
Ruangan bercat putih ini terlihat sangat tenang dan nyaman. Tidak ada suara berisik yang muncul. Berbeda sekali dengan ruang kelas siswa-siswinya yang jauh sekali dari kata tenang. Bahkan jika jam pelajaran dimulai pun masih sering terdengar kegaduhan dari beberapa kelas yang nyaringnya sampai terdengar di ruang guru. Ketika waktu istirahat seperti ini kayaknya hanya angin belaka yang berlalu lalang di sini. Tidak ada orang yang banyak berlalu lalang.
Hanya ada aku dan beberapa guru lainnya yang sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Aku masuk ke sini membawa setumpuk buku paket Bahasa Indonesia. Karena tidak ada yang mau mengembalikan buku ini kepada Bu Ida, akhirnya aku sendiri yang mengembalikannya. Bukan karena takut dimarahi Bu Ida. Akan tetapi aku tidak mau saja mendapat hukuman di siang hari yang terik.
Sesampainya di meja Bu Ida, aku meletakkan setumpuk buku itu di depan Bu Ida. Beliau tersenyum kepadaku tanpa banyak berkata. Seperkian detik aku menghitung kembali jumlah buku yang ku bawa. Ini kebiasaan. Aku takut salah menghitung. Setelah selesai aku langsung pamit dengan Bu Ida.
"Nadisha," panggil Bu Ida ketika aku hendak keluar dari ruang guru. Kebetulan Friska sedang ada urusan lain.
Aku membalikkan badan. "Iya, Bu. Ada apa?" tanyaku.
"Bisa tolong bantu Ibu, nggak?"
"Bantu apa, Bu?"
"Tolong fotocopy-kan lembaran soal ini jadi seratus," kata Bu Ida sambil menyerahkan lembaran soal itu kepadaku.
Kemungkinan lembaran ini akan digunakan untuk ulangan dadakan seperti biasanya. Tapi di STANDAR sendiri terdapat mesin fotocopy di koperasi dan di ruang guru sendiri. Masa iya aku yang harus fotocopy itu ke koperasi? Kan di ruang guru juga sudah ada.
"Di ruang guru apa nggak bisa, Bu?"
"Mesinnya sedang diservis. Yang di koperasi juga iya."
"Terus, saya harus fotocopy di mana?"
"Di depan STANDAR aja. Pokoknya cari aja yang tulisannya toko alat tulis. Ini uangnya. Kalau lebih ambil aja nggak apa-apa." Bu Ida menyodorkan uang dua ratus ribu kepadaku.
"Oh iya, Bu, makasih. Kalau begitu saya permisi dulu. Mari, Bu."
Aku pamit dengan Bu Ida untuk pergi fotocopy. Niatnya ingin sekali aku mengajak Friska. Tapi nanti akan lama lagi jika aku harus mencarinya dulu. Apalagi tadi dia lupa membawa ponsel. Aku jadi tidak bisa menghubunginya untuk menyuruh dia menemaniku. Ingin pinjam ponsel aku juga tidak tahu harus pinjam pada siapa.
Dengan membawa selembar kertas dari Bu Ida itu, akupun berjalan menuju ke gerbang. Sekali-sekali sendirian juga tidak masalah. Kemarin aku sudah bilang ke Friska jika aku akan belajar mandiri. Ya, sudah. Sekarang aku harus melakukannya sendiri meskipun rasanya sedikit aneh berjalan sendiri tanpa ada yang mengajak berbicara.
Setibanya di gerbang, aku melambaikan tanganku pada Pak Satpam yang sedang duduk di tongkrongan depan. "Pak, bukain dong!" ujarku nyaring.
__ADS_1
"Mau ke mana atuh, Neng? Kan masih jam sekolah," kata Pak Satpam yang menghampiriku. Beliau yang berasal dari luar sekolah langsung membuka gerbangnya dari luar. Kemudian masuk ke dalam dan kembali menutup gerbangnya. Padahal kan aku sudah bilang jika aku hendak keluar. Tapi malah ditutup lagi.
"Lho, kok ditutup, Pak? Kan saya mau izin keluar," ucapku.
"Masih jam sekolah. Jangan kebiasaan bolos atuh. Sana balik belajar," suruh Pak Satpam.
Aku menghela napas. "Nggak mau bolos, Pak."
"Terus mau ngapain?"
"Mau ke toko depan buat fotocopy. Sebentar doang kok, Pak."
"Di koperasi kan ada mesinnya, Neng."
Ya, ampun! Ini Pak Satpam posesif sekali padaku. Tidak percaya. Padahal kan aku jujur tidak lagi berbohong. Ini gara-gara banyak anak yang mau bolos. Jadinya Pak Satpam was-was kalau ada siswa-siswi STANDAR yang dekat-dekat ke gerbang. Yang bikin ulah siapa, yang kena juga siapa. Kadang tidak seiras.
