
Kantin. Tempat ini. Aku sangat merindukan tempat ini. Di sini adalah tempat pertama kali aku bertemu dengan Kak Syden yang ngomongnya suka menyalahkan. Kantin juga tempat di mana aku selalu ditemui oleh Kak Lesham. Dia tidak pernah mencariku ke kelas. Sama sekali. Padahal jika dia menemuiku di kelas akan jauh lebih baik daripada di kantin yang mayoritas tidak pernah sepi saat istirahat.
Banyak pasang mata yang memperhatikan. Ada pula bisikan-bisikan tidak suka.
Di sini juga adalah tempat di mana aku berhadapan langsung dengan Kak Vante yang saat itu masih menjadi pacarku, Kak Lesham yang notabene-nya sering mencariku, pula Kak Jin yang sedang mengajakku makan di kantin. Waktu itu adalah saat paling menegangkan dan juga merepotkan. Aku yang sendiri harus mengurus tiga cowok. Untungnya Kak Jin menyelamatkanku. Aku masih ingat betul ucapannya meskipun cukup mengejutkan bagiku.
Makan sambil jagain pacar orang.
Jawaban yang sangat pintar. Aku bahkan tidak menduganya.
"Oh, iya, Nad. Tadi lo ngomongin apa sama Kak Lesham? Udah baikan?" tanya Friska mulai penasaran.
Kak Maven menyingkirkan piring yang ada di depannya sambil menaikkan dagunya. "Ada masalah apa lo sama Lesham?" Kak Maven ikut bertanya.
"Nggak ada. Cuma say hello aja, sih. Lama nggak ketemu." Kataku berbohong. Aku memang sudah keseringan berbohong sejak masuk SMA. Bukan bertambah baik malah jadi bandel seperti ini. Beruntungnya tidak ada Kak Savalas. Jika ada pasti aku sudah diomeli habis-habisan seperti diomeli ibu-ibu komplek.
"Kok gue nggak di say hello juga? Kan kita udah lama nggak ketemu," ujar Kak Maven.
Friska tertawa. "Kak Maven kayak nggak tahu aja. Nadisha kan pernah dekat sama Kak Lesham. Tapi nggak sampai pacaran, sih. Keduluan sama Kak Vante," jelasnya sok tahu.
Aku langsung memukul bahunya jengkel. Penjelasan macam apa ini? Seenaknya saja.
"Jangan dengerin, Kak. Suka ngada-ngada emang ini anak," bantahku.
Aku tidak ingin ada orang yang mendengar ucapan Friska lagi. Nanti yang ada akan tersebar gosip baru tentang aku. Memang tidak ada yang berani menegurku karena tidak suka, tetapi aku merasa tidak enak. Kadang aku tak sengaja melihat teman-temanku berbisik tentangku. Bila aku tidak dikelilingi oleh anak Stigma, terutama Kak Lesham dan Kak Vante, mungkin aku sudah dibully karena terlalu dekat dengan salah satu anak Stigma. Sampai pacaran pula.
Kak Maven mengernyit. "Sampai suka juga nggak, nih?"
"Kalau dekat ya artinya suka dong, Kak! Gimana, sih?" Friska mengomel. Kenapa malah dia yang emosi, ya?
"Ya kan ada yang cuma sebatas dekat. Kakak adik zone misalnya," jelas Kak Maven.
"Ish! Itu mah beda perkara, Kak."
"Beda dari mana? Sama-sama dekat kok. Lo tuh yang ilmu percintaannya kurang." Kak Maven menjulurkan lidahnya. Friska terlihat semakin merasa geram. Harga dirinya yang tinggi mengenai percintaan seperti hancur dalam seketika. Aku melihat wajahnya yang mulai merah. Sebentar lagi pasti marah. "Kakak mau pergi sendiri apa gue yang usir, nih?" ancam Friska.
Kak Maven malah terkekeh sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Friska untuk minta maaf. Aku hanya tersenyum melihat pemandangan ini. Kak Maven dan Friska sama-sama suka ngomong yang ke mana-mana. Pribadi yang hampir sama. Ku rasa mereka cocok. Ya, entah cocok dari mana aku juga tidak tahu.
"Apaan, nih?" Friska memicingkan matanya. "Artis nggak menerima permintaan maaf."
Kak Maven menarik kembali uluran tangannya. "Idih, sok banget lo."
"Ini kalian mau ngomong terus sampai jam istirahat selesai, ya?" Aku menyela keduanya.
"Kak Maven tuh nyebelin," jawab Friska.
"Nggak salah?"
"Kagak." Friska menepuk bahuku. "Usir aja deh daripada ganggu mulu," katanya.
__ADS_1
Kak Maven langsung menunjuk kami. "Waah mulai nggak sopan nih sama Kakak kelas," ucapnya.
"Bercanda." Friska menjulurkan lidahnya. Lantas berdiri. "Gue pesen siomay lagi, ya. Tungguin."
"Buset. Kurus kayak tripleks aja makannya sekarung," cibir Kak Maven.
"Terserah dong!"
Lalu Friska pergi tanpa mempedulikan kami lagi. Aku pun menghela napas sejenak.
"Kak Maven anak Stigma juga ya ternyata. Pinter banget akting nggak kelihatannya." Oh, ya. Ini sudah lama sekali ingin ku tanyakan pada Kak Maven. Siapa tahu dia lebih sedikit banyak bercerita daripada Kak Lesham yang susahnya kebangetan. Awal masuk sekolah ini aku sudah kembali penasaran tentang Stigma. Rasanya belum tenang jika aku belum tahu semuanya.
Kak Maven berhenti bicara. Dia menatapku penuh tanya. Seperkian detik dia kembali bersikap biasa saja.
