Bena

Bena
BAB 21A


__ADS_3

Setelah pertemuan itu, aku memutuskan untuk homeschooling selama dua bulan. Berhubung pihak STANDAR memperbolehkanku belajar di rumah untuk persiapan ujian, pada akhirnya aku diperbolehkan. Aku beruntung sekali mendapat izin itu. Semua yang terjadi pada pertemuan antara aku dengan anak Stigma benar-benar membuatku takut untuk datang ke sekolah.


Mereka menyuruhku untuk memilih salah satu dari mereka. Lalu setelah ku pilih, aku masih merasa takut. Aku takut mereka menemuiku lagi. Mendekatiku lagi. Atau memintaku untuk memilih mereka lagi. Ah, entahlah aku juga khawatir.


Aku sama sekali tidak tahu mereka seperti apa. Aku takut mereka berulah lagi.


"Aku rasa keputusan kamu nggak bener, Dek." Kak Jin sudah ada disampingku sejak tiga puluh menit yang lalu. Sejak aku memilihnya, dia sering sekali datang ke rumahku. Berkenalan dengan Mama dan Papa. Sampai-sampai berjalan seminggu ini, dia sudah lima kali datang ke rumahku.


Aku menoleh. Tapi masih bingung mau bicara apa.


"Kamu nggak perlu setakut itu." Kak Jin menambahkan lagi.


"Boleh aku tahu gimana mereka sekarang?" tanyaku.


Sampai saat ini aku sama sekali belum menguhubungi Kak Savalas tentang keikutsertaannya menjadi anak Stigma tanpa ku ketahui. Aku ingin bertanya banyak kepadanya. Kenapa dia tidak jujur padaku. Kenapa dia menyembunyikan semua ini. Kenapa juga dia tidak menceritakan semua yang dia tahu tentang STANDAR dan Stigma. Aku benar-benar kecewa.


Tadinya, selepas dari pertemuan dulu aku mau menghubungi Kak Savalas. Tetapi Kak Jin melarangku. Menyuruhku untuk tidak menghubungi Kak Savalas sekarang.


"Daripada kamu mikirin mereka, mending kamu mikirin sekolah kamu. Habis ini mau kemana? Mau ambil jurusan apa? Kuliah dimana?"


Aku menghela napas. "Kak..., aku juga mau klarifikasi tentang...."


"Sejak kamu pilih aku saat itu, artinya aku udah jadi pacar kamu detik itu juga, Dek," sahut Kak Jin lebih dulu.


"Kakak tahu kan aku udah pernah pacaran sama Kak Vante dulu? Kakak juga tahu kan kalau aku cuma dijadiin permainan doang?" Aku meneguk ludahku kasar. Mengingat hal yang dulu membuatku pilu. "Aku belum siap buat pacaran lagi, Kak. Aku takut hal kayak dulu terjadi lagi."


Kak Jin mendekat, mempersingkat jarak yang ada. "Aku serius, Dek." Dia menatapku lekat. "Boleh kasih aku kesempatan untuk itu?" tanyanya.

__ADS_1


ASTAGA, MAMA!


Ucapan Kak Jin membuatku mematung seketika. Tiba-tiba aku tersentuh dengan perkataan sederhananya itu. Tolong dong. Ini jantungku rasanya sedang pesta.


"Stigma selesai, Dek. Mereka nggak bakal deketin kamu lagi." Kak Jin tersenyum sambil mengusap-usap puncak rambutku. "Sekarang cuma tinggal aku dan kamu."


Ini kenapa rasanya mendadak jadi pengin nge-fly.


"Senyum aja nggak usah ditahan," celutuk Kak Jin yang membuatku makin pengin ngefly dan meninggalkan dia sendirian. Aku rasanya nggak tahan didekatnya lagi. Malu. Jika begini, mana mungkin aku kuat untuk berpacaran dengan Kak Jin. Apa aku sudah siap untuk memulai itu?


***


"Friska," sapaku ketika aku tak sengaja melihatnya lewat didepanku dengan Kak Vante. Apa mereka berdua memiliki hubungan? Friska dan Kak Vante saling bergandengan tangan. Itu membuatku kesal entah kenapa. Lalu, aku hanya bisa mendiamkan rasa kesal ini.


