Bena

Bena
BAB 18C


__ADS_3

"Eh! Lo, Nanas!" teriak Sohee kepadaku sambil menghampiriku, lebih mendekat denganku.


"Nadisha, bukan Nanas." Aku meralat ucapannya. Jengkel sih sebenarnya. Orangtuaku sudah memberiku nama yang bagus. Bahkan selama aku hidup di daerah ini, aku belum menemukan seseorang yang memiliki nama sepertiku. Bisa jadi memang nggak akan ada. Kalau begitu kan artinya namaku bukan nama yang pasaran. Ini itu nama yang sangat bagus. Aku menyukainya.


Sohee memutar bola matanya. "Serah lo, deh. Minggir sana! Menjauh dari calon pacar gue," titahnya.


Baru saja menjadi calon pacar lagaknya sudah seperti pacar. Nggak suka banget kalau aku dekat sama Jastin. Padahal aku kan yang sekarang resmi menjadi pacarnya Jastin. Ya walaupun hanya sekadar pura-pura belaka. Meskipun begitu tetap aku yang memiliki hak atas Jastin. Bukan Sohee yang tiba-tiba selalu muncul di saat yang tidak tepat.


"Ih! Dibilang menjauh masih ada stay disini," omel Sohee lagi.


Ya gimana? Aku belum selesai berbicara dengan Jastin. Bahkan aku dengan dirinya belum menyepakati tentang status pacar pura-pura ini. Aku juga belum menceritakan perihal Kak Vante yang katanya ingin serius denganku. Entah itu memang benar atau hanya omongan belaka. Aku ingin meminta pendapatnya Jastin. Kadang kala, saat berbicara dengannya aku menemukan sesuatu.


"Dia pacar aku, Yang," ujar Jastin.


Idih! Belum juga jadi apa-apa sudah sayang-sayangan. Didepan umum lagi. Jika mereka berdua memang pasangan, aku tidak akan berkomentar. Tapi ini aku yang menjadi pacar Jastin lho. Aneh sekali jika Sohee yang dipanggil 'sayang'. Walaupun aku tidak mengharapkan dipanggil 'sayang' oleh Jastin, setidaknya dia harus bisa menjaga harga diriku lah.


"Hah?! Seriously, beib? Kok malah sama si Nanas, sih? Padahal udah jelas banget kalau aku lebih pantas buat kamu daripada dia," bantah Sohee sambil menatapku tidak suka.


Ada apa dengan dunia sekarang?


"Ak---"


"Percobaan dulu." Jastin sudah lebih dulu memotong ucapanku. Dia menaik turunkan alisnya seperti sedang mengodeku.


Sohee tampak heran, begitupun denganku. Aku juga tidak paham maksud ucapan Jastin.


"Maksud kamu percobaan apa?" Sohee langsung duduk di sebelah Jastin. Tangannya seketika merangkul Jastin. Ah, lebih tepatnya dia sedang bergelayut di lengan Jastin sembari melotot kepadaku. Awas saja jika matanya sampai lepas. Aku tidak akan mau bertanggung jawab. Aku lepas tanggungan.


Jastin menggenggam tangan Sohee. Fake boy sekali. Baru saja tadi dia memegangku dan memperlakukanku seperti pacarnya. Lalu ketika beberapa menit ke depan ini dia juga melakukan hal yang sama kepada Sohee. Setelah ku pikir-pikir, Jastin tidak cukup dengan satu cewek. Mungkin dia juga memperlakukan cewek lain seperti ini. Bukan cuma aku dan Sohee belaka. Pasti dia memiliki banyak cewek yang dimodusi seperti ini.


"Sebelum sama kamu, aku harus latihan dulu sama yang dibawah kamu biar hubungan kita nanti langgeng." Jastin memainkan jemari tangan Sohee. Astaga. Ini kenapa kesannya seperti aku yang menjadi obat nyamuk?


Lagipula omongan Jastin barusan aneh. Nggak nyambung sekali. Apa hubungannya pacaran dengan yang dibawah Sohee?


Terlalu banyak alasan untuk mempermainkan perasaan.


"Aku pamit," ucapku pada akhirnya. Sengaja tidak menggunakan logat 'lo-gue' karena ada Sohee. Aku cuma nggak mau dia kesal. Dia kan memang suka banget kalau orang lain berbicara dengannya memakai 'aku-kamu'. Katanya sih lebih terkesan dihargai. Maksudnya dipandang lebih tinggi oleh orang lain.


"Lo mau ke mana?" Jastin memandangku. "Masa ngebiarin pacarnya selingkuh."


"Harus banget gue peduliin?"


"Nanas! Kalau ngomong sama bebeb gue tuh yang sopan!" sarkas Sohee.

__ADS_1


Jastin menggeleng. "Nggak boleh marahin pacar gue, Hee."


"Habisnya dia ngeselin. Kenapa nggak kamu putusin aja, sih? Ganggu melulu kerjaannya."


"Permisi." Aku langsung bangkit menjauh dari mereka. Aku tahu banyak pasang mata yang memperhatikanku. Tapi apa boleh buat. Jika ku pedulikan yang ada malah semakin menjengkelkan. Lebih baik aku tidak menggubris semua itu.


Sebelum aku keluar dari kantin, aku mendengar sebuah teriakan yang tertuju kepadaku. "Selingkuh dulu, ya, pacar!"


Otaknya memang nggak benar, kan?