"Oh, jadi bocil udah tahu?" Dia balik bertanya kepadaku.
Aku tersenyum.
"Biar tenar aja, sih. Gue tuh semenjak masuk Stigma langsung merasa ganteng banget tahu nggak. Intinya, gue itu selalu di urutan kedua kalau masalah kegantengan." Kak Maven menjelaskan apa yang tidak ku tanya. "Emang susah sih ngalahin Bang Jin. Itu orang gantengnya udah ke bawa dari lahir."
"Tapi gue nggak nanya loh, Kak."
"Sama, gue juga."
____
Kini aku berada di toilet, sendiri. Friska sedang berada di koperasi untuk membeli pulpen. Katanya stock pulpen di lacinya sudah habis. Mau meminjam juga gengsi. Jadi tadi dia memutuskan untuk membeli saja. Lagipula salah sendiri. Punya pulpen ditaruh di laci. Jelas saja tidak mungkin akan bertahan lama.
Ada banyak pasang mata yang sudah siap untuk mengambilnya setelah pulang sekolah.
Aplikasi whatsapp mulai terbuka. Ada satu pesan masuk dari sepuluh menit yang lalu.
Hai?
Aku mengernyit. Pesan macam apa ini? Tumben sekali Kak Lesham berbasa-basi. Biasanya juga langsung ke poinnya.
Lama banget aktifnya, nggak punya kouta? Wifi kelas kan ada.
Belum juga aku membalas, Kak Lesham sudah lebih dulu mengirim pesan lagi. Aku tersenyum. Jemari tanganku mulai mengetik balasan untuk Kak Lesham. Tadi gue matiin hapenya.
Lalu aku pun memencet tombol kirim. Aku sebenarnya ke toilet hanya untuk membuka ponselku saja. Bila didekat Friska aku takut. Dia orangnya suka kagetan. Kalau sampai teriak aku yang akan malu.
Oh. Sekarang kan Sava nggak di Indo. Vante juga bukan lagi pacar lo. So, gw boleh dong gantiin tugas mereka? Kak Lesham membalasnya dengan cepat. Sama seperti dulu.
***Tugas apa?
Antar jemput lo dan jagain lo. Boleh, kan? Apa perlu gw ijin nyokap lo? Bokap? Sava? Mantan***?
Ish. Kenapa harus bawa-bawa mantan? Menyebalkan sekali.
__ADS_1
***Nggak seribet itu kali, Kak.
Yaudah bolehin dong.
Iya.
Oke, pulang sekolah tunggu gw digerbang ya***.
Aku hanya membaca pesan itu. Sebenarnya ingin mengetik balasan. Tapi aku kembali menghapusnya. Aku tidak ingin terkesan agresif di mata Kak Lesham. Lantas aku segera merapikan seragamku dan keluar dari bilik toilet. Melihat diriku di cermin sejenak. Lalu melangkah pergi. Belum keluar dari toilet, ponselku kembali bergetar.
Ada satu pesan masuk. Dari notifikasi yang terpampang di layar ponsel, aku langsung tahu siapa pengirimnya.
Gak usah takut bales. Gw gak gigit kok.
____
"Nadisha lo ke mana aja, sih?
"Dari toilet."
"Mana ada selama itu."
"Emang tadi agak antre. Memang kenapa sih, Fris? Lo kok aneh gitu?"
"Gimana nggak aneh? Tadi tuh Kak Syden ke sini nyariin lo. Omegatt! Gue ngomong langsung sama Kak Syden! Astagaaa, ganteng." Friska heboh sendiri di depanku.
Aku hanya menggeleng-geleng kepala. Di kelas berteriak seperti ini cukup memalukan. Sepertinya memang Friska tidak punya malu.
"Terus Kak Syden titip pesan nggak?" tanyaku.
Friska mengembuskan napasnya. Lantas duduk di sampingku. "Titip dong," jawabnya.
"Apa?"
"Katanya habis pulang lo ditunggu di Stig Cooking. Ada hal penting yang mau diomongin. Mungkin karena dulu lo nggak mau diajar sama dia kali. Maunya sama Kak Jin. Jadinya Kak Syden merasa terasingkan." Friska kembali berceloteh panjang. Sepertinya salah satu keunggulan Kak Maven telah menurun kepada Friska.
Tapi, sepertinya bukan hal itu yang ingin Kak Syden bicarakan. Menurutku tidak begitu penting. Lagipula dulu kan Kak Jin yang menawarkan. Bukan karena aku tidak mau diajar oleh Kak Syden. Tapi mumpung ada kesempatan belajar sama ketua kenapa tidak? Kesempatan hanya datang sekali.
"Hidup lo beruntung tahu nggak, Nad. Eh tapi gue juga beruntung sih bisa kenal sama Kakak lo."
"Ngarep aja, sih." Aku mengejek. "Jangan terlalu berharap, Fris. Siapa tahu aja di Korea Kak Sava udah ada yang punya."
Friska mengercutkan bibirnya sambil memeluk lenganku. "Omongannya, ya. Dukung sahabatmu ini dong. Gue tuh bakal jadi kakak ipar yang baik. Suer," ujarnya entah bermaksud apa.
"Kan gue cuma bilang siapa tahu, belum tentu jadi kenyataan. Tenang aja, sih."
"Okee, asal lo dukung gue akan tenang." Friska kembali ke posisinya. Tak lagi berkata banyak, dia hanya diam sambil senyum-senyum. Sepertinya dia telah membayangkan banyak hal. Mungkin salah satunya dengan Kak Savalas?
Aku juga sebenarnya punya banyak khayalan. Banyak bayangan. Tapi aku terlalu takut bila tak jadi kenyataan. Ada baiknya aku tidak membayangkan apapun. Setidaknya satu tahun lalu sudah cukup.
__ADS_1