"Mesinnya lagi pada diservis, Bapak. Ini Bu Ida yang nyuruh. Kalau Bapak nggak bolehin saya keluar, Bapak ajalah yang fotocopy-in. Saya minta tolong kalau begitu. Nih," putusku sambil menyodorkan selembar kertas soal dan uang yang diberikan Bu Ida kepadaku.
"Loh, kok kamu jadi nyuruh Bapak?"
"Kan Bapak nggak bolehin saya keluar. Gimana sih, Pak? Masa saya yang salah."
"Ah, baperan. Sana," ujar Pak Satpam sambil membuka gerbang. "Jangan lama-lama," peringatnya.
"Iya, iya. Makasih, Pak."
Akhirnya tetap aku juga yang harus mengerjakannya. Pak Satpam ini memang menjengkelkan. Bilang aku baperan pula. Tadi tidak sekalian bilang "Ya, udah. Biar Bapak aja yang copy-in. Neng ke kantin aja jajan. Bentar lagi jam istirahat habis" tentu aku akan sangat senang sekali mendengarnya. Sayangnya itu hanya harapan.
Aku langsung berjalan keluar setelah gerbangnya dibuka oleh Pak Satpam. Melangkah dengan pelan sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Banyak sekali kendaraan yang lewat di depanku. Lalu lalang tanpa henti. Aku jadi bingung gimana caranya untuk menyebrang jika jalanan saja seramai ini.
Langkahku berhenti tepat di pinggir jalan. Melihat sekitar lagi. Menunggu keadaan aman. Saat ku pikir sudah aman dan hendak melangkah lagi, aku kembali terdiam. Tak jadi melangkah karena aku terkejut. Ada sebuah genggaman di telapak tanganku tiba-tiba. Dengan penasaran, akupun mendongak.
Seseorang sedang tersenyum kepadaku sambari mengangkat genggaman tangannya padaku ke depan mataku. "Terlanjur ke pegang," ujar Kak Lesham. Lantas menurunkan tangannya kembali. "Udah nyaman pula," lanjutnya.
__ADS_1
Aku teringat dengan keputusanku. Lagi, aku berusaha melepaskan genggaman Kak Lesham.
"Lepas, Kak, ini sekolah."
"Ini di luar sekolah, Nadisha."
"Tapi nggak mengharuskan untuk pegangan tangan, kan?" tanyaku. Lebih tepatnya mengkode Kak Lesham agar melepaskan genggamannya itu. Lagi pula jika aku memaksanya untuk melepaskan genggamannya juga tidak dilakukan. Tidak dilepaskan begitu saja dengan mudah. Yang ada malah semakin dipererat olehnya.
Kak Lesham tertawa kecil. "Kalau untuk bantuin nyebrang jalan nggak masalah juga, kan?" Dia balik bertanya. Pandai sekali membuatku terdiam bingung.
"Aduh, anak zaman sekarang. Apa-apa gandengan. Dipikir dunia cuma milik berdua apa? Inget, ini sekolah. Bukan tempat pacaran." Pak Satpam menyindirku dengan Kak Lesham. "Kalau mau nyebrang, ya, nyebrang aja. Nggak usah nyari kesempatan dalam penyebrangan," tambah Pak Satpam.
"Gue bisa sendiri, Kak. Tolong lepasin," pintaku.
Walaupun sebenarnya aku tidak begitu yakin untuk menyebrang sendirian. Tapi bagaimana lagi? Ini salah satu langkah untuk menjauh dari Kak Lesham. Lagi pula di dunia ini ada banyak sekali orang. Namun, kenapa selalu Kak Lesham yang hadir saat aku membutuhkan bantuan?
"Lo kenapa?" tanyanya.
"Nggak kenapa-kenapa."
Kak Lesham tersenyum. "Lo berubah. Lo sedikit menjauh dari gue," ungkapnya.
Aku tidak terkejut dengan penuturannya. Kak Lesham selalu peka terhadap sesuatu. Tidak aneh jika dia menyadari kelakuanku yang satu ini.
"Mau sampai kapan begini?"
Aku diam.
Sampai akhirnya Kak Lesham merangkulku sambil menarikku untuk menyebrang jalan. Tidak lagi menolak, aku justru menurut saja. Aku sungguh tidak fokus saat menyebrangi jalan karena ucapannya tadi. Aku masih menatap lurus ke depan yang aku sendiri juga tidak sadar sedang melihat apa.
Setibanya di depan toko alat tulis yang berada tepat di depan STANDAR, dia baru melepaskan genggamannya. Memposisikan tubuhku di depannya. Ketika aku mendongak manik mataku bertemu dengan manik matanya. Jantungku kembali lari maraton rasanya.
Kak Lesham memegang bahuku. "Masih mau menjauh?" tanyanya lagi membuatku ragu.
__ADS_1