Tadi bilangnya dia mengabaikan Sohee yang sudah kentara banget jika anak itu menyukainya. Jastin bilang bahwa dia tidak begitu ingin mengurusi masalah itu. Tapi yang dilakukannya sekarang justru bertolak belakang. Aku semakin ingin menjauh darinya. Sungguh. Dengan tiba-tiba saja tingkahnya bisa berubah terbalik.


Kalaupun dia mau mengurusi Sohee juga tak apa. Aku tidak begitu mempermasalahkan. Hanya saja bisa kan jika dia tidak memberitahu semua orang bila aku ini sudah resmi menjadi pacarnya. Memang pura-pura. Tapi orang lain pasti menganggap yang berbeda. Mungkin mereka langsung percaya jika Jastin adalah pacarku. Pacar yang seriusan, bukan pura-pura.


Ah! Gara-gara kedatangan Sohee aku tidak jadi menyepakati kontrak pacar pura-pura ini dengan Jastin. Masalahnya itu ada pada Jastin. Aku hanya takut dia melakukan sesuatu dengan seenaknya. Tentu yang berhubungan denganku. Jika saja aku sudah membuat kesepakatan dengannya, pasti aku tidak akan sekhawatir ini. Sampai Jastin melakukan sesuatu yang aneh, aku bisa langsung mengancamnya. Ku pikir ini akan jadi lebih mudah.


"Lo pacarnya Jastin?"


"Sejak kapan kalian pacaran?"


"Dari Stigma ke Stigma lagi?"


"Lo Nadisha mantannya Vante, kan?"


"Nad, bisa lo jelasin?"


Begitu banyak orang-orang di sekitarku yang melontarkan pertanyaan tidak penting karena teriakan Jastin. Aku yang berhenti berjalan itu menghela napas. Lalu kembali berjalan mengabaikan bondongan pertanyaan yang kian bertambah.


"Nyebelin," gumamku lantas bergegas keluar kantin dengan mempercepat langkah.


Ketika aku hendak masuk ke kelas, tiba-tiba lengan tanganku seperti ada yang menariknya. Aku membalikkan badan, menatap seseorang itu dengan jengkel, tetapi dia malah menyengir. Kepribadian yang tidak pernah mengenal salah. Lagipula untuk apa dia datang kemari jika kekasihnya---selingkuhannya menghampirinya tadi. Aku juga tidak peduli jika dia bermesraan dengan siapapun. Asal jangan bawa-bawa aku.


"Apa lagi?" tanyaku jengah.


"Lo..., marah?" Dia balik bertanya dengan menenggelamkan cengirannya itu. Kali ini tampak lebih normal. "Gue sebenarnya mau nanya sesuatu sama lo. Sesuatu yang udah lama gue pendam," katanya.


"Nanya apa?"


"Jawab dulu yang tadi. Lo marah nggak gue gituin?"


Aku mengernyit. "Aneh lo."


"Lo marah?"

__ADS_1


Aku menggeleng. Aku tidak marah. Hanya jengkel saja.


"Senyum dong kalau nggak marah."


"Banyak maunya ya. Lo mau nanya apa? Gue mau masuk, nih."


"Senyum dulu, dibilang juga."


Dengan malas aku menyunggikan senyum dengan singkat. Tanpa ketulusan, yang ada hanya keterpaksaan belaka.


"Begitu dong."


"To the point bisa nggak?"


"Bisa, bisa. Ciee yang udah nggak tahan," timpalnya malah aneh-aneh.


Aku pun bergegas masuk, namun lagi-lagi tangannya menghalangiku. Dia mendekatkan tubuhnya kepadaku. Lebih dekat hingga aku bisa dengan jelas melihat matanya yang indah. Astaga! Aku jadi memujinya.


"Lo beneran nggak ada rasa sama gue?" Jastin membuka suara.


"Nggak," jawabku.


"Kalau gue bilang gue pengin pacaran beneran sama lo gimana?"


"Hah?"


"Gue serius."


"Jangan gue deh kalau lo mau mainin cewek. Mending ke Sohee atau ke siapa terserah lo. Yang penting jangan ngajak-ngajak gue." Aku menolak mati-matian tawarannya. Sedangkan dia malah tersenyum kepadaku. "Gue nggak suka Sohee. Gue sukanya lo."


"Gue nggak mempan dibegituin, Jastin." Lagi, aku enggan. Aku juga sadar. Cowok yang didepanku ini siapa. "Janji deh. Gue bakal berubah jadi lebih baik lagi kalau lo mau jadi pacar gue. Gue nggak akan godain cewek lain lagi, sueer. Mau, ya?"


"Jastin, gue...." Aku kehilangan kata-kata. Bingung harus berkata bagaimana.


Dia mengangguk-angguk. "Gue tahu lo nggak bisa nerima gue. Tapi apa boleh gue minta satu permintaan sama lo?"


Aku tidak begitu yakin dengan permintaannya. Dia bagaikan sesosok manusia yang aku takuti. Jantungku rasanya mau lepas. Napasku sedikit tak teratur seperti habis berlari maraton. Aku cemas sekali sekarang. Tindakan Jastin tidak pernah terbaca.


"Jangan terima Vante lagi di hati lo," bisik Jastin pelan. "Gue nyesek kalau dia menangin hati lo lagi." Tak lama setelah mengatakan itu dia langsung pergi. Meninggalkan aku yang masih terpatung dengan perkataannya. Sungguh menakutkan.


__________


Ada yang ditanyakan?

__ADS_1


__ADS_2