
"Omong kosong!"
Friska menatapku tajam, amarah dapat terlihat jelas di matanya. Aku sampai kesulitan meneguk ludahku sendiri. Aku belum pernah melihatnya semarah ini padaku sebelumnya. Dia pernah marah tetapi bukan kepadaku. Ini kali pertamanya dia marah padaku. Tapi ini salah. Aku mengatakan sejujurnya yang ku lihat kemarin di alfamart depan gang. Tentang Kak Vante dan perempuan lain. Aku hanya ingin Friska tahu yang sebenarnya. Aku tidak mau dia jatuh kepada Kak Vante yang akan berakhir menyakitkan.
"Lo," dia menunjukku dengan jari telunjuknya. "Ah. Gue capek, Nad. Lo jangan nambah beban gue deh," ucapnya sambil menurunkan jari telunjuknya itu.
Aku memberanikan diri untuk maju ke depan, sedikit.
"Gue nggak mau lo nyesel nantinya. G-ggue minta maaf udah ganggu waktu lo. Tapi please, percaya sama gue. Kali ini aja."
Friska menoleh. "Omongan lo nggak ada buktinya, Nad. Mana mungkin gue bisa percaya sama lo?" Dia mengembuskan napasnya sejenak. "Nad, lo itu sahabat gue. Kak Vante pacar gue. Kalian berdua itu penting buat gue."
"Lo udah bener-bener jadian sama Kak Vante?" tanyaku kaget. Sebelumnya dia tidak pernah cerita. Selama ini pun aku masih menganggap mereka dekat. Aku tidak tahu jika mereka sudah resmi berpacaran. Semuanya memang mulai berubah. Friska seperti bukan sosok Friska yang dulu. Kini, dia sedikit berbeda. Dulu tanpa kuminta pun, dia akan percaya kepadaku. Tetapi sekarang sudah berbeda.
Friska juga jarang bersamaku. Di sekolah pun dia sering menyibukkan diri telponan dengan Kak Vante. Aku mulai merasa hubunganku dengan Friska renggang. Biasanya dia akan heboh dan cerewet. Sekarang dia sudah mulai jadi orang yang pendiam. Jarang ngomong dan terlihat lebih seperti perempuan yang anggun.
Sejak dekat dengan Kak Vante, dia memang mengalami banyak perubahan?
Aku merasa seperti itu.
"Ya, belum ditembak sih. Tapi kan...," Friska menjeda kalimatnya. Kini berganti aku yang menatapnya nyalang.
"Jangan berharap lebih, Fris. Kak Vante nggak sebaik yang lo kira."
"Lo kenapa sih, Nad?"
Aku mengernyit.
"Kenapa seakan-akan lo pengin gue ngejauh dari Kak Vante. Lo kayak nggak suka banget kalo gue deket sama dia. Lo tuh...," matanya memperhatikanku. "Masih suka, ya, sama dia?" tanyanya.
Aku tersedak mendengar pertanyaannya.
"Nggak kok. Gue cuma nggak mau lo sakit hati, Fris," bantahku.
__ADS_1
"Sakit hati untuk apa? Untuk omongan lo ini? Tenang. Gue nggak segampang itu dibodohin."
"Nggak gitu, Friska. Harus berapa kali sih gue bilang? Kak Vante nggak sebaik yang lo kira. Dia ada cewek lain selain lo. Gue liat sendiri waktu itu dia berduaan sama cewek, mesra banget. Gandengan tangan terus sampai nggak lepas. Suap-suapan segala lagi. Apa salah kalo gue curiga dia punya banyak cewek?"
"Udah deh. Ini itu intinya lo masih punya rasa sama dia, kan?"
"Seriusan nggak, Friska."
Memang benar begitu adanya. Ya walaupun aku masih suka dengan Kak Vante tetapi bukan itu tujuanku sebenarnya. Aku hanya tidak mau Friska menjadi korban selanjutnya. Aku tidak mau melihatnya menangis nantinya. Hanya itu yang aku mau sekarang. Jika aku bisa mencegah kenapa tidak ku lakukan?
