
"Jurang apa, sih, Kak? Tuh, kan. Semakin ke sini Kakak itu semakin aneh. Bisa nggak sih kalau ngomong itu yang jelas?" Tidak tahu aku dengan Kak Savalas yang sekarang. Semenjak aku masuk ke jenjang SMA dia semakin aneh. Dulu, waktu SMP dia tidak seaneh ini. Jarang sekali dia melarangku ini itu.
"Lo nggak bakal ngerti. Sekarang gue tanya. Udah berapa cowok yang lo kenal?" Kak Savalas masih ingin mengintrogasiku. Mama masih sibuk di dapur. Kelihatannya Mama tidak tahu dengan apa yang Kak Savalas dan aku bicarakan. "Ayo ke kamar," ajak Kak Savalas sambil menarik lengan tanganku.
Aku meletakkan pisau dan buah apel yang belum selesai ku kupas. Ini saatnya aku menceritakan semuanya kepada Kak Savalas supaya dia tidak menanyakan hal ini lagi. Kak Savalas membawaku ke kamarku sendiri. Dia segera menutup pintu dan mengunci kamar. Aku langsung dibawa ke balkon kamarku.
"Sekarang jawab," perintahnya.
Aku meletakkan tubuhku di kursi. "Iya, iya. Hari pertama masuk PLS gue ketemu sama Kak Lesham. Waktu di lapangan yang acara memalukan adik kelas itu gue ketemu sama Kak Jin. Kalau di kantin gue ketemu sama Kakak datar yang nggak tahu namanya siapa. Dia ngomongnya pedas banget. Habis itu, gue nggak sengaja nabrak Kak Nehan waktu mau nyari Zelo di barisan paling depan." Aku berhenti sejenak. "Masih inget waktu Kakak ninggalin gue berangkat sekolah?" tanyaku.
"Masih."
"Itu pas gue datang ke sekolah telat. Akhirnya gue dipanggil Bu guru yang sedang menghukum Kak Vante." Aku menyelipkan satu anak rambutku yang menganggu. Kak Savalas masih berdiri. Dia memiringkan kepalanya. "Dan yang terakhir Jastin?" tanyanya.
"Bukan. Semua cowok yang gue ceritain itu tahu nama gue duluan sebelum kenalan. Tapi kalau Jastin itu nggak. Dia nggak tahu nama gue sebelumnya," jelasku. Bukan hanya Jastin yang tidak tahu. Kak Nehan pun juga tidak tahu. Bahkan dia melupakan namaku.
Kak Savalas ikut duduk di sampingku. "Terus, kenapa lo bisa pulang bareng Maven tadi?"
Aku mengembuskan napas kasar. Masalah ini lagi yang dibahas. "Kak, asal lo tahu, ya. Gue itu nggak merasa pernah nge-chat lo kayak gitu. Lo kan tahu sendiri kalau gue ini nggak pernah menyingkat kata-kata. Gue bahkan nggak tahu siapa yang udah ngirim chat itu ke lo. Hape gue aja nggak gue buka waktu di sekolah. Lo juga. Kenapa langsung percaya aja, sih?"
"Jadinya kan gue harus nungguin lo di halte berjam-jam sampai akhirnya Kak Maven ngelihat gue terus nawarin boncengan. Kalau nggak ada Kak Maven gue juga nggak tahu bakal kayak apa," lanjutku. Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal. Sejak dulu aku memang selalu jujur-jujuran dengan Kak Savalas. Entah apapun itu masalahnya, aku selalu menceritakannya. Lagipula, Kak Savalas juga dapat dipercaya. Dia selalu memberikanku saran yang membantu. Karena itu, kami terbilang cukup dekat.
"Sori. Gue nggak tahu." Respon Kak Savalas singkat. Ia lantas terdiam sejenak lalu bertanya lagi. "Lo bilang tadi hape lo nggak lo pakai kan?"
"Iya."
__ADS_1
"Tapi, lo minjemin hape lo ke teman-teman lo, nggak? Coba deh inget-inget."
Aku mengingat-ngingatnya. Aku sama sekali tidak meminjamkannya kepada siapapun. "Nggak, kok. Tapi waktu itu ada satu kejadian dimana Jastin itu lagi godain Zelo di depan gue. Eh, nggak sengaja hape gue jatuh gara-gara mereka berdua. Anehnya, hape gue nggak kenapa-napa. Malahan Jastin yang ngambil hape gue dari bawah. Nggak mungkin 'kan kalau dia yang ngirim pesan itu? Orang kejadiannya cepat kok. Ngetik itu juga nggak secepat itu. Makanya, gue sama sekali nggak curiga sama Jastin."
"Ada kemungkinankalau Jastin yang ngirim pesan itu." Kak Savalas yakin sepenuhnya. "Hanya diayang bisa melakukan apapun tanpa terkecuali," tambahnya dengan intonasi rendah
____
Jujur, aku bingung sekarang.
Zelo memaksaku untuk ke kantin sekarang. Sementara aku sangat malas. Jika ditanya aku lapar atau bukan, jelas saja aku lapar. Tetapi aku takut jika nanti aku bertemu Kakak datar itu lagi. Entah apa kesalahan yang aku akan lakukan kali ini jika bertemu dengannya lagi.
