
Hari ini STANDAR sangat ramai sekali. Aku juga tidak tahu kenapa dan ada apa. Tapi sungguh aku tak tahu apapun. Aku baru saja tiba di depan gerbang sekolah. Pagi ini memang benar-benar pagi yang melelahkan bagiku. Pasalnya tadi Kak Vante memang mengajakku berjogging seperti kemarin. Bukan hanya itu. Dia juga tak membiarkanku istirahat sejenak di sela-sela lariku. Katanya tidak baik. Alasannya saja memang. Padahal tidak ada argumen yang mengatakan jika hal itu tidak baik. Kak Vante memang suka mengada-ngada.
Selesai jogging, kami pun pulang. Aku pikir setelah itu Kak Vante akan langsung pulang ke rumahnya. Namun ternyata tidak. Dia malah menumpang mandi dan sarapan di rumahku. Dan lucunya..., tadi itu Kak Vante sudah beberapa kali berusaha mengajak Kak Savalas berbicara. Akan tetapi selalu dikacangi. Entah Kak Savalas yang sedang malas karena tidak mengenal lebih jauh akan Kak Vante atau memang sifat Kak Savalas yang aslinya begitu jika bertemu orang baru.
Melihat Kak Vante yang seakan mengemis itu membuatku terkikik geli. Sungguh. Kak Vante terlihat seperti anak kecil yang sedang berusaha untuk mengenal teman barunya.
"Yakin turun di sini?"
"Yakin!" balasku judes. Aku memang sedang malas untuk mengobrol dengannya apalagi menjawab pertanyaannya. Tanpa memperdulikan balasannya lagi, akupun bergegas lari.
Sudah beberapa hari aku tak bertemu dengan Zelo. Kemarin dia sudah berlomba. Aku harap nanti jika aku bertemu dengannya, dia akan mengabarkan kepadaku mengenai hal yang baik. Aku berharap semoga dia menang. Zelo itu orangnya keras kepala. Jika sekalinya dia tidak berhasil, dia sudah malas untuk mengulangnya lagi. Dia akan mengambil jalan baru lagi daripada harus menelusuri jalan yang pertama. Jadi, semoga saja dia menang supaya dia masih tetap di jalan yang sekarang.
Entahlah. Aku jadi sangat bersemangat untuk bertemu dengan Zelo. Tak lupa juga dengan Friska. Dua manusia itu membuatku rindu sekarang.
Ketika aku sedang senang-senangnya berlari, aku tak sengaja menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan kertas. Seketika kertas yang dibawanya itu pun jatuh berceceran di lantai. Bukan hanya kertasnya saja. Orang yang semula membawanya pun ikut jatuh. Begitupun denganku.
"An**r! Lo lagi, lo lagi!" umpat orang itu kepadaku.
"Eh, sori-sori, Kak," kataku dengan refleks sambil berusaha untuk bangun. Setelah itu aku mengulurkan tanganku kepadanya. "Sini, Kak, gue bantuin bangun," ucapku.
Bukannya membalas uluran tanganku, dia malah menepis keras tanganku. Matanya pun menatapku tajam. Dengan susah payah dia berusaha untuk bangun. Setelah itu dia membereskan roknya dengan cara mengibas-ngibaskan tangannya itu di rok bagian belakangnya.
"Nggak usah sok baik ke gue! Kalau aslinya udah cabe nggak usah pura-pura polos! Lo inget baik-baik, ya! Gue sama sekali nggak butuh bantuan dari lo! Ngerti?!" bentaknya kepadaku. Lagi, lagi, aku dipanggil begitu. Sebenarnya aku ingin sekali menampar mulutnya itu. Tapi aku tahu siapa yang sedang berada di depanku ini. Dia Kak Raden. Memiliki jabatan yang cukup tinggi di Seesaw. Dia juga popular. Jika aku membuat masalah dengannya, seketika hidupku akan hancur di sekolah ini. Lagipula aku juga baru kelas sepuluh. Tidak mungkin jika aku langsung dicap sebagai orang yang tidak baik karena omongan Kak Raden. Sungguh. Aku sedang menjauhi hal itu.
Tak ingin berkata lagi, aku hanya mengangguk yang mengartikan jika aku paham dengan maksud ucapan dari Kak Raden barusan.
"Bagus deh kalau paham," katanya.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.
"Ya, udah. Kalau begitu gue pergi dulu ya, Kak."
Kak Raden langsung menarik lenganku dengan keras. Sedikit sakit rasanya. Perilaku Kak Raden sungguh kasar. Tidak bisakah dia memperlakukanku sedikit halus dari sebelumnya?
"Jangan pergi dulu, cabe! Ambilin kertas-kertas gue yang berceceran gara-gara lo! Tanggung jawab kenapa, sih?!"
Sabar, Nadisha, sabar. Orang sabar banyak yang sayang. Kak Raden memang begitu orangnya kalau ngomong. Akupun mengembuskan napasku pelan, lantas memandangi Kak Raden. "Kak Raden yang kenapa. Tadi bilangnya nggak butuh bantuan dari gue. Kenapa sekarang nyuruh bantuin?" tanyaku, memberanikan diri. Di sisi lain aku sedikit jengkel. Masih saja dia memanggilku cabe. Memang tidak ada nama panggilan yang lebih bagus dari itu apa?
Kak Raden melepaskan lengan tanganku dari genggamannya. "Siapa yang minta bantuan, sih? Gue cuma nyuruh lo tanggung jawab doang. Jangan kepedean, deh, jadi orang!"
Salah lagi.
__ADS_1
"Ya, terus maunya Kak Raden apa?"