"Halah. Bullshit! Makin capek gue ngadepin tingkah lo," katanya. "Gini deh. Gue nggak suka orang yang munafik. Kalo lo masih suka ya bilang iya. Nggak usah sembunyi tangan. Tingkah lo yang kayak gini bikin gue muak tahu. Lo labil. Dulu lo bilang nggak apa-apa. Sekarang malah ngelarang. Kenapa lo nggak bisa biarin gue bahagia, sih? Lo juga ada Kak Jin, kan? Harusnya lo bersyukur. Bukannya malah pengin masa lalu lo balik lagi. Nggak lucu tahu berantem gini cuma gara-gara cowok," imbuhnya emosi meskipun nada bicaranya tak tinggi.
"Fris." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku heran. "Lo kenapa jadi emosian sih sekarang? Lo nggak kayak Friska yang gue kenal dulu."
Friska menghela napas.
"Lo yang kenapa. Tiba-tiba ngomong yang nggak-nggak tentang Kak Vante."
"Tapi omongan gue real, Fris. Gue nggak bohong."
Harusnya ada jika aku membawa ponsel malam itu. Tapi sayangnya aku lupa. Aku juga ada niat untuk mengambil ponselku. Tetapi aku takut ketinggalan jejak. Dan sekarang, realitanya menghancurkan ekspetasiku. Kupikir tanpa bukti pun Friska masih akan percaya. Tapi nyatanya tidak semudah itu. Dia memang benar-benar berubah.
"Gue lupa bawa hp waktu itu."
"Gue capek. Mau istirahat. Lo tahu pintu keluarnya, kan?" Friska melangkah menjauh dariku. Meletakkan ponselnya di meja belajar. Lalu menutup gorden kamarnya. Silau sinar matahari yang semula masuk ke kamar perlahan hilang. Kamar yang semula terang menderang pun mulai meredup. Hawa dingin pun mulai terasa saat Friska menaikkan suhu AC kamarnya.
Friska meletakkan remote AC lalu menoleh padaku. "Ngapain masih disini? Lo lupa pintu keluarnya? Perlu gue tunjukin?" tanyanya beruntun masih tidak stabil.
"Fris, sekali aj---"
"GUE BILANG PERGI!!" bentaknya, kemudian menatapku letih. "Gue capek," tambahnya.
"Jangan teriak-teriak kayak di hutan, Kak." Suara itu berasal dari Ibunya Friska yang berada di dapur. Aku sempat melihatnya sewaktu datang kesini. Kebetulan Ibu Friska memiliki bisnis cathering. Makanya lebih sering berada di rumah dan tentunya berada di dapur setiap saat.
__ADS_1
Friska membalas peringatan dari Ibunya. "Iya, Bu. Maaf."
Lalu kembali fokus padaku. "Pintu keluar disana," tunjuknya. "Jangan bikin gue dimarahin Ibu. Lo ngerti, kan?"
"Fris," sanggahku.
"Apa?"
"Lo capek sama gue?"
"Iya. Gue capek."
"Ya, udah. Gue pulang, ya. Kalo ada apa-apa langsung telpon gue."
"Iya."
Aku mengalah. Berjalan keluar dari kamar Friska. Aku tidak tahu kenapa dia jadi seperti itu. Rasanya sedih. Sesedih itu. Aku dan dia sudah tidak bisa terbuka seperti dulu lagi. Ada apa dengan semua ini?
"Nadisha."
Saat aku hendak menutup pagar rumah Friska, tiba-tiba Friska datang menghampiriku. Aku terpatung. Dia datang kepadaku sambil menangis. Aku semakin bingung. Dia memelukku erat dengan tiba-tiba yang membuatku semakin terkejut. Tadi dia ingin sekali aku pergi dari hadapannya dan sekarang malah berbalik. Dia berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap. Aneh.
Dia berbisik kepadaku. "Gue capek, Nad," ujarnya sambil menangis.
"Kenapa?" tanyaku.
"Gue mau cerita tapi nggak bisa. Tapi gue capek ngadepinnya, Nad. Gue capek. Banget."
"Fris, lo kenapa sih sebenarnya? Gue nggak ngerti."
"Gue boleh minta sesuatu?"
Aku mengelus punggungnya supaya dia tenang, mendengarnya bertanya seperti itu membuatku mengangguk. Jika aku bisa memberikan itu kepadanya, kenapa tidak? Siapa tahu aku mampu memberikannya sesuatu yang dimintanya itu.
__ADS_1
"Boleh nggak? Gue minta lo putusin Kak Jin?" tanya Friska. "Tolong."