"Gue laper banget, Nad! Lo tega ngebiarin gue kelaparan?" Zelo mengadukan kondisi perutnya kepadaku. Jika sudah begini siapa yang bisa menolaknya. Dengan malas-malasan aku bangkit dari tempat duduk dan mengantarkan Zelo ke kantin. Cewek ini sangat gembira sekali ketika aku mau mengantarnya ke kantin. Dia dengan semangat berjalan lebih dulu di depanku. Sementara aku hanya bisa menghela napas berkali-kali sambil berdoa supaya tidak ada Kakak datar itu.
Zelo berhenti tiba-tiba. Membuatku tak sengaja menabraknya. "Zelooo, berenti bilang-bilang kek," keluhku. Cewek itu tak meresponku. Dia malah berjinjit dan berusaha mengambil sebuah kertas yang tertempel di bagian paling atas di papan madding sekolah. "Lo mau ngambil kertas apaan, sih?" tanyaku masih tidak paham.
Zelo langsung berhenti berjinjit. Ya, mau dia berjinjit pun dia tidak akan sampai ke bagian paling atas dari papan madding itu. Jangankan Zelo. Aku yang lebih tinggi tiga sentimeter olehnya saja tidak sampai jika harus mengambil kertas itu. Zelo langsung bersedekap dada dan menatapku lekat-lekat.
"Ambilin gue kertas itu kek. Jadi temen nggak peka banget, sih!"
Aku melihat kertas yang baru saja akan diambil Zelo. Itu memang tinggi. Sudah aku bilang kalau aku tidak sampai. Tapi masih saja menyuruhku. Kalau sudah begini siapa yang tidak peka? Dia atau aku sebenarnya? Ya, seharusnya dia. Bukan aku.
"Malah diam," ujar Zelo lagi mulai tidak sabar. Dia mengangkat tubuhku untuk berjinjit. "Gue nggak sampai, Ze."
Zelo masih tetap teguh pada pendiriannya. "Nggak! Lo itu sampai. Ayo, coba dulu, Nad. Kertas itu berguna banget buat lo."
__ADS_1
Aku melepas paksa tangan Zelo dari tubuhku.
"Iya, iya. Tapi nggak usah pegang-pegang gue juga," tuturku. Aku merasa geli sendiri setiap kali ada orang yang memegangku. Kecuali memegang tangan. Kalau itu aku tidak merasa geli. Tapi kalau yang lainnya aku geli sendiri.
Zelo berdecak pinggang. "Ya, makanya cepat!"
Aku mengembuskan napasku dengan kasar. Ku turuti semua yang Zelo minta sekarang. Aku mulai berjinjit. Tangan kananku berusaha mengambil kertas itu. Sedangkan tangan kiriku memegang dinding sebagai penyangga. Entah siapa yang menempelkan papan madding di bagian yang setinggi ini. Jangan kan untuk mengambil, membaca saja susah. Apalagi yang tulisannya kecil-kecil. Tidak akan ada yang bisa membaca kecuali memakai kaca pembesar.
Belum sempat ku dapatkan. Kertas itu sudah lebih dulu diambil oleh seseorang dengan mudahnya. Aku langsung berhenti berjinjit dan mengibas-ngibaskan tanganku yang kotor terkena debu dinding. Lalu, ku tatap orang yang baru saja mengambil kertas yang ingin aku ambil.
Dia tampak menyengir. "Kalau nggak sampai jangan dipaksa," ucapnya sambil memberikan kertas itu kepadaku.
Aku mengambil kertas itu. "Makasih, Kak."
"Sama-sama."
"Kak Lesham, ada yang mau gue tanyain ke lo."
"Soal pesan gue? Kan udah gue bilang Nadisha. Lo nggak berhak tahu tentang itu meskipun gue berhak tahu tentang lo." Kak Lesham menduga dengan benar. Dia tahu apa yang ada dipikiranku. "Daripada lo sibuk nanya-nanya ke gue, mending lo buka hape lo."
Kak Lesham melemparkan senyum kepadaku dan Zelo. Aku langsung membuka ponselku setelah Kak Lesham mengatakan hal itu. Di sisi lain, Zelo masih terdiam. Selepas Kak Lesham berlalu, Zelo mendekatiku dengan histeris. "NADISHA?! GUE NGGAK MIMPI KAN? LO BENERAN DEKAT SAMA KAK LE----" Tanganku langsung membungkam mulutnya. Zelo benar-benar. Aku bisa malu sendiri jika tadi aku tak membungkam mulutnya. Setelah ku rasa aman, ku lepaskan bungkamanku.
"Zelo, jangan teriak-teriak! Nanti kalau ada yang dengar gimana?" sarkasku. Sementara Zelo masih tampak tak percaya. Aku mengabaikannya dan langsung membuka ponselku. Dan benar saja. Kak Lesham memberikanku sesuatu tak terduga dengan pesan maupun perlakuannya.
Malam minggu ada acara nggak? Kalau nggak ada gue jemput jam 7 malam.
__ADS_1