Bena

Bena
BAB 13A


__ADS_3

Suara mobil Kak Lesham mulai terdengar di telingaku. Aku yang sedang sarapan pun menyunggingkan senyum.


"Lesham, ya?" tanya Mama.


"Mungkin."


"Ajak sarapan gih."


"Nggak apa-apa, Ma?"


"Iya."


Dengan semangat aku pun bangkit. Meninggalkan sarapanku untuk menemui Kak Lesham. Sesampainya di teras rumah, aku melihat Kak Lesham datang menggunakan sweater pink lagi. Hanya saja gambarnya yang sudah berbeda. Dulu gambar b**i, sekarang menjadi gambar panda. Aku semakin gemas melihatnya.


Sebelum aku menghampirinya, dia sudah lebih dulu menghampiriku.


"Pagi, calon pacar," sapanya. Aku tersenyum sambil memukul pelan lengannya. "Apa, sih, Kak!"


Dia hanya tertawa kecil. Bahkan dengan melihatnya tertawa aku sudah bahagia. Entahlah, ku pikir senyumnya itu menenangkan. Tawanya itu menyejukkan. Aku menyukainya. Keramahtamahannya itu ingin ku ambil darinya.


"Mama ngajak sarapan bareng, mau?" tawarku.


Kak Lesham mengernyit. Lantas kembali biasa saja. Mungkin dia sedikit terkejut dengan tawaranku. Ya, wajar sih. Aku ini memang seperti menawarkan sesuatu kepada pacarku saja. Padahal Kak Lesham hanya teman sekaligus kakakku.


"Sama calon mertua, ya? Nggak bisa dilewatin, nih. Ayo," ajak Kak Lesham sambil merangkulku.


"Nggak lucu bercandanya," cibirku. Dia menoleh kepadaku. "Seharusnya di aminin," katanya.


Aku tak menjawab. Kami pun berjalan menuju ke ruang makan. Namun ketika sampai di ruang tamu, Kak Lesham berhenti berjalan.


"Kenapa, Kak?"


"Gue udah ganteng belum?" tanyanya.


____


"Oh, jadi ini yang namanya Lesham." Mama menyambut kami yang baru tiba di ruang makan.


"Masa lupa sama saya, Tan? Kan dulu pernah main ke sini."


"Ya kan kamu cuma sekali mainnya. Jadi Tante udah keburu lupa. Maklum, udah tua. Duduk, Sham." Mama mengukir senyum.


Kak Lesham ku biarkan memilih tempat duduk. Berhubung Papa semalam lembur, jadi sekarang Papa masih tidur. Kebetulan Papa juga mendapat kelonggaran untuk istirahat di rumah hari ini. Kursi makan milik Papa kosong. Mama duduk di depanku. Sementara Kak Lesham memilih untuk duduk di samping Mama. Ku pikir dia akan memilih untuk duduk di sampingku.


"Permisi ya, Tan?" Kak Lesham meminta izin. Mama awalnya terkejut. Namun tak bertahan lama dan Mama mengangguk. Membiarkan Kak Lesham duduk di samping Mama.


Mama menuangkan susu di gelas yang berada di depan Kak Lesham. "Tante kira kamu bakal duduk di samping Nadisha," ujar Mama.


"Saya udah dekat sama Nadisha, Tan. Kalau sama Tante kan belum," jawab Kak Lesham asal yang membuatku langsung menatapnya tajam.


Bisa tidak sih jangan bicara seenaknya seperti ini? Aku itu sudah berpikir yang tidak-tidak sekarang.

__ADS_1


"Ah, kamu bisa aja. Oh, iya. Kalau kamu mau sarapan di sini nggak usah malu, ya." Mama melempar senyum kepadaku. Aku sudah tahu maksudnya. Pasti Mama sedang tertawa di dalam hatinya saking senangnya.


Kak Lesham menoleh. "Setiap hari nggak apa, Tan?"


Astaga!


Seakan mereka sudah seperti akrab sendiri. Aku hanya sebatas menonton. Tolong. Ini hanya menonton. Jangan sampai menjadi acara sinetron. Mungkin, bila pun jadi film pasti aku akan membuat judul seperti ini; Gebetanku Pedekate dengan Ibuku.


Ya, ampun. Drama sekali aku ini. Eh, sebentar. Apa yang aku bilang? Gebetan?


Ralat.


Kak Lesham bukan gebetanku. Dia hanya teman saja. Sekali lagi hanya teman. TEMAN! Tidak lebih.


"Boleh, dong. Boleh banget malah," balas Mama sumringah. "Semenjak Savalas ke Korea rumah jadi makin sepi. Jadi kamu sering-sering ke sini. Biar jadi rame lagi nanti."


"Kalau saya anggap sebagai rumah sendiri gimana?" tanya Kak Lesham.


Aku semakin terkejut dibuatnya. Tanpa perlu bertanya seperti itu Kak Lesham sudah seperti tuan rumah sekarang. Kelakuannya tidak ada malu-malunya. Bahkan terlihat sudah sangat akrab dengan Mama. Sesekali Kak Lesham mengambil lauk sesukanya.


Bila dia punya malu pasti sejak tadi dia tidak akan sebebas itu mengambil lauk. Pasti akan berpikir dua kali karena ini bukan rumahnya. Tapi memang dia tidak punya malu. Semalam saja menemuiku di balkon rumah tanpa izin dulu. Pakai pesan paket Mekdi segala pula. Seakan sudah jadi rumahnya sendiri.


