
Hujan deras mengguyur rumahku malam ini. Aku kedinginan merasakannya. Aku sengaja tidak langsung menuju ke dapur untuk membantu Mama menyiapkan makan malam. Aku lebih memilih untuk diam diri di kamar karena dingin. Di bawah, Mama dibantu Kak Savalas untuk menyiapkan makanan. Sementara Papa masih berada di dalam kamar sama seperti aku. Namanya juga anaknya. Pasti memiliki kebiasan yang sama walaupun tidak sepenuhnya sama.
Baru beberapa hari masuk, aku sudah memiliki tugas rumah yang banyak. Dan belum aku kerjakan sama sekali. Setiap malam-malam begini aku lebih suka untuk bersantai. Biasanya aku akan mengerjakan semua tugasku setelah pukul delapan malam. Mungkin, aku akan selesai jam sepuluh jika tugasku tidak banyak. Kalau banyak juga bisa sampai tengah malam. Sebenarnya begadang seperti ini tidak baik. Akan tetapi aku tidak memiliki pilihan lain. Pernah aku berpikir bahwa aku akan mengerjakan tugasku di pagi hari. Misalnya pada pukul empat atau lima. Tapi sayang. Tidak terkejakan dengan baik. Yang ada aku malah gugup sendiri.
Ponselku yang berada di atas bantal tiba-tiba bergetar. Ada sebuah pesan yang masuk. Kulihat dari notifikasinya, aku langsung menghela napas. Dengan jengah aku membuka pesannya.
Nad, dirumah lo hujan nggak?
Aku mengernyit. Apa penting bertanya seperti itu padaku?
Memangnya kalau di rumahku sedang ada hujan apa dia mau memayungi rumahku?
Belum sempat ku balas, satu pesan lagi masuk.
Sori, salah ketik.
Aku hanya membaca pesan itu. Banyak sekali cowok yang mulai mengenalku dan lumayan dekat. Tetapi Kak Nehan sama sekali tidak masuk di dalamnya. Padahal sudah jelas jika aku mengincarnya dari dulu. Sudah berhari-hari aku sekolah, tetapi hanya sekali aku bertemu dengan Kak Nehan. Itu saja sangat mengecewakan. Sesuatu yang aku harapkan tidak pernah terjadi, sementara sesuatu yang tidak aku harapkan selalu saja terjadi.
Bales pesan gue kenapa. Keberatan?
Kak Lesham mengirimkanku pesan lagi. Jari jemariku spontan langsung mengetik balasan untuknya. Nggak, Kak.
Nggak apa? Nggak seneng kalau Nehan belum balas perasaan lo?
Eh?
Kak Lesham tahu tentang perasaanku?
Perlu lo tahu. Nehan nggak bakal balas perasaan lo. Mending sama gue aja yang udah pasti-pasti.
Pesan dari Kak Lesham satu persatu terkirim padaku. Semakin aku mendapat pesan dari Kak Lesham, semakin pula aku memunculkan banyak pertanyaan. Seolah pesan yang Kak Lesham kirimkan adalah kode tentang semua kejadian yang berhubungan denganku. Termasuk juga dengan perasaanku.
Sungguh, semua ini memang masuk akal. Ucapannya dan pesan yang Kak Lesham kirimkan selalu mengandung maksud yang tersembunyi. Hanya dia yang sering sekali menyapaku dan mengirimkanku pesan. Walaupun kami belum sepenuhnya akrab. Akan tetapi, perlahan kurasa kami mulai akrab dengan seribu keanehan yang aku rasakan setiap berinteraksi dengannya.
Seperti saat ini.
__ADS_1
Bagaimana bisa dia tahu tentang aku?
Sampai perasaanku juga.
Sebenarnya apa itu Stigma?
____
"Katanya kerja kelompok. Kok pulangnya bisa bareng Maven?" Kak Savalas memulai pembicaraan denganku di meja makan. Kami duduk saling berhadapan. Aku yang tadinya sedang menuangkan air langsung menghentikan aktivitasku.
Ku tatap Kak Savalas. "Gue nggak kerja kelompok. Lagian itu yang ngirim pesan juga bukan gue, kok."
"Nadisha, ngomong sama Kakak yang sopan, dong," tegur Mama. Setiap kali aku memakai lo-gue dengan Kak Savalas, Mama selalu menegurku. Katanya tidak sopan. Aku harus belajar tata krama dengan baik. Salah satunya yaitu dengan Kak Savalas. Ketika aku yang memakai lo-gue Mama menegur. Tetapi kalau Kak Savalas yang ngomong begitu Mama biasa saja. Seakan-akan tidak ada apa-apa.
Aku mengembuskan napasku perlahan, kemudian memalingkan wajahku dari Kak Savalas. "Kakak juga nggak begitu sama Nadisha, Ma."
"Ya, beda lah," jawab Mama.
"Beda gimana? Orang sama-sama anak Mama."