Malam ini, Papa mengajakku ke taman berhubung Papa juga pulang lebih awal tadi. Karena sudah lama sekali aku dan Papa tidak menghabiskan waktu berdua, maka Papa mengajakku untuk mencari sate kambing yang menjadi langgananku dengan Papa dulu.


Tanpa ku sangka, saat aku sedang menunggu sate pesananku, Friska dan Kak Vante tiba-tiba terlihat oleh mataku. Setelah ku panggil, keduanya menoleh padaku. Seharusnya tadi aku diam saja seolah tidak melihat mereka. Jika begini apa yang harus ku lakukan?


"Kalian pacaran?" tanya Papa to-the-point kepada Kak Vante dan Friska. Mereka terlihat kaget, begitupun dengan aku. Ya, aku memang pengin tahu hubungan mereka itu sampai mana. Tapi mendengar pertanyaan yang dilontarkan Papa, aku menjadi terharu. Ternyata Papa sepeka itu dengan rasa penasaranku.


Friska hanya tertawa kecil. "Ya, ampun, Om. Ngagetin Friska aja," tutur Friska.


"Belum kok, Om." Kak Vante ikut menjawab.


Belum, ya?


Itu artinya masih ada kesempatan untuk menjadi sudah.

__ADS_1


ARGHHHH!!!


Kenapa sih saat orang yang pernah dekat dengan kita, lalu pergi menjauh, dan dekat dengan orang lain, orang itu baru menjadi berharga? Kenapa setelah Kak Vante pergi, aku jadi merasakan betapa berharganya dia. Kenapa saat dia dekat dengan cewek lain, aku selalu enggan melihatnya?


Kenapa semua itu baru ada saat Kak Vante sudah bersama yang lain?


Memang begini, ya, perasaan itu akan muncul bila kita sudah kehilangan. Dan kini aku merasakannya. Aku mengakuinya. Aku nggak suka lihat Kak Vante gandeng cewek lain. Aku nggak suka lihat Kak Vante berduaan sama cewek lain. Aku juga yang paling jengkel jika Kak Vante sudah menjadi milik orang lain.


Apalagi orang itu Friska. Pengin marah, tapi karena apa? Kak Vante sudah menjadi mantan. Aku sudah kehilangan hak untuk marah. Masa depan memang nggak ada yang tahu. Nyatanya, Friska yang dulu suka mencari kesempatan untuk dekat dengan Kak Savalas malah akhirnya dekat dengan Kak Vante.


Sekarang, dihidupku ada Kak Jin. Lumayan, sih. Ada yang membuatku merasa tenang. Tapi, ya, gimana. Perasaanku malah salah sasaran. Seandainya aku menyukai Kak Jin, ini semua nggak bakal ribet. Ya, meskipun kadang Kak Jin membuatku ingin nge-fly, tapi kalau sudah melihat Kak Vante lagi tiba-tiba keinginan itu hilang seperti ditelan bumi dalam sekejap.


"Doain aja, ya, Om." Friska terlihat bahagia. Bagaimana mungkin aku tidak senang melihat sahabatku senang? Baru kali ini aku jengkel melihat Friska bahagia. Jahat sekali diriku.


"Nyari es krim, yuk, Van," ucap Friska pada Kak Vante yang langsung diangguki begitu saja. Manggilnya aja sudah nggak pakai embel-embel. Mungkin memang benar. Tidak lama lagi mereka pasti pacaran.


"Kita pergi dulu, Om. Permisi," ujar Kak Vante pada Papa. "Mari, Om. Duluan Nad," imbuh Friska.


Papa hanya tersenyum riah. "Ah, iya-iya."


"Have fun, Fris." Hanya itu yang bisa ku katakan. Memang harus berkata apa?


"Lo juga, ya!"


Papa menepuk bahuku. "Papa nggak salah lihat, kan, Nad?" tanyanya.


"Enggak, Pa."

__ADS_1


"Friska nikung kamu?"


Lah, aku langsung membelalakkan mataku selebar mungkin. Papaku pikirannya sangat liar. Padahal kan tidak setragis itu kisahnya. Hanya saja bagianku yang sedikit menyedihkan.


__ADS_2