"Masa lo nggak tahu, sih? Lo telmi apa emang tuli? Bikin gue naik darah aja dari tadi." Kak Raden berdecak pinggang. "Woiii! Jangan diem aja. Itu kertasnya kumpulin semua, ****!" perintahnya sekaligus memakiku.
"Iya, Kak," jawabku pasrah.
Akupun berjongkok dan segera mengumpulkan semua kertas yang berceceran itu. Sementara Kak Raden hanya diam saja sambil mengawasiku. Menyebalkan memang.
"Nggak usah diambilin, Dek," ujar seseorang lagi. Akupun tak sempat mengambil kertas yang ada di depanku. Aku refleks mendongakkan kepalaku.
Kak Raden mendekati cewek yang baru saja datang dan menyuruhku untuk tidak mengambil kertas yang berceceran. "Maksud lo apa, sih, Grid? Bisa nggak, jangan ikut campur urusan orang?" tutur Kak Raden dengan ketus sambil mendorong bahu cewek yang disebutnya dengan 'Grid' itu.
"Kalau nggak mau diurusin jaga kelakuannya," balas cewek itu santai. Seolah sedang tidak ada apa-apa. Aku pun berdiri di samping Kak Raden. Aku tidak tahu harus melakukan apapun. Aku cukup diam dan melihatnya saja.
Kak Raden terkekeh.
"Emang lo siapanya gue berani nyuruh-nyuruh?" tanya Kak Raden, matanya seolah menantang cewek di depannya itu untuk beradu mulut. Tatapan keduanya membuatku miris melihatnya. Keduanya memiliki tatapan yang sangat tajam.
"Memang kamu siapanya dia berani nyuruh-nyuruh?" cewek di depan Kak Raden itu menunjukku.
Aku terkejut. Ternyata dia membelaku.
"Peringatan terakhir, Rad. Kalau kamu masih kayak gini, saya nggak bakal segan-segan buat ngeluarin kamu dari Seesaw." Kak Inggrid membantuku berdiri. "Bukan cuma itu. Dengan berkedip aja kamu bisa saya keluarin dari STANDAR," lanjutnya.
Bukannya merasa bersalah, Kak Raden malah bertepuk tangan. "Akhirnya keluar lagi ya andalannya. Selain ngurusin orang lain, lo juga pinter ngancem. Hebat banget, ya, si Inggrid Latrisia ini."
"Kak Raden, ini...," aku bingung harus berkata apa.
"Apa lo?! Seneng kan ada yang belain lagi?! Dasar muka banyak memang."
Selepas mengatakan itu Kak Raden langsung pergi begitu saja tanpa mengumpulkan kertasnya yang berceceran. Sepertinya dia sudah sangat marah. Ah, ya sudahlah. Lagipula yang butuh kertas ini kan dia, bukan aku. Sejujurnya aku ingin sekali mengumpulkannya lalu memberikan kepadanya. Tapi sayang. Aku sendiri masih kesal dengannya. Andai aku tidak dipanggil cabe, mungkin aku akan berpikir ulang lagi untuk membantunya.
"Kamu nggak diapa-apain, kan?" tanya Kak Inggrid.
Aku baru tahu, ternyata dia memang aslinya baik. Benar apa yang pernah Friska ceritakan kepadaku. Selain baik, dilihat dari dekatpun Kak Inggrid memang sangat cantik. Aku saja yang perempuan terpesona dengannya. Apalagi yang kaum lelaki.
"Nggak kok, Kak."
"Bagus, deh. Nama kamu siapa?"
"Nadisha, Kak."
__ADS_1
"Namanya cantik, kayak orangnya."
Aku hanya tersenyum. Sementara Kak Inggrid juga membalas senyumanku itu. "Nadisha, kalau diapa-apain sama Raden bilang ke saya aja, ya. Dia emang begitu orangnya. Sebisa mungkin kamu jangan sampai ketemu sama dia lagi."
"Eh, i---iya Kak."
Tiba-tiba ada yang menghampiri kami dari belakang.
"Kamu ngapain di sini? Aku nyariin kamu dari tadi," ucap Kak Nehan kepada Kak Inggrid dengan senyum yang membahana. Sungguh, aku merasa ada yang sesak di ujung dadaku ketika mendengar kalimat itu terucap di mulut Kak Nehan. Dia memakai 'aku-kamu' dengan Kak Inggrid. Apa mereka berdua memang balikan?
Lalu aku harus bagaimana?
Mamaaaa!!
Anakmu ini patah hati sekarang!
Mamaaaa! Nadisha ingin menangis!
Di ujung sesakku, Kak Inggrid malah memegang tangan Kak Nehan. Membuatku semakin memanas saja. "Mau ke tempat yang biasanya, ya?" Kak Nehan mengangguk. "Ya, udah. Kamu duluan aja. dua menit lagi aku nyusul."
"Oke, jangan lama-lama."
"Iya."
Selepas itu, Kak Nehan pergi tanpa menyapaku sama sekali.
Rasanya sungguh sakit.
Tadi sudah sakit, sekarang ditambah satu tusukan lagi.
Memang benar-benar parah!
"Nadisha, kamu denger rumor minggu lalu nggak?" tanya Kak Inggrid. Akupun langsung berpikir seketika. Entah mengapa, yang tertangkap di otakku malah rumor mengenai Kak Inggrid dan Kak Nehan yang katanya balikan. "Rumor yang tentang Kak Inggrid sama Kak Nehan, ya?"
Kak Inggrid tertawa kecil.
"Lucu kan, ya?"
Eh, apa yang lucu? Aku sama sekali tidak paham.
"Padahal kami nggak pernah putus dari dulu."
__ADS_1