"Iya, Nadis anak Papa juga. Udah. Tunda dulu bicaranya. Nggak baik makan sambil ngobrol," ujar Papa angkat bicara.
Kak Savalas memang susah percaya denganku. Padahal apa yang aku omongkan itu benar. Keras kepala. Harusnya aku menceritakannya kejadian yang sebenarnya secara detail agar dia percaya padaku. Kalau tidak begitu, pasti Kak Savalas akan menanyakanku terus kenapa bisa pulang bersama Kak Maven.
Papa sudah selesai makan. Diantara kami berempat, yang makannya paling cepat hanya Papa. Bagian kedua disusul Kak Savalas dan yang terakhir tentunya aku. Entahlah, kalau di rumah makanku lama. Tapi kalau di luar rumah aku cepat.
"Nadis gimana sekolahnya?" tanya Papa.
Aku terdiam sejenak lantas tersenyum. "Baik-baik aja kok, Pa."
"Udah punya teman baru selain Zelo?"
Ah, setiap kali aku masuk sekolah baru seperti ini pasti Papa akan menanyakan hal yang sama seperti sekarang. Dulu aku selalu menjawabnya belum. Tetapi sekarang, aku akan menjawabnya sudah. Iya, sudah. Aku sudah punya teman baru meskipun sedikit aneh.
"Papa mah nggak usah nanya teman baru ke Nadisha. Nanti juga jawabannya sama kayak tahun lalu," sahut Kak Savalas sambil menyunggingkan senyumnya. Dia memang sok tahu. "Ya, udah. Kalau belum punya nggak apa-apa. Nanti juga punya kalau udah waktunya," balas Papa sambil tersenyum tulus kepadaku.
__ADS_1
Aku menggeleng.
"Nadis punya kok, Pa."
Kak Savalas tertawa. "Siapa? Maven? Kalau dia kan teman Kakak, bukan teman kamu," sahutnya lagi memakai aku-kamu.
"Sok tahu iih!" kesalku. Aku mengercutkan bibirku. Nafsu makanku tiba-tiba menghilang. Untungnya makananku sisa sedikit. Kalau tidak ini akan mubazir. Dan ujung-ujungnya Mama yang memarahiku. Iya, aku lebih takut dengan Mama daripada Papa. Aku juga lebih sering dimarahi Mama daripada Papa.
Papa mengangkat satu alisnya. "Oh, ya? Siapa?"
"Jastin namanya," jawabku. Memang siapa lagi yang bisa ku anggap teman baru selain dia? Kalau Kak Lesham, Kak Jin, Kak Maven dan lainnya itu hanya Kakak kelas baruku. Belum termasuk teman baruku, kan?
Aku juga tidak mau mengakuinya teman dulu.
Iya. Kalau aku dianggap temannya. Lah, kalau tidak?
Mau ditaruh dimana wajahku nanti?
"Cowok, ya?" tanya Papa lagi. Ku lihat sekilas Kak Savalas langsung berubah mood. Wajahnya tampak terkejut ketika aku menyebutkan nama Jastin. Namun, aku tidak memperdulikannya. Aku memilih membalas pertanyaan Papa dengan anggukan. "Nggak apa-apa, kan, Pa, kalau cowok?"
"Nggak apa-apa asal dia nggak macem-macem sama kamu," Papa langsung pergi setelah itu. Aku melanjutkan makanku. Tetapi kali ini aku memakan buah-buahan karena nafsu makan nasiku sudah hilang karena Kak Savalas.
Mama menatapku setelah lama diam tanpa menimbrung. "Meskipun Papa ngebolehin kamu, tapi kamu harus tetap hati-hati sama dia. Orang yang baik di luar belum tentu dalamnya juga baik." Aku hanya mengangguk mendengar perkataan Mama. Walaupun aku bukan anak tunggal, tetapi kasih sayang kedua orangtuaku seperti aku ini hanyalah anak satu-satunya. Mama tersenyum. Ia membereskan meja makan dan membawa piring kotor itu ke dapur. Kini hanya tinggal aku dan Kak Savalas.
"Lo lupa sama pesan gue?"
Kak Savalas membuka suara dengan melontarkan pertanyaan kepadaku. Aku yang tadinya sedang serius mengupas buah apel, kini aku mendongak untuk menatapnya. Aku tak langsung menjawabnya. Maksud pertanyaan Kak Savalas itu mengenai cowok. Aku masih ingat betul pesannya. Tapi aku sengaja tidak melakukannya karena alasannya tidak jelas.
"Inget, kok."
"Kenapa nggak dilakuin?"
"Ya, aneh aja gitu."
"Kalau aneh kenapa dulu bilang mau melakukan?"
__ADS_1
"Aku pikir cuma bercanda."
"Kakak serius, Sha." Kak Savalas menatap iris mataku tajam. Aku takut. Iya. Belum pernah aku ditatap setajam ini. Apalagi karena hal yang menurutku sepele. "Kakak cuma pengen kamu baik-baik aja meskipun kamu udah membuka jurang."