BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Curiga & Pertanyaan


__ADS_3

Lisa telah berada di dapur untuk mengambil gelas. Ia sangat kesulitan saat ingin mengambil, karena tempatnya yang tinggi.


Roy datang dari belakang dan memegang tangan Lisa untuk membantu meraih gelas anggur.


Saat Roy memegang tangan Lisa, mereka tidak jadi mengambil gelas itu, melainkan saling memejamkan mata dan ingin berciuman disana.


Saat bibir mereka sudah saling mendekat, Roy melepas tangannya yang masih memegang tangan Lisa.


“Ini sangat gila. Saat ini kita sedang berada di rumahku. Bagaimana kamu bisa seberani ini? Apa tujuanmu sebenarnya?” ucap Roy.


“Aku tidak punya tujuan apapun. Hanya saja kamu membuatku lupa, tentang dimana dan siapa aku,” jawab Lisa.


“Hanya karena hasrat? Semua orang mendekatiku karena suatu alasan. Kamu pun sama halnya dengan mereka. Aku akan mencari tahu apa tujuanmu,” ucap Roy yang kemudian pergi meninggalkan Lisa.


Di luar rumah Roy dan Rosa, Blind telah datang untuk menjemput Lisa. Ia berdiri di depan gerbang sembari memencet tombol bel suara.


“Pimpinan Roy, ini aku, Blind,” ucapnya.


“Kamu datang, Pak Blind,” ucap Rosa yang membukakan pintu gerbang.


Rosa menyuruh Blind masuk ke dalam rumah untuk minum anggur bersama dan mengobrol santai sebelum pulang menjemput Lisa.


Lisa, Roy, Rosa dan Blind duduk bersama di ruang tamu. Mereka meminum anggur dan mengobrol bersama.


“Suamiku jarang membanggakanku, hingga aku membanggakan diriku sendiri,” keluh Rosa pada Lisa dan Roy.

__ADS_1


“Bu Rosa, kamu memang terlahir dari kaum bangsawan dan pantas untuk menjadi ratu. Kecantikanmu melampaui batas. Aku pun tidak berani mengikutimu,” puji Lisa.


“Begini, Pimpinan Roy. Istrimu adalah panutan setiap wanita, jadi, gunakan kesempatan ini untuk membanggakannya,” tambah Blind.


“Hhhhh. Silahkan membanggakan istrimu dahulu. Bagaimana kalian bisa bertemu?” tanya Roy dengan wajah datarnya.


“Kami bertemu di Bus saat aku dalam perjalanan pulang kerja. Ketika aku akan duduk, ada seorang mahasiswi cantik. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya,” ucap Blind.


Roy dan Lisa saling bertatapan sembari minum anggur tanpa menggubris apa yang dikatakan oleh Blind.


“Kisah kalian seperti yang terjadi dalam Film atau Novel romantis tepatnya,” sahut Rosa.


“Aku langsung tergila-gila kepadanya sejak saat itu,” lanjut Blind.


“Astaga, tidak begitu, Bu. Dia dikenal sangat tegas dalam kehidupan cintanya,” jawab Blind.


“Dia bahkan tidak mengizinkan aku untuk menyentuhnya saat kami masih berpacaran. Bukan begitu, Sayang?” lanjut Blind.


Lisa hanya tersenyum saat mendengar ucapan Blind.


“Aku berprasangka padanya karena karir yang ia punya, tapi sekarang aku mengakui bahwa dia orang yang polos,” ucap Rosa.


Pandangan Roy tak lepas dari Lisa sejak saat awal mereka berempat duduk bersama. Roy selalu mencuri-curi pandangan agar dapat menatap Lisa dari tempat duduknya.


“Kamu tahu banyak soal menari balet dan alunan Piazzolla, membuatku tiba-tiba penasaran. Kamu tahu legenda yang melibatkan alunan Piazzolla?” tanya Roy pada Lisa sembari menatapnya.

__ADS_1


Rosa dan Blind hanya diam ketika Roy menanyakan itu dan menunggu jawaban Lisa.


“Aku tidak tahu, Pak. Apa itu?” tanya Lisa balik.


“Jika kamu memainkan musik menggunakan alunan Piazzolla, kamu bisa memberikan kedamain pada jiwa manusia,” jawab Roy.


“Kamu bahkan tahu hal seperti itu, Sayang?” tanya Rosa.


Tanpa menanggapi pertanyaan istrinya, Roy terus bertanya pada Lisa.


“Apa ada jiwa manusia yang ingin kamu hibur, dengan alunan Piazzolla?” tanya Roy.


“Tidak, Pak. Hidupku hampir tidak pernah sedih. Bagaimana denganmu sendiri, Pak. Apakah ada jiwa yang ingin kamu hibur?” balas Lisa yang kini menatap Roy.


“Tidak,” jawab Roy singkat.


“Dia tidak tertarik apapun kecuali menari balet,” sambung Blind dalam percakapan mereka berdua.


“Kamu masih sering menari balet, Lisa?” tanya Rosa.


“Aku pergi ke Klub balet sesekali, dan tampil demi uang untuk pendidikan anak-anak kami,” jawab Lisa.


“Kamu tidak cemas membiarkan istrimu menari,? tanya Rosa pada Blind.


“Tidak sama sekali, Bu. Aku sangat percaya sepenuhnya pada istriku,” jawab Blind.

__ADS_1


__ADS_2