BALAS DENDAM LISA

BALAS DENDAM LISA
Sebuah Cara & Anak


__ADS_3

“Upacara peringatan pasti cukup sulit untukmu. Aku kasihan padamu, Kak. Kamu pasti sangat kesal,” ucap Lisa.


“Kamu tahu apa yang lebih menyebalkan, Lisa? Suamiku tidak pernah membelaku di depan keluarga besarnya. Itu yang paling membuatku sangat stres,” ucap Rosa kesal.


“Aku yakin dia pasti punya alasan untuk melakukan itu, Kak. Dia pasti memihakmu, sebenarnya,” ucap Lisa meyakinkan.


“Astaga, aku sangat stres memikirkan ini. Besok ikutlah berbelanja denganku, Lisa,” ajak Rosa.


“Ide bagus, Kak. Dengan berbelanja mungkin bisa sedikit menghilangkan stres mu,” ucap Lisa.


“Baiklah, sampai jumpa besok,” ucap Rosa dan langsung menutup teleponnya.


***


Keesokan harinya, Terlihat Lisa dan Rosa yang sudah berada di sebuah toko branded. Mereka memilih beberapa setelan baju dan aksesoris mahal lainnya.


Setelah selesai memilih beberapa setelan baju, mereka berdua duduk di ruang tunggu selagi menunggu penjaga kasir menghitung total seluruh barang yang dibeli.


Saat mereka di ruang tunggu, Rosa masih saja mengeluh soal kejadian peringatan kematian mendiang ibu mertuanya.

__ADS_1


“Ayah mertuaku sudah cukup lama mendesak kami untuk segera memiliki anak laki-laki. Dia akan memberikan sahamnya pada kakak Suamiku jika aku tidak bisa memberinya seorang cucu laki-laki,” curhat Rosa.


“Jika itu terjadi, aku dan suamiku akan menjadi pemegang saham terbesar kedua setelah kakak iparku. Kakak iparku selalu mencari kesempatan untuk mengambil alih,” imbuh Rosa lagi.


“Kalian pasti bisa mempunyai anak laki-laki sebelum mereka, Kak,” ucap Lisa meyakinkan.


“Kamu pikir kami belum mencobanya? Kami sudah melakukannya berkali-kali, Lisa. Aku tahu suamiku tidak akan membiarkan mereka memiliki seluruh saham perusahaan ayah mertuaku,” keluh Rosa.


“Tapi aku sangat stres setiap upacara peringatan. Suamiku juga harus terlibat. Mana mungkin aku bisa hamil sendirian? Bahkan suamiku telah lama tidak menyentuhku. Tapi belakangan ini, dia mulai sesekali menyentuhku. Jadi, masih ada harapan semestinya,” sambung Rosa lagi.


Rosa juga berniat mengoperasi alat vital dan reproduksinya lagi agar bisa mempunyai keturunan seperti yang diharapkan oleh ayah mertuanya. Tapi, Lisa menyarankan menggunakan cara lain untuk itu.


“Omong-omong, Lisa. Aku memesan operasi plastik pada dokter OBGYN,” bisik Rosa.


“Aku harus terus berusaha. Mendapatkan saham memang penting, tapi aku butuh seorang putra untuk memenangkan hati suamiku,” balas Rosa.


“Ada cara lain untuk memperbaikinya selain operasi, Kak,” ucap Lisa.


“Dengan apa itu, Lisa?” tanya Rosa penasaran.

__ADS_1


“Akan kuberitahu saat kita berdua saja,” bisik Lisa.


“Haruskah kita membahas ini di rumahku?” tanya Rosa.


“Bolehkah aku ke rumahmu, Kak?”


“Tentu saja, Lisa. Kamu sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri,” ucap Rosa.


“Bagaimana kalau setelah ini saja, kita bisa pulang bersama ke rumahku,” ucap Rosa.


Lisa hanya mengangguk dan menuruti kemauan Rosa.


Lisa mempergunakan kesempatan yang sangat bagus ini. Lisa dapat masuk ke rumah Rosa dan mencari sesuatu yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk menjatuhkan Rosa dan ayahnya.


Setelah penjaga kasir selesai menghitung dan mengemasi barang belanjaan yang dibeli Rosa, asisten dan beberapa pengawal pribadinya membantu memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil.


Lisa berada satu mobil dengan Rosa. Saat di dalam mobil, Lisa memberi tahu Tin lewat SMS bahwa ia mendapat kesempatan untuk masuk ke rumah Rosa.


Sesampainya di rumah Rosa, terlihat beberapa pembantu Rosa telah menyambut di depan pintu rumah.

__ADS_1


“Siapkan teh dan camilan untukku dan tamuku,” suruh Rosa pada pembantu.


Rosa pun masuk kedalam rumah, disusul Lisa yang berjalan di belakangnya.


__ADS_2