gaun itu,” lanjut Lisa.

__ADS_1


“Tapi aku juga harus mempertimbangkan status sosialku. Bagaimana jika orang-orang mulai bergosip tentangku?” tanya Rosa yang takut kehilangan wibawanya.


“Bagaimana jika para ibu tampil dalam suatu acara? Bukankah itu alasan yang bagus untukmu berlatih balet?” ucap Lisa.


“Astaga. Lihatlah dirimu, Lisa. Kamu selalu bisa meyakinkan seseorang,” puji Rosa.


“Saat acara tiba, kamu bisa tampil di acara itu. Aku tidak akan ikut dalam penampilan, agar kamu bisa menjadi pemimpin,” usul Lisa.


“Nita dan Sinta hanya akan menjadi pelengkap dan kamu akan menjadi ratu dalam acara itu. Maka, kamu bisa mendapatkan semuanya. Kasih sayang suamimu dan seorang putra,” ucap Lisa meyakinkan.


Rosa pun tersenyum saat mendengar ucapan Lisa yang sangat meyakinkan itu.


“Apa keinginanmu, Lisa? Promosi untuk suamimu? Atau kamu mau hal lain? Katakan saja, Lisa. Apapun akan kuturuti selama aku mampu melakukannya,” ucap Rosa yang menawari Lisa.


Saat mereka sedang asyik mengobrol dan bergurau, tiba-tiba Roy muncul. Roy kaget ketika melihat Lisa sedang berada di rumahnya.


“Dimana yang lain?” tanya Roy yang baru masuk rumah.


“Sayang,” jawab Rosa.


Saat melihat Lisa berada di rumahnya, Roy kembali teringat saat kemarin Lisa mencium bibirnya.


“Aku mengadakan pertemuan wali murid dengan salah satu Ibu dari teman anak kita, Sayang,” ucap Rosa.

__ADS_1


Lisa pun berdiri dan memberikan salam pada Roy dengan menundukkan kepalanya. Begitupun Roy yang membalas menundukkan sedikit kepalanya.


Setelah menyapa dan memberi salam pada Roy, Lisa pamit pulang pada mereka.


“Astaga. Maaf, aku sampai lupa waktu. Aku pamit pulang dulu Pak, Bu, ” ucap Lisa.


“Tinggallah lebih lama, Lisa. Suamimu bilang akan menjemputmu,” ucap Rosa.


“Pimpinan mungkin perlu istirahat. Aku takut akan mengganggunya dan membuatnya tidak nyaman karena keberadaanku,” ucap Lisa.


“Bagaimana menurutmu, Sayang?” tanya Rosa pada Roy.


“Aku baik-baik saja, dia bisa tinggal lebih lama disini,” jawab Roy.


“Baiklah kalau begitu, kamu bisa tinggal disini sampai suamimu menjemputmu. Aku akan memperbaiki riasanku dahulu. Bisa kamu ambilkan anggur dan gelas di dapur, sembari menunggu, Lisa?” ucap Rosa.


“Baik, Bu. Aku akan mengambilnya untukmu,” ucap Lisa.


“Tunggu sebentar sayang, aku akan segera kembali,” ucap Rosa lalu pergi.


Kini tinggal hanya Lisa dan Roy yang masih berada di ruang tamu. Saat Lisa akan pergi mengambil gelas, dengan sengaja Lisa menggesekkan punggung tangannya pada tangan roy saat berjalan melewati Roy.


“Aku akan menyiapkan anggur dan gelasnya, Pak,” ucap Lisa.

__ADS_1


__ADS_2