Bena

Bena
BAB 14D


__ADS_3

Sepertinya salah jika aku masih tetap masuk dalam Stig Cooking. Mulai detik ini harusnya aku tidak lagi berurusan dengan Kak Syden. Supaya dia memiliki waktu untuk memperbaiki hubungannya dengan Kak Tavis. Sementara untuk Kak Lesham, aku juga harus menjauh darinya. Tanpa sepengetahuanku dia memiliki kegiatan lagi dengan mengunjungi sepupunya Kak Tavis tiga kali dalam seminggu. Itu artinya, mereka memiliki urusan masing-masing. Kak Syden dengan Kak Tavis juga dengan Kak Lesham dan Ovdiar. Aku tidak masuk dalam salah satunya.


"Praktek! Bukan melamun," tegur Kak Syden tiba-tiba. Hampir saja aku mengiris jariku sendiri karena terkejut.


Pisau yang semula ada di tanganku langsung tergeletak. Aku harus berbicara sekarang. Ini bukan masalah janji dengan Kak Jin. Tapi semua ini tentang urusan dua orang yang seharusnya tidak ku ganggu. Nanti aku bisa menjelaskan semuanya kepada Kak Jin dengan semua masalah ini. Sekarang, aku harus keluar.


SEKARANG!


"Mm, Kak...," ucapku ragu. Kak Syden melihatku seolah ingin memakanku. Sudah datar ditambah tatapan yang tajam pula. Benar-benar cocok untuk menakuti orang.


"Les ngomong dulu sana," suruhnya sambil menatap ke arah lain.


Aku tidak bisa mengulurnya lagi. Sekarang atau tidak sama sekali. Selesai atau tetap terjebak di zona ini lagi. Semuanya harus tuntas sekarang jika aku benar-benar ingin keluar dari sini. Tidak ada waktu lain. Sekarang adalah waktu yang sangat cocok. Berhubung Kak Tavis dan Kak Lesham belum muncul di hadapan kami.


Pelan-pelan aku mengembuskan napasku seraya melihatnya. "A-aku, engg---mmm...." Mata Kak Syden kembali menatapku.


"Buang-buang waktu. Minggir," katanya sambil menepis bahuku. Dia benar-benar hendak pergi. Aku pun menahannya dengan memegang lengan tangannya. Refleks, dia kembali menatapku. Dengan tatapan yang tidak akan pernah berubah. Yang selalu membuatku kesusahan untuk meneguk ludahku sendiri.


"Aku izin keluar dari sini," ujarku.


Dia hanya mengernyit. "Apa perlu dianterin juga ke toiletnya?"


"Bukan keluar ke toilet, Kak," elakku dengan menggeleng. Salah penafsiran lagi. Aku sih! Ngomong yang jelas dan detail, Nadisha! Ulangi.


"Terus?"


"Aku izin keluar dari Stig Cooking." Dia langsung mengalihkan tatapannya. "Nggak bisa," jawabnya.


Aku heran. "Kok nggak bisa? Kan nggak ada aturan khusus, Kak."


"Yang boleh keluar adalah orang yang udah bener-bener bisa. Sedangkan lo," seperkian detik dia kembali menatapku. "Lo nggak memenuhi standar itu."


"Aku nggak pernah dengar soal aturan itu, Kak. Sebelumnya Kak Syden juga nggak pernah bilang, kan? Tolong, Kak. Jangan mengada-ngada," balasku berusaha. Tapi memang iya jika aturan tentang itu tidak pernah ku dengar. Awal masuk pun, bersama Kak Jin pun, aturan tidak tidak pernah ada. Jikalau ada, pasti Kak Jin sudah memberi tahuku.


"Keluar karena Tavisha?" Dia kembali bertanya.


Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kak Tavis. Ya, memang ada sedikit. Tapi tidak begitu banyak. Semuanya karena aku tidak betah di Stig Cooking. Aku merasa sedikit terbebani. Apalagi aku sudah kelas sebelas. Banyak tugas menumpuk. Di STANDAR sendiri pada kelas sebelas sudah diberi banyak materi tambahan untuk persiapa Ujian nanti saat kelas duabelas.


"Ini murni keputusan aku, Kak. Maaf kalau ini lancang. Tapi aku bener-bener nggak bisa bertahan di sini."


"Oke, lo keluar. Pintu ada di sebelah kanan," tuturnya mengejutkan aku.


Tadi tidak boleh. Sekarang malah langsung menunjukkan pintu keluar. Sejenak aku mengembangkan senyum. Sesenang ini aku keluar dari Stig Cooking. Selayaknya aku seperti baru saja keluar dari tahanan. Sehiperbola itu rasanya.


"Makasih, Kak."


