
Rasanya aku sudah tidak memiliki tempat untuk menanggung semua rasa malu yang ku punya sekarang. Kau tahu? Banyak sekali teman-teman sekelasku yang menatapku tajam tadi. Setelah seseorang yang tiba-tiba masuk kelasku lalu mencariku. Tentu saja aku sudah menduga bila aku akan jadi pusat pembicaraan selanjutnya. Apalagi dia datang menghampiriku sendirian tanpa seorang teman. Ingat. Dia sendirian. Kesendiriannya itulah yang membuatku semakin malu. Tentu saja mereka yang tak tahu apa-apa pasti langsung berpikiran ke hal-hal yang bukan-bukan. Detik itu juga, sorot mata mereka seolah mengatakan bahwa mereka mulai tidak menyukaiku.
Coba saja bayangkan. Seorang cowok yang paling ganteng satu sekolah mencari cewek yang hanya biasa saja.
Biasa saja.
Aku ulangi lagi kalau aku memang biasa saja.
Aku tidak sepopuler geng Seesaw.
Harus kalian tahu jika di sekolahku ini terdapat dua geng yang sangat popular. Yang pertama ada Stigma. Aku rasa geng itu sudah tidak lagi asing untuk didengar. Karena setiap orang mengetahui STANDAR pasti mereka akan menyangkutpautkan dengan Stigma. Namun, aku juga belum tahu pasti apa Stigma itu sebuah geng atau hanya perkumpulan saja. Akan tetapi banyak sekali yang menyebutnya sebuah geng. Karena itu, aku mengikuti saja untuk menyebutnya geng.
Kalau Seesaw, itu sebenarnya geng untuk kalangan anak cewek. Kalau dari artinya, Seesaw itu bukan singkatan nama atau apa. Namun, Seesaw memiliki arti jungkat-jungkit. Aku tidak tahu siapa saja yang masuk dalam geng tersebut. Yang ku ketahui hanyalah nama geng saja. Itupun tanpa sengaja ku dengar dari obrolan orang-orang di kantin.
Dari semua geng itu, aku bukanlah salah satunya.
Aku ini apa?
Aku bukan apa-apa. Aku hanya seorang cewek biasa yang tanpa sengaja menjadi luar biasa karena didatangi salah satu anggota Stigma yang katanya paling ganteng di STANDAR.
Rasanya memang benar jika aku tidak pantas didatangi seperti itu. Apalagi tanpa alasan yang jelas.
Setelah Kak Jin mendatangiku, aku langsung mengikutinya dari belakang. Aku memang sengaja langsung mengikutinya sebelum ada dari teman-temanku yang bertanya kepadaku. Namun, aku tidak tahu bagaimana respon sebenarnya bila aku sudah pergi. Akankah Zelo menjadi pusat pertanyaan? Ataukah mereka akan bertanya kepadaku langsung.
Jangan heran jika aku langsung menyimpulkan seperti ini. Karena memang kenyataannya begitu. Banyak sekali yang tidak suka bila ada seseorang yang dihampiri salah satu dari anggota Stigma. Apalagi jika sendirian. Seperti aku sekarang. Sumpah demi apapun. Jika ada orang lain yang menganggap bahwa aku beruntung karena didatangi oleh Kak Jin itu salah besar. Nyatanya aku malah menganggap ini sebagai masalah, bukan sebagai keberuntungan.
"Kak," panggilku pelan.
__ADS_1
Kurasa suaraku sangat pelan karena suara burung yang bernyanyi terdengar lebih keras daripada suaraku. Tapi, ternyata Kak Jin mendengar panggilanku. Dia berhenti berjalan dan segera membalikkan tubuhnya menghadapku.
Ya, Tuhan. Menatapnya sedekat ini membuatku sangat gugup.
Aku harus bagaimana?
Tolong lenyapkan aku sekarang juga!
"Kenapa?" tanyanya kepadaku.
Aku tidak salah dengar, kan?
Dia malah bertanya kepadaku. Bukankah aku yang seharusnya bertanya? Keadaannya kan aku yang sedang tidak tahu apa-apa. Entah mengapa rasanya malah terbalik. "Nggak, gue cuma mau nanya aja kenapa Kakak nyari gue. Ada perlu, ya, Kak?"
