Bena

Bena
BAB 11B


__ADS_3

Padahal hanya Friska saja yang tampil. Hanya dia. Tapi yang ribet banyak sekali. Akupun juga kena. Seharusnya aku duduk-duduk manis sambil menunggu acaranya dimulai. Tetapi malah sekarang aku diajak ke ruang ganti oleh Friska. Jujur ya. Dandanan Friska itu sudah sempurna. Tapi tetap saja dia mengelak. Katanya aku tidak mengatakan yang sebenarnya. Beberapa kali aku diminta mengambilkan tisu, cermin kecil, eyeliner, bedak, blush on, ya semacam itu lah. Lama-lama kalau ditambah terus dandanannya bisa hancur. Yang semula seperti seorang puteri sekarang malah hampir seperti ondel-ondel.


Aku banyak mengeluh di sini. Tugasku sudah seperti seorang asisten saja. Melakukan apa yang Friska suruh sampai aku berkeringat sekarang. Ini sudah yang kelima kalinya Friska berganti pakaian. Tapi tetap saja katanya kurang cocok. Cewek memang seribet ini, ya? Sekadar tampil berapa menit saja dandannya berjam-jam. Aku saja yang hanya melihat rasanya sudah melelahkan. Apalagi yang melakukannya.


"Nad, gue pakai yang mana, nih? Masa yang ungu ini kekecilan. Pas body banget lagi. Gue nggak pede kalau bentuk tubuh gue kelihatan. Nanti gue diejek trepes lagi," gerutunya sambil memegangi kelima bajunya itu. kini Friska hanya memakai celana jeans pendek sepaha dan kaos berwarna putih. Sudah bolak-balik ganti baju, tetap saja dia belum menemukan baju yang cocok.


Aku memperhatikan semua baju yang Friska pegang. "Itu tuh yang merah," tunjukku pada baju yang berwarna merah yang dipadukan dengan batik-batik.


Friska mengangkat baju yang telah ku tunjuk barusan. "Yang ini?" tanyanya meyakinkan. Aku pun mengangguk sebagai jawaban.


"Iiihh yang merah ini kegedean, Nad. Tadi aja pas gue pakai rasanya pengin lepas aja." Seperkian detik, aku menghela napas jengah. Malas sejujurnya untuk meladeni hal seperti ini.


"Ya, udah. Yang hijau kalau gitu," saranku.


"Please, deh! Gue nggak suka warna hijau."


"Terus kenapa lo bawa?"


"Ya mana gue tahu," elaknya.


Aku memutar bola mataku ke arah lain. "Nadishaa! Jangan diem aja dong? Ini gue gimana?" Friska berteriak heboh.


"Gue harus ngomong apa memang? Lo bawa baju banyak tapi komplennya juga banyak. Udah, ah. Pakai aja yang biru. Sesuai sama lagu yang akan lo bawakan. Tapi sebenarnya lebih pas yang merah sih." Aku sebenarnya juga bingung bila disuruh untuk memilih baju bukan untukku sendiri. Tapi orang lain. Selera orang kan berbeda-beda. Apa yang aku suka belum tentu Friska suka. Begitupun sebaliknya. Makanya aku ingin sekali sekarang keluar dari ruangan ini. Lebih baik aku tidak melakukan apapun di luar daripada harus ikut bingung bersama Friska hanya masalah baju saja.


"Gimana, sih? Yang biru apa yang merah jadinya?"


"Yang biru, Friska."


"Yakin ini beneran cocok sama gue?"


Akupun bangkit dari tempat duduk. "Iya, Fris. Lo buruan ganti. Gue keluar dulu. Ada urusan," pamitku.


"Dih sok sibuk," celutuk Friska tiba-tiba.


Aku tidak peduli lagi. Dengan segera aku keluar dari ruang yang sangat panas itu. Akhirnya aku bisa menghirup udara dengan bebas di luar.

__ADS_1


Ketika aku sedang mengipasi diriku dengan tangan, tak sengaja aku melihat Kak Jin yang berjalan sendirian menuju ke tempat duduk dekat Kak Savalas. Sebelum aku kehilangan jejaknya, akupun bergegas lari mengejarnya. Bila aku berteriak, nanti yang ada malah aku jadi pusat perhatian. Aku memang jarang sekali berteriak. Bahkan hampir tidak pernah. Tapi sekalinya aku berteriak, suaraku akan jauh lebih nyaring daripada sebelumnya. Bahkan bisa mengalahkan si cerewet Friska.


Nampaknya, Kak Jin mengetahui bila aku mengejarnya. Dia berhenti melangkah dan membalikkan badannya secara tiba-tiba hingga membuatku hampir menabrak tubuhnya bila dia tidak memegangi bahuku. Beruntung saja aku memakai sepatu. Jika aku memakai high heals, mungkin aku sudah jatuh sejak tadi.


"Lain kali lebih hati-hati," kata Kak Jin mengingatkan. Ia pun segera melepaskan tangannya dari bahuku. Aku hanya bisa menyengir melihat kecerobohanku ini.


"Nyariin gue?"


Aku dengan cepat mengangguk seperti seekor hewan peliharan yang sudah patuh sekali dengan majikannya. "Iya, Kak. Gue ma---"


"JIN CEPETAN!! DICARIIN NYOKAP."


