
“Sial!! Kenapa bedebah itu pergi kesana? Aku sudah menangani ini secara diam-diam, kenapa bedebah itu mengacaukan semuanya? Panggil tim hukum ku sekarang!!!” bentak Sung yang kemudian pergi dari sana.
“Kamu mau pergi kemana, Tuan? Bagaimana dengan kakiku? Kamu membutuhkanku untuk menghancurkan Lia, Bukan?” ucap Sam yang tak terima ditinggal Sung begitu saja.
“Tutup mulutmu!! Jalani saja pengobatannya!!” bentak Sung yang kemudian keluar dari sana bersama John.
***
Kembali pada Lisa dan Roy yang telah selesai melakukan sidang. Mereka berdua menuju ke ruangan khusus bersama hakim untuk melakukan mediasi.
Lisa dan Roy melakukan mediasi. Karena, Roy ingin berdamai dan menyetujui semua permintaan terdakwa secara hukum. Begitupun dengan Lisa yang menerima damai itu.
Hingga, hakim pun memutuskan untuk menengahi dan mengadakan mediasi untuk mereka berdua di satu ruangan khusus.
“Selain gugatan yang diajukan oleh Asosiasi Korban IP, mediasi ini membahas kemungkinan kompensasi, atas kerugian yang dialami oleh orang tua penggugat. Apa itu benar, Bu Lia?” ucap Sang Hakim.
“Benar,” jawab Lisa singkat.
__ADS_1
“Kamu bersedia berdamai, Pak Roy?”
“Ya. Aku bersedia,”
“Bu Lisa juga mengajukan gugatan untuk Sung, Rosa, dan Sam. Masalahnya, mereka bertiga tidak berniat untuk berdamai,” lanjut Hakim.
“Aku akan membujuk mereka, Pak Hakim,” sahut Roy.
“Pengacara mereka mengklaim, sebagian bukti yang kamu serahkan, dikumpulkan secara ilegal, dan karena itu, tidak bisa memiliki kekuatan hukum. Kamu memang menggunakan cara ilegal saat mengumpulkan bukti, Bu Lia. Mencuri identitas, melanggar informasi pribadi, rekaman ilegal dan lainnya. Bukti itu tidak bisa digunakan untuk gugatan,” ucap Sang Hakim.
“Aku kehilangan orang tuaku saat berumur 15 tahun. Aku tidak punya apa-apa. Tidak ada yang mendengarkanku, karena aku hanyalah rakyat biasa. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengungkap kebenaran. Aku hanya gadis kecil yang tidak punya pilihan apa pun. Aku tidak bisa memiliki rasa keadilan,” ucap Lisa.
“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa kembali, Pak, Bu,” ucap Hakim, lalu meninggalkan tempat itu.
Kini hanya Lisa dan Roy yang berada di ruangan itu. Roy menawarkan diri untuk mengantarkan Lisa hingga rumahnya, dan Lisa pun menerima niat baik Roy.
Saat didalam mobil, Lisa melihat cincin bersama mereka yang masih terpakai di jari manis Roy, kemudian Lisa bertanya.
__ADS_1
“Kenapa kamu masih memakai cincinnya?”
“Aku belum sempat melepaskannya.” jawab Roy.
“Saat kamu tahu tentang aku, itulah kesempatanmu untuk melepasnya,” ucap Lisa.
“Aku memasangnya di jariku karena mencintaimu. Aku akan melepasnya saat tidak mencintaimu lagi. Kebencian bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi. Bukankah begitu?” tanya Roy.
Lisa hanya diam tak menjawab ucapan Roy.
“Bisakah kamu menjawab satu hal? Aku percaya pada kembaran jiwa. Aku melihat kemiripan denganku dalam rasa sakitmu.”
“Bahkan dalam situasi ini, aku merasakan hubungan diantara kita. Apa ada satu momen, saat kamu jujur kepada ku?” tanya Roy.
“Kembaran jiwa bisa berkomunikasi, bahkan tanpa sepatah kata. Terutama disaat hidup dan mati, mereka melampaui ruang dan waktu untuk saling menemukan.”
“Kita tidak mungkin kembaran jiwa. Aku mendekatimu untuk menjatuhkanmu. Apa takdir berperan dalam hal itu?” jawab Lisa.
__ADS_1
Lisa sengaja mengatakan, bahwa ia sengaja mendekati Roy untuk menjatuhkannya, karena, Lisa tak ingin Roy mengetahui bahwa Lisa masih mempunyai perasaan padanya.