Bena

Bena
BAB 9B


__ADS_3

"Lo ngapain berdiri di sini? Ganggu jalan gue aja."


Aku langsung menoleh saat itu juga. Beruntung. Zelo datang kepadaku dengan sendirinya. Aku tersenyum, lantas ku ajak dia pergi dari perpustakaan. Tempat itu terlalu ramai bila aku membicarakan hal ini. "Lo mau bawa gue ke mana, hah? Lepas nggak!" teriaknya memaksa.


Aku tak mempedulikan.


Setibanya di gudang sekolah, aku langsung melepas tangan Zelo. Dia terlihat sangat marah sekarang. Aku tahu itu. Ya tapi mau bagaimana lagi. Bila aku tak menyelesaikannya sekarang. Pasti Mama akan bertanya kepadaku tentang Zelo. Lalu harus ku jawab apa nantinya? Aku tak harus berbohong lagi, kan?


"Maksud lo apa bawa gue ke sini?!" Zelo mendekatkan tubuhnya denganku. Melihatnya marah, sebenarnya aku takut. Tapi aku tak punya pilihan untuk saat ini. Selama ini aku sudah cukup sering mengalah dengannya. Kali ini aku akan membantah.


"Maksud lo nyimpen foto Mama gue apa? Lo nggak berhak nyimpen foto kayak begitu, Zel. Apa semua ini ada hubungannya sama kejadian waktu itu?" tanyaku cukup panjang. Sementara Zelo masih terdiam. Sorot matanya sangat tajam. Tangannya sudah mulai mengepal. Ku kira aku tak mengatakan kata yang kasar. Aku sudah berusaha untuk sehalus mungkin. Harusnya itu akan membuat Zelo lebih tenang. Tapi kenapa sekarang Zelo malah berapi-api?


Zelo tertawa. Aku tahu ada banyak sekali makna di dalam tawanya itu. "Bagus deh kalau lo sadar. Gue jadi lega," katanya cukup singkat. Aku tak paham dengan perkataannya.


Aku segera mengeluarkan ponselku. Ku tunjukkan foto Mamaku kepada Zelo. "Apa ini benar foto Mama gue?" tanyaku agak ragu.


"Foto itu?" Zelo balik bertanya. Lantas ia seperti orang yang baru sadar dan tertawa lagi. "Harusnya gue sadar kalau Friska nggak bakalan diem aja lihat lo murung. Hahaha, lucu, ya? Dulu kita teman, sekarang kita musuh. Tapi bagus sih. Lo akhirnya punya teman selain gue. Cukup berguna juga hidup lo," katanya kasar. Entah apa maksudnya itu.


"Lalu kenapa lo nyimpen foto Mama gue?"


"Karena Mama lo itu pelakor! *******! Wanita malam! Si bereng---" Belum sempat dia selesai berkata, aku sudah lebih dulu menamparnya. Ini kedua kalinya aku menampar dia. "Gue udah nahan untuk nggak main tangan. Tapi kata-kata lo barusan nggak enak di denger!" teriakku. Tanpa ku sadar, air mata mengalir dengan sendirinya.


Zelo kembali tertawa. Kapan dia menghentikan semua ini?


"Nangis aja terus! Andalan orang suci nangis kan, ya? Lemah emang," ucapnya semakin menjadi-jadi. Tak ada rasa bersalah sedikitpun pada dirinya. Aku bingung harus bagaimana lagi. Setiap pertanyaan yang ku lontarkan, ia malah semakin berapi-api. Sebenarnya apa yang sedang Zelo sembunyikan dariku sampai semuanya menjadi kacau seperti ini. Apa mungkin foto yang mirip Mamaku itu adalah orang yang membuat orangtua Zelo berpisah? Apa mungkin iya?