Teriakan itu membuatku berhenti berbicara. Kak Jin juga tidak fokus lagi kepadaku. Dia menoleh ke sumber suara. Begitupun dengan aku. Aku ikut melihat siapa yang barusan berteriak. Karena orangnya jauh dari hadapanku, akupun memicingkan mataku untuk melihat dengan jelas siapa. Eh. Aku terkejut setelah tahu siapa yang berteriak. Bukankah itu Jastin?


Kenapa Jasti memanggil Kak Jin seolah mereka itu setara?


Apa karena sama-sama anak Stigma, Jastin tidak memakai embel-embel 'Kak'?


Tapi semua anak Stigma menaati sistem itu. Buktinya Kak Vante memanggil Kak Syden dengan embel-embel 'Kak' meskipun mereka sepantara. Lalu kenapa Jastin seenaknya seperti itu? Padahal hanya dia yang paling muda diantara yang lain. Apa dia tidak memiliki rasa takut? Ah, kelakuannya susah untuk ku tebak.


Kak Jin pun bergegas pergi. Jastin memang benar-benar menjengkelkan. Padahal aku belum berbicara satu kalimat dengan Kak Jin. Namun dia sudah lebih dulu mengacaukannya. Apa dia tidak tahu bila aku ingin bicara serius dengan Kak Jin sebelum kami berpisah? Walaupun aku tidak memberi tahunya. Mestinya dia bisa menebaknya sendiri. Apa cowok tidak sepeka itu, ya?


Bukannya ikut pergi, Jastin malah menyengir kepadaku setelah kepergian Kak Jin. Aku ingin sekali memukul wajahnya itu sekarang. Sudah lama sekali dia bolos, dan baru kali ini dia masuk. Seakan-akan sekolah ini memang milik nenek moyangnya. Bolos masuk seenak jidat saja.


"JANGAN PERGI DULU!!" Jastin kembali berteriak ketika aku hendak menyusul Kak Savalas.


Jastin pikir ini hutan apa? Kenapa dia harus berteriak juga denganku. Memangnya aku tidak bisa mendengarnya berbicara dengan normal apa?


Jastin berlari menghampiriku. Sementara aku hanya diam di tempat sambil menatapnya jengkel. Dia sama sekali tidak merasa bersalah atau apa. Tetapi malah memunculkan senyuman di depanku. Dia pikir dia manis apa? Semanis-manisnya Jastin, tetap saja lebih manis gula menurutku.


"Ciee suka ya sama Jin?" godanya. Ku pikir dia akan berbicara apa kepadaku. Tetapi malah menggodaku seperti ini. Kalau aku tahu dia tidak ingin membicarakan hal yang penting, aku akan memilih untuk pergi saja daripada harus melihatnya. "Atau sukanya sama gue? Eh, barusan gue keceplosan, ya? Ups! Wajar. Orang ganteng emang suka gitu," ujarnya memuji diri sendiri.


Aku berdecak pinggang.


"Udah ngomongnya?"

__ADS_1


"Nggak pengin peluk gue? Udah lama nggak ketemu lho." Jastin mengalihkan topik pembicaraan. "Najis! Kalau nggak ada yang diomongin, gue pergi dulu."


Jastin menahan lenganku.


Aku pun menatapnya tajam. "Lepas nggak?"


"Busett. Giliran gue yang pegang aja nggak boleh. Tapi kalau Jin malah dilama-lamain. Pilih kasih lo," cecarnya ke mana-mana. Sebenarnya dia ini mau apa, sih? Dari tadi tidak jelas. Apa memang dia kurang asupan pagi ini? Atau obatnya sedang habis. Mengenaskan sekali.


"Maksud lo apa, sih?"


"Lo kenapa harus hidup, sih?" tanyanya yang membuatku terkejut. Akupun refleks memukul dadanya. "Omongan lo, ya? Emang lo nggak suka kalau gue hidup?"


Jastin tertawa.


"Suka, suka banget."


"Obat lo habis, ya?"


"Gue nggak mau kecewa untuk yang kedua kalinya, Nad."


Dugaanku benar. Jastin sedang tidak dalam keadaan sehat. Lebih baik aku pergi daripada harus berurusan dengannya. Nanti yang ada aku ikut tidak sehat pula. Sejenak aku diam. Memandanginya. Lalu aku menoyor keningnya pelan. "Nyari vitamin, gih. Di depan ada banyak cewek cantik," ucapku bercanda lalu bergegas pergi.


"LO JUGA CANTIK HARI INI."


Aku berhenti melangkah. Lantas membalikkan badan dan menjulurkan lidahku kepada Jastin. "Bercanda lo kurang asyik."


"KALAU GUE SERIUS GIMANA?"


"Ini sekolah bukan hutan! Nggak usah teriak-teriak, bisa?" Aku menatap matanya. Lucu. Kenapa tingkahnya tiba-tiba membuatku ingin mengembang senyuman? "BENAR YA? DUNIA SERASA MILIK BERDUA," katanya tidak nyambung. Masih berteriak.


"Terserah, Jas. Terserah."


Aku pasrah saja bila ia memang ingin berteriak.


"Just i love you, Nadisha." Jastin menyengir.

__ADS_1


__ADS_2