
Pagi ini Kak Vante sudah stand by di rumahku. Aku tidak tahu mengapa dia jadi sepagi ini menjemputku. Apa iya Kak Vante memang ingin menghabiskan waktu dengan keluargaku? Secara kan Mama sudah meresponnya dengan baik. Dan Papa juga sudah terbiasa dengan kehadirannya Kak Vante. Meskipun Papa sudah terbiasa, namun aku tak mendapatkan jawaban boleh dari Papa. Sampai sekarang pun Papa masih abu-abu. Belum memberiku izin. Lagipula semakin hari Papa semakin sibuk, jadi aku tidak memiliki waktu untuk berbicara berdua dengan Papa. Kami hanya bertemu saat sarapan saja. Itupun juga terjadi dengan cepat. Papa pulang ke rumah setelah aku tidur. Kalaupun aku ingin mengajak Papa mengobrol, itu rasanya sudah sangat malam.
Sebenarnya aku tidak peduli akan jawaban Papa nantinya. Sampai sekarang saja, aku belum memiliki rasa apapun kepada Kak Vante. Aku hanya merasa bahwa aku sedang menjalin hubungan tanpa ada rasa. Aku sendiri juga tidak tahu apakah Kak Vante benar-benar mencintaiku atau tidak. Sejauh ini tidak ada reaksi yang lebih. Aku takut jika nantinya Kak Vante hanya main-main denganku. Apalagi Mama sudah sangat menyukai Kak Vante. Sedang Kak Savalas, dia adalah orang pertama yang mendukungku. Dan ku rasa tidak lucu jika nantinya aku hanya dipermainkan. Hubungan tanpa rasa ini layaknya sudah berjalan kea rah yang tidak semestinya.
Jika Kak Vante benar-benar serius denganku, mungkin aku akan memilih untuk mengalah.
Iya, aku akan berusaha juga untuk mencintainya.
Ah, aku rasa bahasa cinta itu terlalu tinggi bagiku.
Aku ini masih bocah.
Okelah lupakan. Itu semua jika Kak Vante benar-benar menyukaiku. Anggap saja suka. Kalau cinta, aku rasanya terlalu berlebihan.
Jika Kak Vante tak serius denganku, aku aku segera untuk memutuskannya. Karena itu, aku akan melupakan sejenak tentang Stigma, Panditha, dan juga tidak ada kabarnya Kak Lesham. Sekarang aku hanya harus mencari tahu kebenaran akan perasaan Kak Vante terhadapku. Iya. Itu harus ku lakukan. Jangan sampai hubungan tak jelas ini malah semakin jauh. Nanti yang ada, aku malah sakit hati di akhirnya.
"Nadisha, makanannya dimakan dong. Jangan dilihatin aja," ungkap Mama mengejutkan. Aku yang sedari tadi melamun langsung tersadar seketika. Mama hanya menggeleng pelan setelah itu. Sementara aku hanya meringis saja.
Lalu Mama pergi. Aku memperhatikan lauk pauk yang ada di depanku. Sungguh banyak sekali. Aku tidak mungkin sanggup untuk menghabiskan semuanya. Kalau tidak habis pagi ini, pasti Mama akan membuangnya percuma. Ku rasa Kak Vante belum sarapan. Akan ku ajak dia sarapan dengan Kak Savalas juga.
Tanpa banyak berpikir, aku pun berjalan keluar rumah. Ku lihat tadi Kak Vante sedang duduk di teras.
Ketika hampir lima langkah lagi aku sampai di teras, terdengar percakapan antara Kak Vante dan Kak Savalas. Kedengarannya cukup serius. Akupun segera berdiri dibalik tembok sambil menguping obrolan mereka. Ku lebarkan selebar-lebarnya telingaku.
"Jadi gimana respon anak-anak setelah tahu alasan gue? Si Syden pasti marah banget ya sama gue?" tanya Kak Savalas. Memang alasan apa? Ehm, apa ada hubungannya dengan kejadian di Supermarket berminggu-minggu yang lalu?
