
“Pasangan kekasih akan saling mengenali satu sama lain ketika mereka bertemu. Aku bertanya-tanya, apa ini rasanya bertemu kembaran jiwaku.” Lisa melanjutkan ucapannya.
Saat Roy mendengar ucapan Lisa barusan, Roy memutar badannya yang sedari tadi membelakangi Lisa.
“Aku merasakan kerinduan dalam dirimu, Pak. Dan kupikir, aku ingin mengisinya,” ucap Lisa.
Roy sepertinya sadar, bahwa ia sedang digoda oleh Lisa. Hati Roy telah luluh pada Lisa. Tetapi, Roy tidak mau mengakui itu dan berpura-pura tidak tergoda oleh perkataan Lisa.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Roy.
“Bu Lisa. Aku bertanya padamu. Apa yang sedang kamu lakukan?” Roy mengulangi pertanyaannya.
“Hari itu, saat kita berdansa bersama. Perasaanku sangat kuat,” ucap Lisa.
“Aku tidak bodoh. Kamu telah memberiku kenangan banyak mengerikan. Apakah kamu sudah selesai menganalisis tentangku?” ucap Roy.
“Apa aku belahan jiwamu yang cukup untuk membuatmu berpikir bahwa aku kembaran jiwamu? Dan bahwa aku butuh pemulihan?” tanya Roy yang menyudutkan Lisa.
“Kamu melihat bahwa aku butuh pemulihan, padahal aku sendiri tidak tahu? Aku tidak punya luka dan tidak butuh pemulihan,” ucap Roy.
“Aku punya sinyal yang cukup akurat. Sinyal yang memberitahuku saat bahaya mendekat. Dan aku merasakan bahaya itu disekitarmu,” imbuh Roy.
“Aku tidak suka ataupun tertarik kepadamu. Janganlah kamu mendekatiku lagi atau aku akan marah. Paham?” sambung Roy meninggikan suaranya.
__ADS_1
Lisa yang mendengar ucapan Roy terdiam sejenak, dan tak tahu harus berkata apa.
“Aku akan ingat kamu tidak suka ada orang yang menganalisis tentangmu Pak,” ucap Lisa sambil menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Roy.
Saat beberapa langkah Lisa meninggalkan Roy. Lisa kembali berjalan mendekati Roy.
“Perasaanmu memberitahumu saat bahaya sedang mendekat. Aku pun juga bisa merasakan itu. Dan kamu bilang tidak merasakan apapun?” tanya Lisa.
“Lantas, kenapa kamu datang ke sanggarku kala itu? Kenapa kamu mau berdansa denganku? Kenapa kamu menelponku menggunakan nomor rahasia setelah istrimu mengundangku ke acara ini?” tanya Lisa beruntun.
“Kudengar salah satu kembaran jiwa adalah pelari, dan yang lainnya adalah pengejar. Entah apa kita adalah kembaran jiwa, tapi jelas bagiku, bahwa kamulah pelari diantara kita,” ucap Lisa sambil membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Roy.
Lisa telah kembali ruang acara, dan bergabung bersama Blind dan Rosa. Wajah Lisa berubah menjadi sangat pucat setelah bertemu dengan Roy. Rosa pun menyadari wajah Lisa yang menjadi pucat.
“Bukan apa-apa, Kak. Aku hanya mens hari pertama,” ucap Lisa.
“Kamu yakin mau tetap disini?” tanya Rosa.
“Tidak masalah Kak,” jawab Lisa.
Saat mereka sedang asyik mengobrol dan menikmati minuman. Tiba-tiba Sam datang di villa Roy dan berteriak-teriak mencari Roy.
“Halo semuanya.”
__ADS_1
“Permisi.”
“Omong-omong, dimana Pimpinan Roy?”
“Pak Roy, keluarlah.”
“Aku ingin berbicara denganmu. Keluarlah dari tempatmu, Pak Roy.”
“Aku penasaran, Dimana keberadaan Pak Roy."
Munculah Roy berjalan ke arah Sam dari belakang
“Bagaimana kamu bisa masuk kesini?” tanya Roy.
“Astaga, Pimpinan Roy. Aku wakil pimpinan perusahaan, tapi tidak pernah sekalipun bertemu denganmu. Bahkan, kau tak mengundangku di Villa mu,” ucap Sam yang merengek.
Semua tamu undangan telah melihat betapa anehnya Sam. Tapi, tidak ada satupun yang berbicara atau mengusir Sam.
“Kamu terlalu kejam padaku, Pimpinan Roy. Aku juga ingin menjadi teman dekatmu,” ucap Sam.
“Kamu terlalu banyak minum, Sam. Sadarkan dirimu dulu dan berbicaralah padaku,” ucap Roy.
Lisa yang telah melihat Sam, dari tadi hanya diam saja. Sepertinya ia kembali mengingat masa lalunya saat melihat Sam datang. Sam lah orang yang memukul ayah Lisa di hadapan Lisa hingga babak belur.
__ADS_1
Lisa terlihat sangat khawatir dan ketakutan. Jikalau Sam masih mengingat dan mengenalnya, penyamarannya akan terbongkar saat itu.