Bena

Bena
BAB 5B


__ADS_3

Masa-masa SMA, banyak yang bilang kalau masa ini adalah masanya untuk mengenal apa itu cinta. Katanya juga, masa-masa ini adalah masanya untuk bersenang-senang. Semuanya terdengar menyenangkan di telingaku. Namun, kenyataannya mataku tak selalu menangkap hal-hal yang menyenangkan. Mungkin memang begitu. Tidak semua manusia memiliki alur takdir yang sama. Karena itu, aku tak heran bila aku tidak masuk dalam daftar yang menyenangkan.


Waktu kecil aku selalu membayangkan hal-hal yang besar. Yang sepatutnya tidak perlu untuk aku bayangkan. Masa anak-anak adalah masanya untuk bermain-main. Tidak perlu memikirkan masa depan. Tidak perlu bertanya bagaimana nanti rasanya kalau sudah jadi besar. Oke, mungkin semua itu terlalu jauh dan sangat ketinggian bila dipikirkan pada saat masih kecil.


Jarum jam ku rasa sama sekali tidak bergerak. Aku rasanya jenuh sekali. Tadi katanya lima menit. Iya, benar memang lima menit. Tapi jarumnya rasaku tak bergerak-gerak. Aku bingung harus bagaimana sekarang. Keadaan kantin masih sepi karena belum waktunya untuk istirahat. Hanya ada aku dan Kak Jin di sini. Kami duduk berhadapan. Setelah sampai di kantin, dia sama sekali tidak mengajakku berbicara.


Apa aku harus memulainya dahulu?


"Ka---" belum juga aku selesai untuk memanggilnya, Kak Jin sudah lebih dulu membuka mulutnya. "Lo mau makan apa?" tanyanya.


"Eng, gue---eh terserah aja."


Kak Jin mengangguk. "Oke, tadi lo mau ngomong apa?"


Aku mengangkat satu alisku ke atas. Aku pikir dia sudah tidak mengingat itu lagi. Tapi ternyata....


"Nggak usah gugup," tambahnya.


Akupun langsung menyengir kuda. Betapa malunya aku sekarang. "Nggak kok, Kak. Gue nggak mau ngomong apa-apa."


"Lo mau minum apa?"


"Ngikut Kakak aja."


"Gue nggak minum es."


"Ya, udah nggak apa-apa."


Setelah itu Kak Jin langsung pergi untuk memesan. Aku ini memang penakut sekali. Semua saja aku tidak berani untuk menjawab sesuai dengan keinginannku. Malah aku menyamakan dengan Kak Jin. Iya, jika aku orangnya menyukai apapun. Aku ini orangnya susah sekali, ada beberapa makanan yang tidak aku sukai. Begitupun dengan minuman.


"Baru jadi adik kelas udah belagu, ya! Berani-beraninya lo deketin Jin. Emang lo siapa, hah?! Ngaca, dong!"


Aku tersentak. Tiba-tiba ada seseorang yang mendatangiku. Aku ingat betul siapa dia. Dia adalah orang yang mengadukanku dan Zelo ke Kak Jin pada waktu acara MPLS. Dan kalau tidak salah namanya..., Raden.


"Kalau diajak ngomong itu nyahut, dong! Bisu apa gimana, sih?! Heran." Dia menatapku tajam seolah ingin menerkamku sekarang juga. Aku harus bagaimana ini?


"Cover-nya aja polos, tapi kelakuannya cabe." Cewek ini kalau ngomong memang tidak pernah dijaga, ya? Aku heran. Bukannya dia itu salah satu anak OSIS. Tapi kenapa omongannya itu asal-asalan. Aku yang awalnya takut langsung geram sendiri. Tentu saja aku marah. Aku yang tidak tahu apa-apa langsung dibilang cabe.

__ADS_1


"Lo apain dia?"


Kak Jin datang menghampiri aku dan orang yang kupikir namanya itu memang Raden. "Gue nggak ngapa-ngapain dia kok. Lo jangan salah paham dulu, Jin. Tujuan gue ke sini cuma mau ngomong sama lo," ucapnya.


"Ngomong aja."


"Nggak bisa, Jin. Gue cuma mau ngomong berdua aja sama lo."


"Anggap aja Nadisha nggak ada."


What?!


Apa aku memang seperti itu, ya? Menyedihkan sekali.


"Jin, gue cuma pengen berdua aja sa---"


DASAR CABE!


Aku rasa yang cabe itu bukan aku melainkan dia.


"Kalau mau ngomong ya udah tinggal ngomong."


