Bena

Bena
BAB 16D


__ADS_3

Hari berikutnya masih sama. Friska tidak datang menghampiri. Tempat duduknya masih berada di tempat Damira. Selama tiga hari ini dia mendiamkan aku. Setiap kali aku berusaha untuk mendekat, dia malah semakin menjauh. Sengaja atau tidak, namun itu membuatku bingung sendiri. Seharusnya aku yang marah karena Mamaku dijadikan tersangka atas kasus yang sudah lama. Sedikit mirip tapi bukan berarti mirip. Terbalik sekali malah Friska yang terlihat marah.


Omong-omong sudah sampai sejauh mana masalah orangtua Friska, ya? Aku penasaran. Siapa tahu sudah membaik. Aku sangat menantikan berita itu. Friska tak biasa-biasanya mampu menjauhiku selama ini. Dia bahkan tidak pernah marah denganku sampai diam-diaman seperti ini. Hanya karena masalah kemarin saja semuanya jadi aneh bagiku. Sesuatu yang tidak biasa itu terjadi.


Seperti halnya Jastin yang tidak henti-hentinya mengajakku pacaran. Padahal sudah jelas dan terang sekali aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak menyukainya. Lagipula juga Jastin sendiri yang bilang jika dia bersyukur bila aku tidak menyukainya. Bukan langsung menjauh atau memberi jarak, dia semakin nempel denganku. Ajakannya itu berlangsung selama tiga hari ini dengan menghasilkan jawaban yang sama.


Tidak.


Bukan gimana-gimana alasanku menolak. Jastin lumayan ganteng. Popular juga. Temannya banyak sekali. Senyumnya itu manis. Meskipun suka menyebalkan tetapi tidak selamanya dia membuatku jengkel. Ada kalanya dia baik. Selalu membantu saat aku butuh. Ya, jika diukur antara sikap baiknya dan sikap menyebalkannya sekitar satu banding lima. Masih lebh banyak sikap menyebalkan.


Namanya juga manusia. Pasti ada sisi baik dan buruknya. Aku juga tidak begitu heran mengapa kadang banyak orang menyebalkan datang ke hidupku. Selalu membuatku ingin marah-marah. Perkataannya sampai membuatku geleng-geleng kepala. Akan tetapi, masih ada senyuman yang terukir diwajah mereka yang menular kepadaku. Itu sisi positifnya. Senyuman yang tidak akan pernah menghilang.


Jika bicara tentang senyuman aku malah mengingat Kak Lesham. Bagaimana kabarnya sekarang? Kuliah dimana? Atau sudah kerja? Senyumannya masih sama menenangkan atau sudah sedikit berbeda? Beribu pertanyaan muncul dibenakku tentangnya. Dari sekian banyak anak Stigma, hanya senyum Kak Lesham yang ku ingat. Kelembutan dari sosok Kak Jin. Sikap aneh Kak Vante dan Jastin yang hanya berbeda pada titik emosi saja. Kalau Kak Vante itu mudah berubah ekspresi. Kadang seperti anak kecil, kadang juga seperti remaja pada umumnya. Kak Vante mudah sekali emosi sedangkan Jastin tidak. Itulah perbedaannya.


Kak Syden. Dia cowok yang super ajaib menurutku. Kesan pertamaku dengannya datar, dingin, dan ketus. Awalnya memang seperti itu. Dia mudah sekali membuatku terpojok. Tetapi setelah insiden antara Kak Lesham, aku, Kak Tavis, dan Kak Syden---sikapnya sedikit berubah. Aku pikir Kak Syden bukan orang yang mudah emosi. Tapi nyatanya, emosi yang muncul pada dirinya cukup ganas. Tidak lagi main adu mulut namun sudah ke baku hantam.


Ngeri sekali.


"Oii, melamun aja." Aku mendongak, menatap Jastin yang sedang menyengir kepadaku. Saat ini aku sedang berada di parkiran sekolah. Sengaja datang ke sini sendirian untuk mencari kesunyian. Tadinya mau mengajak Friska. Tapi dia sudah lebih dulu keluar kelas. Kelihatannya sangat buru-buru. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu sekarang tanpa aku.


Jastin duduk pada salah satu motor yang berada di depanku. "Ada niat nerima tawaran gue, nggak?" tanyanya.


Aku tahu apa yang dia maksud. Pasti soal tawaran menjadi pacarnya itu. Sekarang aku sedang tidak menyukai siapa-siapa. Aku masih teringat Kak Lesham. Ah! Kelihatannya aku sudah move on dari Kak Nehan ke Kak Lesham. Nyatanya dari sekian cowok yang ku kenal hanya Kak Lesham saja yang ku ingat. Menyebalkan sekali rasanya. Move on ketika orang yang digunakan untuk move on sudah tidak ada.