Dia hanya mengangguk tanpa menatapku. Lengan yang masih ku pegang tadi langsung ditepis dengan tangan kanannya pelan. Tidak sekasar ucapannya memang. Tapi cukup membuatku terkejut.


"Aku pulang, permisi."


Kak Syden menahanku. "Gue anterin."


"Nggak per---"


"Untuk yang terakhir," sahutnya memotong ucapanku.


____


Tangan Kak Lesham menggenggam telapak tanganku erat. Wajahnya penuh dengan peluh keringat.

__ADS_1


"Nadisha pulang bareng gue, Bang," katanya pada Kak Syden.


"Lo jangan ganggu," ujar Kak Syden.


Satu tangan kiriku dipegang oleh Kak Syden. Kini tangan kananku dipegang oleh Kak Lesham. Berada di parkiran sekolah seperti ini cukup membingungkan. Aku harus memilih siapa?


"Lo yang ganggu, Bang!" bentak Kak Lesham yang membuat wajahnya semakin memerah.


Kak Syden keliatan tidak terima. Dia mendorong dada bidang Kak Lesham. "Nggak usah nyalahin orang! Lepasin tangannya!"


"Nggak! Nggak bakal gue lepas! Lo yang harus lepasin Nadisha." Kak Lesham masih tidak mau mengalah.


Dengan kesal aku melepas kedua genggaman tangan mereka. Serentak mereka menatapku bersama.


"Nad."


"Lo."


"Kalau kalian mau berantem ya berantem aja. Jangan ngajak aku juga," ujarku.


Lantas mata Kak Syden dan mata Kak Lesham kembali beradu. Tak berselang lama, Kak Syden menarik kerah seragam Kak Lesham kasar. Dia membawa Kak Lesham menjauh dariku. Perasaanku sudah tidak enak, sungguh. Ah, dua orang ini benar-benar membuatku panik setiap bertemu dengan mereka.


Sesuai perasaan, Kak Syden langsung memberikan pukulan keras kepada Kak Lesham. Tepat di pipi kiri Kak Lesham. Aku menjerit takut melihat itu. Tapi jeritanku sama sekali tak mereka indahkan. Dengan satu pukulan itu, Kak Lesham balik memukul Kak Syden hingga akhirnya mereka saling memukul. Aku bingung. Harus bagaimana cara memisahkan mereka?


Aku takut jika nanti aku yang terkena pukulan mereka. Pasti sakit.


"Kak berenti! Kak!" teriakku berusaha meleraikan mereka. Tapi nyatanya, mereka malah semakin keras memukul satu sama lain. "Astaga! Kak Syden! Kak Lesham! Tolong berhenti! Kak! Dengerin aku!"


"Be**ngs*k!! Ganggu mulu kerjaannya!" sentak Kak Lesham.


"An**ng lo!!" Kak Syden ikut membentak. Pukulannya semakin diperkeras.


"PAK KEPSEK MAU KE MANA?" teriak seseorang yang membuat jantungku seperti sudah jatuh ke lambung.


Tiba-tiba mereka berdua langsung berhenti setelah mendengar suara itu. Masih berdiri dalam posisi yang sama seperti semula tanpa bergerak. Mata mereka saling memperhatikan sekeliling. Begitupun dengan aku. Tadi katanya ada Pak Kepala Sekolah. Tapi ini aku tidak dapat melihatnya.


"Kamu nggak apa, Den?" Suara itu. Aku langsung melihat ke depan. Ada Kak Tavis yang menghampiri Kak Syden yang sudah babak belur. Begitupun dengan Kak Lesham yang masih terengah-engah. Dia menjatuhkan tubuhnya ke tanah sembari mengatur napasnya yang tidak teratur. Seragamnya sudah kucel sekali. Ada beberapa robekan di sana.


Sudut bibir Kak Lesham bengkak. Ada darah segar yang mengalir di sana. Ya ampun. Pasti Kak Lesham sedang kesakitan sekarang. Aku tidak punya pilihan lain. Akupun segera menghampiri Kak Lesham. Setahu Kak Lesham adalah cowok yang kalem. Jarang sekali aku melihatnya berantem seperti ini. Apalagi dia selesai latihan basket. Tubuhnya kurang tenaga. Jadi wajar jika dia kalah dari Kak Syden.


Aku berjongok sambil memegang lengan tangan Kak Lesham. "Kakak nggak apa-apa? Masih kuat jalan, nggak?" tanyaku khawatir.


Tetapi dia malah tertawa. "Gue sehat. Cuma lagi sial aja kali ini," jawabnya.


Masih sempat bercanda di situasi seperti ini. Dasar! Aku langsung menjewer telinganya dengan keras. "Makan tuh jeweran," ujarku jengkel.


"Geli tahu, nggak."


Apanya yang geli? Tadi aku menjewernya. Harusnya dia kesakitan. Bukan malah merasa geli. Aneh.