Ketika Syden memaki Kak Savalas.
Katanya hanya latihan drama.
Lalu kenapa diungkit?
Kak Vante hanya tertawa kecil. Seakan semua yang dibicarakan tidak begitu penting baginya. "Tebakan lo udah pasti bener, Bang. Gila, sih. Gue juga kaget pas tahu alasan lo. Tapi, gue rasa ketakutan lo nggak berguna deh, Bang. Setelah insiden Panditha dulu, kita-kita udah nggak seegois yang lo pikir. Semuanya berubah setelah insiden itu." Kata Kak vante begitu saja. Tunggu, sampai titik ini aku belum paham.
__ADS_1
"Gue bukannya nggak percaya lagi sama kalian. Gue cuma nggak mau Nadisha kenapa-napa. Dia satu-satunya adik gue. Seharusnya kalian nggak melakukan hal ini lagi, kan? Katanya udah berubah. Tapi permainan ini masih dilakukan. Gimana, sih?" Kak Savalas meminta penjelasan. Semakin rumit saja setelah namaku masuk dalam pembicaraan mereka. Seakan aku ini memang benar-benar dalam bahaya. Astaga, aku semakin penasaran. Sebenarnya ada apa?
"Ini bukan permainan, Bang. Yang kali ini serius."
Kak Savalas terkekeh. "Bukannya dulu juga begini? Nanti ujungnya juga buruk, kan? Gue akan tetap berada di zona ini sampai kalian berhenti melakukan ini." Kak Vante menghela napasnya. Ia menggaruk rambutnya yang ku pikir tidak gatal. "Percuma Abang ada di zona ini. Nggak ada gunanya. Bentar lagi Abang ujian. Habis itu lulus. Nggak akan ada lagi yang jagain Nadisha di sekolah. Kecuali kalau Abang masuk lagi dan nyuruh kita-kita untuk jagain dia," saran Kak Vante.
"Lo harusnya udah tahu gimana prinsip gue, Van. Gue nggak akan masuk lagi kalau gue udah keluar." Kak Savalas mengembuskan napasnya. Sebenarnya ini pembicaraan apa, sih? Kenapa rumit sekali?
"Selow kali, Bang. Gue yang akan jagain Nadisha. Secara kan gue pacarnya," ujar Kak Vante dengan pede. Aku rasanya ingin menimpuk manusia itu dengan apapun yang bisa digunakan untuk menghantam orang. Ucapannya bebas sekali. Apa tidak malu melakukan hal itu? Aku saja yang mendengarnya terganggu. "Meskipun lo pacarnya sekarang, tapi nggak menutup kemungkinan jika sebulan lagi kalian bakal jadi mantan. Sampai sekarang gue masih diem aja kalian ngedeketin Nadisha. Tapi kalau kalian melangkah lebih maju, gue juga akan bertindak. Sampaikan salam gue untuk yang lain," ucap Kak Savalas mengakhiri.
Mantan?
Kenapa bisa Kak Savalas menyimpulkan hal itu?
Aku tidak peduli.
Aku akan mencari Kak Lesham untuk meminta jawaban atas semua ini.
Kak Savalas tidak akan menjawab bila ku tanya.
Aku masih terdiam di tempat. Tiba-tiba terdengar suara motor. Mungkin Kak Savalas sudah berangkat.
"Lo sejak kapan ada di situ?" tanya Kak Vante tiba-tiba.
Aku mendadak kikuk.
Astaga kenapa aku tidak pergi tadi?
"Baru aja. Memang kenapa? Nggak tahu apa kalau gue lagi pusing nyari kaos kaki pelangi gue." Aku berbohong untuk yang kesekian kalinya. Tidak dengan Mama saja. Tetapi Kak Vante juga. Habisnya aku sangat bingung. Tidak mungkin jika aku bertanya kepada Kak Vante. Ku rasa waktunya belum tepat. "Kenapa ngelihatin gue? Sana. Kakak sarapan dulu aja sambil nungguin gue nyari kaos kaki," perintahku sok ketus.