Aku memberanikan diri menatap matanya lagi. "Maksud lo foto itu...," aku mengantunggkan ucapanku. "Iya. Nyokap lo adalah sumber dari semua kehancuran hidup gue! Nyokap lo ulah dari semua ini! Puas lo?! Sekarang, dengan bodohnya gue malah sayang sama orang yang menghancurkan kehidupan gue. Sangat bodoh! Dan lo..., lo juga sama kayak Nyokap lo! Lo ngambil apapun yang gue suka, termasuk Kak Vante," ujarnya panjang sambil terus menatapku. Aku yang mendengar fakta itu langsung lemas.


Ah!


Sejak kapan Zelo menyukai Kak Vante?


Bahkan aku sebagai sahabatnya saja tidak tahu. Dan sekarang aku malah berpacaran dengan Kak Vante. Itu artinya..., aku menikung sahabatku sendiri kan? Bodoh! Bodoh!


"Kenapa lo nggak pernah cerita sama gue?"


"Memang lo punya waktu buat dengerin gue? Setahu gue lo lebih sibuk nyari tahu tentang Stigma. Apa pentingnya gue cerita?"

__ADS_1


"Tapi kalau lo cerita, gue pasti dengerin kok."


"Sayangnya gue nggak mau!"


"Ya, maaf kalau soal itu. Sekarang, mau lo apa? Gue putus sama Kak Vante, kan?" tanyaku lebih tenang. Setidaknya dia masih mau untuk menjawab pertanyaanku. Itu lebih dari cukup sebenarnya. "Memang dengan lo putus, apa Kak Vante bakal milih gue buat gantiin lo? Enggak kan?" tanyanya balik. Memang benar, sih.


Kalau sumber masalah ini hanya Kak Vante, aku bisa dengan mudah untuk menyelesaikannya. Tapi kalau orang lain, itu cukup sulit. Lagipula aku masih belum memiliki rasa apapun kepada Kak Vante. Walaupun terkadang aku tertarik kepadanya. Namun, kukira itu hanya sebuah perasaan kagum saja. Aku masih bisa dengan mudah melepaskannya. Tak sesulit melepaskan Kak Nehan. Ah, aku teringat akan hal itu lagi.


"Lo tahu, Nad? Semuanya udah jadi bubur. Nggak ada yang bisa dikembalikan kayak semula." Zelo mengucapkannya dengan lebih tenang. Kali ini matanya tak lagi menatapku. Namun, sudah ke arah lain. Dia melihat pohon yang berada tepat di depannya. Daun-daunnya yang terus bergerak karena angin. Aku mengikuti arah pandang Zelo. Meskipun sudah lama bersama, aku masih belum bisa memahami sepenuhnya tentang dia. Ku rasa aku perlu lebih banyak waktu lagi untuk mengenalnya lebih jauh.


"Kata Joker, orang jahat itu adalah orang baik yang tersakiti. Tapi menurut gue, itu salah. Yang namanya orang baik akan selalu baik. Begitupun sebaliknya. Nggak ada titik batas untuk itu. Tuhan aja nggak punya batasan untuk baik kepada umatnya. Lantas, untuk apa sikap manusia itu ada batasnya? Hahaha lucu, ya?. Dulu, gue pikir gue adalah orang baik. Tapi setelah gue pikir-pikir..., gue ini orang jahat. Gimana dengan lo?" Zelo menoleh kepadaku. Aku cukup terkejut dengan hal itu. Sejenak, aku merileksasikan tubuhku. "Gue juga orang jahat," jawabku.


Dengan perkataan Zelo barusan, aku baru sadar bila aku ini juga orang jahat. Jahat telah marah kepadanya. Aku memang belum tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tapi setidaknya, aku harus pandai mengendalikan emosiku. Sabar, itu tak ada batasnya. Benar apa yang dikatakannya. Aku setuju.