"Aku obatin ya, Den."


"Nggak perlu."


"Tapi, Den. Itu luka kamu gimana? Kalau iritasi gimana?" tanya Kak Tavis khawatir. Aku bisa merasakan kecemasannya. "Aku obatin dulu, ya?"


"Gue bilang nggak ya nggak! Punya kuping dipake dong!" bentak Kak Syden.


Kak Tavis langsung terdiam. Perkataan Kak Syden benar-benar tidak biaa disaring.

__ADS_1


"Ayo, Nad. Gue anter pulang," ajak Kak Syden kepadaku sambil mencekram lengan tanganku.


"Aku bisa pulang sendiri. Kakak biar diobatin dulu sama Kak Tavis."


"Gue mau lo yang ngobatin gue."


Kak Lesham melepas paksa cengkeraman tangan Kak Syden di lenganku. "Kalau nggak mau jangan dipaksa, Bang!"


"Diem! Lo nggak tahu apa-apa," bantah Kak Syden lagi.


"Den, kamu masih sempet mau nganterin Nadisha di saat kamu lagi luka kayak gini?"


"Masalah buat lo?"


"Syden, ngobatin luka kamu lebih penting daripada nganterin Nadisha pulang. Dia kan juga sibuk, ngurusin Lesham yang kamu pukul dari tadi." Kak Tavis masih tak menyerah. Meskipun aku melihat matanya yang sudah berair. Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti itu.


"Ini hidup gue. Lo nggak punya hak untuk larang-larang kemauan gue," ucap Kak Syden masih pada pendiriannya.


Kak Tavis masih menahan air matanya agar tidak keluar. "Tapi yang aku lakuin ini untuk kebaikan kamu, Den," lirihnya.


"Gue nggak peduli."


Seketika Kak Syden langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Kak Tavis tanpa mengajaknya pulang.


Air mata Kak Tavis sudah tidak bisa dibendung sepertinya. Perlahan, air matanya mulai mengalir. Isak tangisnya mulai ku dengar. Bersamaan dengan itu, aku membantu Kak Lesham untuk berdiri. Aku merangkulnya.


"Kak Tavis, aku...."


"Sori, Nad. Apa lo bisa menjauh dari Syden untuk selamanya? Gue tahu ini egois. Tapi gue nggak punya pilihan lain," pintanya di sela-sela tangisannya.


Kak Lesham menepuk bahu Kak Tavis sambil mengelusnya pelan. "Jangan nangis. Cantik lo luntur kalau nangis," celutuknya.


"Gue nggak nangis kok. Cuma kelilipan doang," elaknya sambil berusaha untuk tersenyum.


Sebaik ini disia-siakan. Aku tidak habis pikir dengan Kak Syden. Aku ini hanya replika dari orang yang bernama Panditha. Kata Kak Tavis pun sikap kita saling terbalik. Seharusnya Kak Syden tidak sejauh itu menganggapku sebagai Panditha. Dia harus melihat Kak Tavis lebih lama agar dia sadar. Mana yang benar-benar tulus menyayanginya.


Aku mengembuskan napas. Tanganku memegang telapak tangan Kak Tavis sambil tersenyum. "Sebelumnya aku minta maaf, Kak. Maaf banget udah bikin hubungan kalian jadi rumit."


"Lo nggak salah, Nad."


"Tetap aja aku yang udah bikin begini. Tapi Kakak tenang aja. Setelah ini, aku jamin Kak Syden akan balik sama Kakak. Semangat, Kak!"


"Gue percaya itu."


"Vis, gue sama Nadisha pergi dulu ya. Lo bisa kan pulang sendiri?" tanya Kak Lesham.


"Bisa kok."


"Aku nggak bakal mengecewakan Kak Tavis sama sepupu Kakak," kataku lugas.


"Makasih, Nad."


Lalu Kak Tavis berbalik arah. Dia berjalan pulang, entah memang pulang ke rumah atau malah menuju ke rumah Kak Syden. Ke mana pun Kak Tavis pergi, ku harap semuanya baik untuk dia.


"Maksud lo ngomong tadi gimana? Sepupu Tavis?" Kak Lesham bertanya kepadaku.


"Ya nggak apa-apa. Kak Tavis orang baik. Gue nggak bakal mengecewakan dia. Baru kali ini gue ketemu sama cewek yang nggak gampang emosi. Padahal tadi Kak Syden udah mencampakkan dia. Hebat sih Kak Tavis itu," jawabku panjang memuji Kak Tavis.


"Tavis emang gitu. Sebisa mungkin dia nggak mau ngelihatin emosinya sama orang lain," tambah Kak Lesham.

__ADS_1


Iya, karena itu juga aku tidak mau mengecewakannya.


__ADS_2