BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Katakan Milik Siapa!


__ADS_3

Rosa berjalan ke tempat gantungan jas dan memeriksa jas milik Roy yang tergantung di sana.


Rosa kaget setengah mati saat melihat bekas make up di jas suaminya. Kemudian, Rosa mendorong Lisa ke tembok.


“Milik siapa itu? Riasan siapa itu?” tanya Rosa yang menekan tubuh Lisa ke tembok.


“Entahlah, Kak. Aku juga kebetulan melihatnya,” jawab Lisa.


Rosa pun mencekik Lisa saat itu juga.


“Katakan milik siapa itu!” bentak Rosa yang masih memegang leher Lisa.


“Aku sungguh tidak tahu, Kak,” ucap Lisa yang susah berbicara karena Rosa menekan lehernya.


“Jangan mengatakan itu! Sebutkan nama seseorang! Milik siapa itu?” bentak Rosa yang melampiaskan amarahnya pada Lisa.


Lisa pun asal menyebut dengan mengucapkan nama Nita adalah orangnya.


“Nita sering mengobrol dengan pimpinan,” jawab Lisa.


“Apa kamu sudah gila? Berpikirlah sebelum berbicara! Wanita itu bukan sainganku. Katakan yang kamu tahu!” Rosa menekan leher Lisa lebih keras lagi.


Rosa kaget setengah mati saat melihat bekas make up di jas suaminya. Kemudian, Rosa mendorong Lisa ke tembok.

__ADS_1


“Milik siapa itu? Riasan siapa itu?” tanya Rosa yang menekan tubuh Lisa ke tembok.


“Entahlah, Kak. Aku juga kebetulan melihatnya,” jawab Lisa.


Rosa pun mencekik Lisa saat itu juga.


“Katakan milik siapa itu!” bentak Rosa yang masih memegang leher Lisa.


“Aku sungguh tidak tahu, Kak,” ucap Lisa yang susah berbicara karena Rosa menekan lehernya.


“Jangan mengatakan itu! Sebutkan nama seseorang! Milik siapa itu?” bentak Rosa yang melampiaskan amarahnya pada Lisa.


Lisa pun asal menyebut dengan mengucapkan nama Nita adalah orangnya.


“Nita sering mengobrol dengan pimpinan,” jawab Lisa.


“Apa kamu sudah gila? Berpikirlah sebelum berbicara! Wanita itu bukan sainganku. Katakan yang kamu tahu!” Rosa menekan leher Lisa lebih keras lagi.


“Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila?” ucap Roy yang langsung mendorong Rosa yang sedang mencekik Lisa.


“Bagaimana jika dia terluka atau pingsan?” lanjut Roy.


“Kamu khawatir dia terluka, tapi tidak melihatku yang sedang terluka?” ucap Rosa.

__ADS_1


“Kamu yang menghinaku. Kamu datang kemari tanpa membuat janji dan membuat kerusuhan!” bentak Roy yang semakin kesal dengan perbuatan Rosa.


“Jelaskan apa yang kamu lakukan. Mengapa kamu tidak pulang? Rapat tadi tentang apa? Kenapa pengawalmu banyak sekali? Sikapmu sangat aneh akhir-akhir ini. Sangat bodoh jika aku hanya diam saja!” teriak Rosa.


“Enyahlah dari sini dan jangan pernah berani datang lagi!


*PYAARR


Rosa malah membanting pot bunga yang berada di meja ke lantai, hingga serpihan kacanya mengenai tangan Roy.


“Tanganmu terluka, Pak,” ucap Lisa yang melihat tangan Roy yang berdarah.


“Enyahlah sekarang juga!” ucap Roy pada Rosa.


“Enyahlah? Kamu mengusirku? Aku akan pulang dan melaporkan ini semua pada ayahku,” ucap Rosa yang mulai menangis.


Sam dan asisten Roy pun juga ikut datang ke ruangan itu untuk melihat apa yang terjadi.


“Ada apa, Rosa? Apa yang terjadi?” ucap Sam yang baru masuk ke ruang kerja pribadi Roy.


Sam melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai. ia sudah menduga bahwa ini pasti ulah Rosa yang mengamuk.


Sam mengajak Rosa untuk segera keluar dari sana agar pertengkarannya tidak berkelanjutan.

__ADS_1


“Mari, ikut aku Rosa,” ucap Sam yang menuntun Rosa keluar ruangan.


__ADS_2