Angin terus saja bergerak. Kini, suasana hatiku lumayan tenang. Tidak seburuk awalnya. Aku tak tahu mengapa Zelo bisa berubah secepat ini. Maksudku, tak lagi separah tadi. Akan lebih baik jika Zelo tetap tenang seperti ini. Aku bisa lebih leluasa bertanya banyak kepadanya. Mungkin, menuruti kenginan Zelo saja rasanya kurang cukup. Itu hanya sebagian perhatian yang ku berikan lewat luar. Tapi, aku belum pernah sama sekali memberinya perhatian lewat dalam. Misalnya, saling mendengarkan celotehan. Bertukar masalah. Saling terbuka. Dan, ku pikir itulah kesalahanku. Jika saja aku sudah mengenalnya lewat dalam, masalah tidak akan serumit ini.


Jika Zelo tak mau mengalah, harusnya aku yang mengalah. Kami sama-sama ingin menang. Hingga semuanya hancur seperti sekarang. Bertahun-tahun bersama dengannya, baru kali ini aku bertengkar hebat dengannya sampai dia tidak mau menganggapku temannya lagi. Aku juga tidak tahu apakah sekarang keputusannya itu sudah berubah lagi atau tidak. Tapi apapun itu, aku berharap keputusannya adalah tindakan yang tepat. Semoga saja begitu.


Zelo itu sangat berharga bagiku.


Rasanya, aku belum bisa membayar semua ketulusannya sampai sekarang. Aku tahu, Zelo itu sebenarnya orang baik. Hanya saja, waktu dan keadaan saja yang membuatnya jadi seperti ini. Dulu, aku tak bisa membayangkan hidupku tanpanya. Aku yang kesulitan dalam bergaul mungkin akan memilih home schooling. Tapi, aku berubah pikiran sejak ada dia. Kebaikannya cukup banyak.


Bila aku ditanya aku lelah atau tidak jika harus mengalah, jawabannya pasti iya. Seringkali aku mengalah hanya untuk membuatnya senang. Di mataku, ketika melihatnya tersenyum itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagiku. Meskipun diriku sendiri tidak begitu bahagia. Namun, akan ada saatnya di mana egoku ingin segera keluar. Aku bosan untuk selalu mengalah. Ingin rasanya sekali-kali akulah yang menang. Tapi..., bila aku menuruti egoku, yang ada bukannya Zelo yang mengalah. Tapi tali persahabatan kami yang patah. Itulah resikonya.


Lagipula, jika seumpama aku benar-benar bermusuhan dengannya, aku tak terlalu khawatir pada diriku sendiri. Karena sekarang aku memiliki Friska. Meskipun aku belum tahu luar dalamnya lebih jauh, tapi setidaknya aku bisa merasa nyaman dengannya. Sebenarnya, aku cukup mudah bila aku ingin merasa menang sekali-kali. Tapi, tentu saja resikonya jauh lebih besar. Bukan hanya menjadi musuh saja, di matanya mungkin aku tidak pernah ada. Dia juga tidak akan datang ke rumahku lagi. Dan Mama pasti akan menanyakan kabarnya kepadaku sampai dia datang ke rumahku. Papa pasti juga akan bertanya, begitupun dengan Kak Savalas. Dan jawaban dari semuanya hanya akan membuatku merasa lebih sakit.


Resiko yang lebih besar.


Aku akan merasa seakan-akan aku sedang diteror.


Itu adalah mimpi yang sangat buruk.


"Tapi gue yakin lo orang baik," katanya memecah keheningan. Aku yang semula bersedekap dada langsung menoleh kepadanya. Kami berada pada posisi yang sejajar. "Kalau lo yakin gue ini orang baik, kenapa lo jahat sama gue?" tanyaku.


Zelo kembali menghadap ke depan. Pandangannya lurus dengan pohon itu. "Karena gue orang jahat."