Kak Lesham apa sudah dekat dengan Ovdiar, sepupunya Kak Tavis, ya?


Apa sudah pacaran?


"Malah melamun lagi. Inget. Ntar kesambet baru tahu rasa," celutuk Jastin lagi. Aku masih mendengar perkataannya, bahkan sejak tadi. Hanya saja aku sedang malas untuk menjawabnya.


Aku menoleh. "Stigma apa kabar?"

__ADS_1


"Kok malah nanya itu. Ini gue dikasih jawaban dulu, Nanad."


"Masih sama, Jas. Temenan aja udah cukup," jawabku. Iya, cukup teman saja jangan lebih.


Dia menghela napas dengan kecewa. "Yah, sakit hati Abang." Aku tahu jika kecewanya hanya akting belaka. Lagian, di depanku dia bisa akting seperti ini. Tapi dibelakangku mungkin dia sudah menjadi milik orang lain. Siapa sangka bisa begitu, kan? Manusiawi.


"Kak Lesham, Kak Vante, sama Kak Syden kuliah?" Aku bertanya kembali.


"Nggak, sih. Mereka nggak kuliah."


"Langsung kerja, ya?"


"Nggak juga."


"Terus ngapain? Jadi pengangguran? Nggak mungkin kali," elakku. Mana mungkin seorang Kak Syden, Kak Lesham, dan Kak Vante tidak kuliah? Kak Maven saja kuliah di UI jurusan Seni. Entah seni apa aku juga lupa. Padahal jika dibandingkan, Kak Maven itu kepintarannya lebih pintar Kak Syden kemana-mana.


Jastin memandangku aneh. Sulit diartikan. Lantas dia tertawa kecil. "Siapa juga yang bilang kalau mereka nganggur," katanya.


Tidak kerja.


Terus ngapain?


Bukannya itu artinya menganggur?


"Ya terus ngapain sekarang?" desisku jengkel.


Jastin tampak seperti orang yang sedang berpikir. "Ada, deh. Bakal gue jawab kalau lo mau jadi pacar gue. Gimana?"


Masih saja memanfaatkan kesempatan. Jelas saja jika aku tidak akan mau menjadi pacarnya. Aku pernah menjalin hubungan tanpa perasaan. Itu rasanya canggung dan menyebalkan sekali. Aku tidak mau mengulang hubungan yang seperti itu. Lebih baik aku tidak tahu tentang anak Stigma yang sudah lulus daripada harus menjadi pacar Jastin. Walaupun aku masih penasaran dengan mereka, tapi tidak apa. Akan ku tahan untuk tidak tahu. Dengan begitu pelan-pelan akan ku lupakan semuanya.


"Nggak, makasih." Aku memandang ke arah lain. Lebih tepatnya pandanganku lurus ke depan.

__ADS_1


"Friska juga nggak tahu soal ini."


Aku mengangkat satu alisku sambil menoleh kepadanya. Sok tahu banget jika aku akan bertanya kepada Friska untuk memenuhi rasa penasaranku ini. "Gue juga nggak begitu pengin tahu. Nggak penting," tuturku bohong.


Jauh dilubuk hati aku ingin sekali tahu jawabannya. Apa yang sedang mereka lakukan jika tidak kuliah atau kerja? Apa karena mereka dari keluarga kaya makanya jadi tidak butuh untuk kuliah? Tapi 'kan yang dicari ilmunya. Orang kaya pun juga butuh ilmu bukan cuma butuh uang saja untuk hidup. Rasanya berbagai alasan tidak bisa mematahkan niat untuk tidak kuliah ataupun kerja.


"Masa sih nggak penting?"


"Emang nggak."


"Kalau soal Lesham sama Ov, nggak penting juga?"


Eh?


"Jin yang masih nanya-nanya kabar tentang lo?"


Bertanya kabar?


"Vante yang masih berharap sama lo. Itu nggak penting juga?"


Berharap?


"Nehan yang mulai suka sama lo. Juga nggak penting?"


Suka?


"Syden yang---"


"Maksud lo apa, sih?" Aku memotong ucapannya.


Jastin mengembuskan napasnya perlahan. Lantas menoleh kepadaku sambil menggaruk tengkuknya. Tatapannya mulai serius denganku. "Mereka semua ngincer lo," katanya.

__ADS_1


__ADS_2