
Pagi harinya mereka berdua berjalan bersama di pinggir pantai untuk menikmati suasana pantai saat itu.
“Apakah ada alasan yang membuatmu tertarik menari balet?” tanya Roy.
“Aku sudah menyukainya sejak aku masih duduk di bangku SMA. Setelah mendalami tari balet, aku mulai menyukai tarian lain.” jawab Lisa.
“Sejujurnya, aku tertarik melihat pertunjukan balet saat pertama kali melihatnya. Aku sangat senang ketika melihat balet yang menari berpasangan.” Roy menghentikan langkahnya.
“Haruskah kita pergi ke tempat yang jauh? Kembali ke kota Malang sangatlah menakutkan bagiku” lanjutnya.
Lisa pun ikut menghentikan langkahnya.
“Kamu belum pernah ke Italia, bukan? Karena kamu suka menari balet, pasti kamu sangat senang berada di Milan. Disana ada sebuah tempat balet paling berharga di dunia bernama Teatro alla Scala. Balet di sana dimulai saat puncak Renaissance, dengan gedung opera dibangun pada 1778. Kamu juga bisa mengunjungi Museum La Scala yang terdapat di gedung opera apabila tidak mendapat kursi untuk pertunjukan. Asalkan bersamamu, aku bisa meninggalkan semuanya disini,” ucap Roy.
Lisa tersenyum dan meneruskan langkahnya.
“Begitukah? Tidak mungkin itu terjadi,” ucap Lisa.
Roy memegang tangan Lisa dan menahannya agar tidak meneruskan langkahnya.
“Apa rahasia yang kamu sembunyikan dariku? Aku tidak memperdulikan masa lalumu. Namun, aku merasa kamu masih menyembunyikan sesuatu yang belum ku ketahui,” Roy penasaran.
__ADS_1
“Tidak ada hal seperti itu. Tidak ada hal yang kusembunyikan darimu,” jawab Lisa yang masih menutupi identitas aslinya.
“Lantas, kenapa kamu pingsan sewaktu di gereja? Apa yang kamu takutkan ketika itu?” Roy yang terus mendesak Lisa.
“Bukan apa-apa,” jawab Lisa singkat yang langsung melepas tangan Roy.
Roy menahan tangan Lisa kembali dan mengatakan…
“Katakanlah apa yang kamu sembunyikan, agar kita bisa bahagia.”
Dari kejauhan, terlihat John yang mengawasi mereka berdua, lalu menelpon Rosa untuk melaporkannya.
“Halo, Bu. Aku menemukan lokasi mereka,” John melapor.
“Mereka berada salah satu villa Pimpinan yang terletak di dekat pantai,” jawab Roy.
“Terus awasi mereka! Tangkap ****** itu saat sendirian! Aku tidak peduli jika dia mati saat kamu mencoba menangkapnya,” perintah Rosa.
“Baik, Bu. Aku mengerti,” ucap John.
Rosa pun menutup teleponnya
__ADS_1
***
Di tempat kantor Jack tepatnya, asisten Jack sedang menyerahkan ponselnya pada Jack, untuk memberitahu bahwa kabar buruk tentang Lisa mulai menyebar di Media.
Asistennya berkata bahwa ini merupakan ulah Rosa yang membuat media menulis itu.
“Rosa mulai menyerang Lia dengan kekuatan penuh, sepertinya. Dia membicarakan soal Lisa yang sudah menikah dan bersikap tidak pantas,” ucap asisten.
Jack mengambil tablet dan mulai membaca beritanya pelan-pelan.
“Jika terus begini, identitas asli Lia akan terungkap sebelum ia berhasil balas dendam. Apalagi jika dia ketahuan sedang bersama Pimpinan Roy. Astaga. Itu akan sangat buruk sekali,” lanjut asisten.
*KRIIING!!!
Panggilan masuk di ponsel milik Jack. Ternyanya itu adalah Tin yang mengajaknya untuk bertemu secara empat mata.
Mereka bertemu di sebuah kedai kopi di tengah kota untuk berbicara.
“Aku tahu kamu membantu Lia selama ini, Pak Jack,” ucap Tin yang lalu memberikan surat keterangan dokter.
Surat itu menunjukkan bahwa Lisa sedang mengalami gangguan jiwa dan belum bisa dikatakan sembuh total dari itu.
__ADS_1
Jack mulai membaca surat keterangan itu hingga selesai.