"Zel, gue nggak mau main kata sama lo. Gue ngajak lo ke sini cuma mau nyelesaian semua permasalahan kita. Gue selalu terbayang mimpi-mimpi buruk." Zelo tak menanggapiku. Dia hanya diam dan tersenyum. Pandangannya pun masih mengarah kepada pohon itu. aku tak ingin terburu-buru. Aku hanya takut bila nanti emosinya tersulut lagi. Di sini, aku yang harus banyak belajar. Melatih kesabaranku. "Jujur, gue nggak tahu apa-apa. Bahkan alasan kenapa lo marah pun gue juga nggak tahu. Apa lo mau nyeritain semuanya? Gue bakal jadi pendengar yang baik. Gue mau..., kita sahabatan lagi. Kita ulang semuanya dari awal. Termasuk nyelesain kasus foto ini," ujarku sambil memperlihatkan foto itu lagi.

__ADS_1


"Gue bukan orang baik! Itu artinya, lo nggak berhak nyuruh-nyuruh gue! Udah! Nggak penting juga. Lo yang pergi? Atau gue yang pergi?" bentaknya keras. Terkejut.


"Zel, gue belum selesai!"


Aku menahan tangannya. Dia hendak pergi, tapi dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dariku. Aku hanya tahu mengapa dia marah kepadaku. Itu karena Kak Vante. Iya, aku masih ingat. Tapi aku tidak tahu tentang foto yang dia simpan. Seorang wanita yang mirip sekali dengan Mamaku.


"Lepas!"


Aku tidak peduli jika dia membentakku. Aku akan tetap menahannya di sini. "Lepas gue bilang!"


"Lo bener-bener bikin gue emosi, ya!"


Zelo hendak menamparku. Tapi semua itu tak jadi ia lakukan. Ada seseorang yang menahan tangannya. Mataku menyipit saat itu. Dan aku cukup terkejut melihat siapa yang datang untuk melindungiku. Dia, dia adalah seseorang yang membuat Zelo marah kepadaku. Siapa lagi jika bukan Kak Vante, yang statusnya adalah pacarku.


"Jangan. Halangi. GUE!!" Zelo menajamkan matanya. Sedangkan Kak Vante masih tak melepas tangannya. "Kenapa? Kenapa gue nggak berhak nampar dia, sementara dia udah nampar gue dua kali. DUA, KALI. GUE PERJELAS KALAU LO NGGAK DENGER!"


Aku menggeleng kepada Kak Vante untuk menyuruhnya melepaskan tangan Zelo. Ku pikir, itu cukup sakit gengamannya. Namun, Kak Vante malah mengabaikanku. Aku mencoba untuk menyuruhnya dengan kata-kata, tapi masih tak dihiraukan.


"Mau sampai kapan lo pegang tangan gue di depan PACAR LO?" Kak Vante masih tenang. Ah, cowok ini memang benar-benar susah diatur. Dia bahkan tak mau menurutiku. Katanya aku ini pacarnya. Tapi aku hanya diabaikan saja. Menyebalkan.


"Udah, Kak. Lepasin," suruhku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. "Apa yang dia bilang bener, kok. Zelo punya hak untuk nampar gue, bahkan lebih dari dua kali," tambahku.


"Nggak usah belain gue, deh!" protes Zelo.


Kak Vante masih mengabaikanku. Dia malah menatap Zelo. Sebenarnya dia mau apa sih? Tinggal melepaskan tangan saja rasanya sulit sekali.


"Bagi Nadisha, lo emang punya hak untuk nampar dia. Tapi bagi gue, lo nggak punya hak itu."


Zelo menggertakkan giginya.


"Atas dasar apa lo ngelarang gue?"


Kak Vante perlahan melepaskan tangan Zelo. Aku sungguh lega melihatnya. Lalu Kak Vante memegang tanganku. Dia menggenggamku erat. Aku terpaku. Mataku membulat lebar-lebar. Bagaimana dia bisa melakukan ini kepadaku di saat yang tidak tepat?


Apa dia ingin masalahku tak selesai-selesai?


"Gue pacarnya, kalau lo lupa."

__ADS_1


__ADS_2