Semoga saja Kak Vante tidak curiga denganku.
"Memang lo udah sarapan?"
__ADS_1
"Ya belum lah, pakai nanya."
"Ya, udah. Gue bantuin nyari kaos kakinya kalau gitu. Pelangi kan?" tanyanya memastikan. Aku hanya mengangguk. Ya sudah kalau mau ikut bantu mencari. Karena sampai aku nikah pun tidak akan ketemu kaos kaki itu. aku kan hanya berbohong.
Aku masih berdiri di tempat. Sementara Kak Vante sibuk mencari kaos kakiku sampai ke kolong meja. Aku tak bergerak sama sekali. Sedari tadi aku hanya memeperhatikannya saja. Aku juga sempat terkekeh dengan tingkahnya. Entah kenapa tiba-tiba Kak Vante itu menjadi sangat polos. Mau-maunya saja dia membantuku. Padahal kan biasanya dia menyebalkan. Tidak sebaik ini. Memang benar kata Mama. Kak Vante itu sebenarnya baik. Hanya saja tidak kelihatan.
"Lo terakhir inget naruh di mana?" Kak Vante kembali bertanya. Ketika dia membalikkan badan dan melihatku tersenyum, ia malah mengembuskan napasnya panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Waah, benar-benar lo, ya. Udah dibantu nyari malah senyum-senyum di pojokan. Bantu nyari kek, apa kek. Jangan diem bae, Kadal!" cecarnya.
Melihatnya marah membuatku senang.
"Udah dibantu kok, Kak," kataku membela diri.
Kak Vante bersedekap dada. "Dibantu apa emang? Lo-nya diam aja dari tadi. Udah deh, Kadal! Jangan kebanyakan ngeles."
"Iiih, udah dibantu doa juga. Bilang dong kalau nggak ikhlas nyariin kaos kakinya. Nggak usah sok-sok mau nyariin. Udah. Mending Kakak sarapan aja sana."
"Astaga, Kadal. Lo tuh bener-bener nggak bisa berpikiran positif, ya? Nething mulu kerjaannya. Kebanyakan nonton bokep lo ah," ujarnya mencercaku. Tuh, kan! Baru tadi dibilang baik, tapi sudah menyebalkan saja. "Kakak kalau ngomong lagi gue bunuh loh," timpalku kesal.
Kak Vante malah tersenyum.
Dipikir ini lelucon apa?
"Lo kalau ngelarang lagi gue peluk, lho."
Sontak aku refleks tersenyum. Ah, tapi nanti Kak Vante malah kegeeran. Dengan segera aku mendekatinya dan memukulnya menggunakan bantal sofa. "Banyak omong, ih! Sarapan aja sanaaaa."
"Lho, pipi kamu kenapa merah, Dek?"
"Merah-merah apa, sih! Jangan ngaco, deh!"
"Tuh, kaaan. Makin merah. Baper, ya?"
"Baper-baper apaan? Kakak ngeselin ih pagi-pagi. Kalau nggak mau sarapan ya udah. Kita berangkat sekarang," tegasku sambil melempar bantal sofa itu kembali ke tempatnya.
__ADS_1
"Siapa bilang nggak mau sarapan?" tanyanya. Astaga manusia ini lama-lama bisa membuatku naik darah. "Ya, kalau mau sarapan ya udah sana pergi ke dalam," ucapku memerintah.
Lalu Kak Vante memegang tanganku. Jari-jari kami saling bertautan. Aku terkejut. Kak Vante menggengam tanganku. "Gue maunya sarapan bareng pacar gue," katanya yang membuatku lagi, lagi, terdiam. Seakan di telah menyihirku.