Jika aku tak berada sedekat ini dengannya, mungkin aku tak akan merasa segugup ini. Tapi jarak yang sangat dekat ini membuatku kesulitan untuk bernapas. Kalaupun aku bergerak sedikit saja. Pasti kepalaku akan langsung mengenai mulutnya. Kak Jin memang benar-benar tinggi. Aku saja hanya sampai pada mulutnya. Jika seperti ini aku terlihat sangat pendek. Tapi lebih lumayan daripada dengan Kak Nehan. Tinggiku hanya sampai pada dagunya atau mungkin lehernya. Entahlah. Aku sudah lupa. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya lagi.
"Kata Syden, kemarin lo ke Stig Cooking," katanya sambil menatap mataku lekat-lekat. Akupun buru-buru untuk menunduk. Sungguh, aku sangat tidak bisa jika harus menatap matanya. Aku lemah dalam hal itu.
"Iya," jawabku.
"Lo nggak dikasarin, kan?"
Dikasarin? Maksudnya Kak Syden suka bermain kasar? Orangnya galak sih iya. Tapi kalau kasar..., memang Kak Syden orangnya main tangan, ya? Kenapa aku baru tahu sekarang coba. Aku selalu berhadapan dengannya. Dan aku selalu terluka setelahnya. Bukan karena dia memperlakukanku kasar. Namun, kata-katanya yang suka asal ceplos. Seperti tidak punya otak yang berfungsi.
"Nggak kok, Kak." Aku menggeleng canggung. Rasa gugup mengelilingi tubuhku. Napasku seperti ingin berhenti.
Refleks aku melangkah mundur. Menciptakan jarak diantara kami. Akhirnya aku bisa bernapas lega sekarang. "Lo jangan mikir kalau dia main tangan," katanya lagi.
__ADS_1
Aku mengerutkan keningku. "Maksudnya?"
Tadi katanya Kak Syden itu orangnya kasar. Bukannya kata kasar selalu merujuk kepada hal-hal yang bermain tangan, ya? Tapi, bentuk kasarnya di mana jika Kak Syden bukan orang yang suka main tangan. Ketika aku terdiam sambil berpikir, Kak Jin malah tertawa kecil. Apa dia pikir semua ini lucu sampai bisa ditertawakan?
Tertawanya..., tertawanya Kak Jin itu membuatku merasa nyaman dan tenang. Kenapa bisa?
Ah, sudahlah. Meskipun aku bilang begitu, bukan berarti bila aku memang menyukai Kak Jin. Aku hanya mengaguminya saja. Mungkin lebih tepatnya memang seperti itu. Hanya sekadar mengagumi dan tak mungkin jika lebih.
"Kasar yang gue maksud bukan main tangan," ucapnya masih dengan menatapku. Meskipun aku tak secara langsung melihatnya, namun aku sadar jika dia masih menatapku dari tadi. Memang dasar, ya! Cewek itu selalu peka.
"Lalu?" tanyaku sambil menyelipkan satu anak rambutku ke belakang. Setiap sekolah aku memang sudah terbiasa menggerai rambut. Jarang sekali aku mengikat rambutku kecuali jika sedang olahraga saja. Entah mengapa, aku memang suka menggerai rambutku meskipun kenyataannya rambutku tak sebagus yang dikiranya.
Kak Jin melihat keadaan sekitar, akupun refleks mengikuti penglihatannya. Tidak ada apa-apa. Semua murid masih berada di dalam kelas. Masih melaksanakan kegiatan pembelajaran. Beruntungnya, tidak ada orang yang lewat di sekitarku dan Kak Jin. Aku masih bisa bernapas lega. "Kasarnya dia itu karena mulutnya yang asal ceplos. Suka nggak ke kontrol kalau lagi ngomong. Jadi, gue harap lo nggak masukin omongannya ke hati."
Aku mengangguk-angguk.
"Kak Jin cuma mau ngomong itu aja?"
"Nggak," balasnya singkat.
"Ada lagi, ya?"
"Nggak ada."
"Ya..., terus?"
Kak Jin menyunggingkan senyumnya kepadaku tepat saat aku sedang memberanikan diri untuk menatapnya. "Lima menit lagi istirahat. Ke kanting bareng gue aja," tambahnya yang sukses membuatku shock.
__ADS_1
Aku memang benar-benar akan lenyap.