"Makan gih, Kak. Keburu mepet jamnya," ujarku mengalihkan. Aku jengkel sebenarnya. Serasa tidak dianggap. Sejak tadi hanya mengajak Mamaku mengobrol dan membiarkanku diam.


Kak Lesham menatapku aneh. Bukannya ingin marah aku malah semakin gemas dengan gerakan raut mukanya yang sengaja diperjelek itu.


"Biarin kenapa, Nad. Masih lama kok. Iya, kan, Sham?" Mama kembali membela.


"Nadisha memang gitu, Tan. Suka cemburu kalau saya cuekin."


"Apaan, sih! Nggak. Hoax." Aku mengelak. Apa katanya? Cemburu? Sama sekali tidak. Kak Lesham tersenyum kepadaku. "Ya, udah. Nggak usah sewot gitu dong."


"Biasa aja."


"Kalau biasa senyum dong," ucapnya.


Aku tidak memedulikan lagi. Ini masih ada Mama lho. Aku juga punya malu. Seperti anak kecil saja rasanya.


"Katanya biasa aja, tapi nggak mau senyum."


"Emang biasa."


"Kalau gitu biar gue aja yang senyum, ya? Gue wakilin, deh."


Mama yang sejak tadi diam akhirnya angkat suara setelah aku meliriknya. "Terusin ya. Mama bangunin Papa dulu," kata Mama sambil beranjak dari ruang makan.


"Kak," panggilku setelah Mama pergi.


"Iyaaaa."


"Nggak usah sedeket itu kali sama Mama. Nggak perlu sampai segitunya." Aku memperingatkan.

__ADS_1


"Emang salah ya deket sama Mama mertua?" Kak Lesham balik bertanya kepadaku yang akhirnya membuatku ingin menepuk keningku sendiri.


___


"NADISHA!! KAK TAVIS TADI NYARIIN LO!!" teriak Friska heboh. Semenjak Zelo pindah, sekarang yang paling berisik di kelas menjadi Friska. Tapi tak masalah. Aku senang. Setidaknya tidak ada dua orang yang berisik.


"NAD!"


"Eeh, apa?" Aku kembali bertanya.


Friska berdecak pinggang sambil menatapku jengkel. Aku hanya menyengir saja.


"Lo dicariin Kak Tavis! Tahunya lo masih di perpus tadi. Nanti pulang sekolah ditunggu di koridor kelas duabelas, oke? Mau gue temenin nggak?" tawar Friska. Jika ku pikir dia jauh lebih penasaran daripada tulus menemaniku.


Aku hanya bisa bingung sendiri. Kemarin Kak Syden yang mencariku. Sekarang malah Kak Tavis. Bahkan aku sama sekali tidak pernah bertatap mata dengannya. Jangankan mengobrol, sekadar lewat di depannya saja tidak pernah. Aku jadi cemas sendiri. Berhadapan dengan sesama perempuan akan lebih ganas daripada beda kelamin.


Meskipun Kak Syden menyebalkan, tapi aku akan tetap memilih untuk menemuinya daripada harus menemui Kak Tavis. Aku juga tidak punya urusan dengannya. Pasti Kak Tavis akan melabrakku? Atau mungkin marah kepadaku? Ah, tapi aku tidak salah.


Jika masalahnya karena aku dianggap sebagai orang yang bernama Panditha itu, aku tetap tidak salah. Aku tidak mengenal Panditha. Pula jika wajahku memang mirip dengannya itu hanya kebetulan saja. Aku pun tidak tahu siapa Panditha. Seharusnya mereka tidak mempermasalahkan itu.


"Tuh kan! Malah bengong," tegur Friska sambil menyenggol bahuku. "Mikirin apa, sih?"


"Nggak ada. Oh iya, Fris. Kak Tavis ada perlu apa sama gue?"


"Mana gue tahu."


"Dia cuma nyuruh gue nemuin dia pulang sekolah nanti?"


"Iya, tuh. Nggak jelas," jawabnya sewot.


Aku menopang wajahku dengan dua tangan. "Kan dia yang butuh, ngapain harus gue yang nyamperin? Di koridor kelas duabelas lagi. Nggak mau, ah."


"Nanti kalau ngamuk gimana, Nad?" Friska kembali khawatir.


Ya memang kalau Kak Tavis itu mengamuk kenapa? Memang bermasalah, ya?


"Dia anak Seesaw tahu! Inget, dong." Friska mengingatkanku. Aku mengangkat satu alisku heran. "Emang kalau dia anak Seesaw gue harus tunduk gitu? Gue nggak mau diatur-atur lagi. Gue punya hak untuk nolak. Udah, ah. Jangan bahas dia lagi. Kali-kali gue berontak juga nggak apa, kan? Lagian dia yang butuh kok. Biarin aja dia yang nyamperin."


"Seriusan nggak mau nyamperin?" Sekali lagi Friska memastikannya.


"Nggak."


"Nad, serius?"


"Iya, Fris. Kalaupun Kak Tavis memang mau bicarain hal penting sama gue pasti dia datang lagi kok." Friska mengangguk-angguk paham. "Ya, udah. Kalau begitu sekarang bantuin gue deket sama Kak Savalas, ya?"


Tanpa berkata iya, Friska sudah lebih dulu membuka instagram-nya. Memperlihatkan semua chatingan-nya dengan Kak Savalas. Aku heran sendiri. Ini ada yang janggal sebenarnya.


Apa iya Kak Savalas serius dengan kata-katanya waktu itu?


Waktu dimana Kak Savalas bilang kalau Friska itu imut..., atau ini hanya pikiranku saja.

__ADS_1


__ADS_2