"Ya, udah, oke. Jin, gue pengen balikan sama lo," ucap Kak Raden yang sukses membuatku tersedak. Lho, sejak kapan mereka berdua pacaran?


Kak Jin yang semula berdiri langsung duduk di sampingku. Dia menaruh jus jambu yang telah ia bawa ke depanku. Aku tidak mengerti apa-apa. Bahkan aku juga tidak tahu apa-apa. Semua yang tidak ku tahu akan ku tanyakan pada Zelo nanti. Bagaimana pun juga aku harus tahu apa-apa agar aku tidak bingung seperti ini.


"Gue nggak," balas Kak Jin ketus.


Perbedaannya sungguh mencolok. Sikap Kak Jin kepadaku dan ke Kak Raden sangat berbanding terbalik.


"Jin, gue minta satu kesempatan lagi sama lo. Please," Kak Raden ikut duduk di depanku. Aku tidak peduli. Aku segera menyibukkan diri dengan menyeruput jus jambu yang telah Kak Jin berikan padaku. Rasanya aku seperti obat nyamuk sekarang. Ku lihat Kak Jin sangat malas untuk mengurusi Kak Raden. "Kesempatan sold out," tegas Kak Jin.


"Lo udah nggak sayang sama gue? Lo kenapa, sih? Apa karena ini cabe lo jadi nolak gue? Emang apa, sih, kelebihannya? Populer juga nggak. Aura kecantikannya juga biasa." Perkataannya sungguh membuatku geram. Seandainya tidak ada Kak Jin di sampingku, mungkin aku akan langsung menjambak rambutnya yang indah itu agar berantakan. Kalau perlu aku akan merobek seragamnya sekalian agar terlihat seperti cabe beneran. Kalau berurusan dengan sesame cewek, aku tidak pernah takut. Mau itu sederajat maupun kakak kelas, aku tidak peduli. Tapi kalau dengan cowok, aku selalu kalah.


Diam-diam aku menggepalkan tanganku.


Kak Jin menggenggam tanganku dengan erat sambil menunjukannya kepada Kak Raden. Aku yang semula menunduk langsung mendongak seketika karena kelakuan Kak Jin yang mendadak itu. "Kekurangan lo apa?" tanyaku Kak Jin menghadap ke arah lain.

__ADS_1


Kak Raden menunjuk dirinya sendiri dengan terbata-bata. "G-gue, eng---gue, emang kekurangan gue apa yang membuat lo lebih milih dia daripada gue?" tanyanya.


"Nadisha lebih apa adanya, gue suka itu."


_____


Mungkin, menutup mata itu lebih baik daripada harus membuka mata. Setelah masalah dengan Kak Raden selesai, kini giliran masalah yang paling besar mulai datang kepadaku. Waktu istirahat yang aku nantikan datang juga. Aku awalnya berharap ada Zelo ataupun Friska yang datang ke kantin agar aku bisa meminta tolong. Lagipula mereka kan sedang jam kosong. Ada kemungkinan jika mereka ke kantin duluan. Itulah yang ada di pikiranku. Tapi kenyataannya, sudah mulai banyak siswa-siswi yang berdatangan ke kantin dan batang hidung Zelo maupun Friska sama sekali belum terlihat.


Sebenarnya mereka di mana, sih?


Aku mengigit bibirku pelan sambil melihat seluruh keadaan di sekitarku. Sementara Kak Jin masih menyelesaikan makannnya. Sungguh, sekarang aku berada dalam keadaan canggung.


Tanpa ku duga, tiba-tiba ada Kak Lesham dan Kak Vante yang melihatku sedang duduk bersama Kak Jin. Keduanya tersenyum kepadaku dan langsung menghampiriku. Ya, Tuhan! Aku harus bagaimana sekarang?


"Eh, Nadisha. Lama nggak ketemu, ya?" Kak Lesham langsung menyapaku. Aduh, aku semakin bingung. Kak Jin yang semula fokus pada makanannya seketika menoleh dan membalas senyuman Kak Lesham maupun Kak Vante. Aku sama sekali tak berani untuk menatap balik tatapan Kak Lesham kepadaku.


Kak Vante tiba-tiba duduk di depanku sambil memiringkan kepalanya, dia menyeriangiku. "Hai pacar," ucapnya yang sukses membuatku terkejut setengah mati.


"Apa lo bilang, Van? Pacar? Nggak salah lo?" Kak Lesham memberondong Kak Vante dengan refleks. Tentu saja bukan hanya Kak Lesham saja. Akupun juga merasa seperti itu dan mungkin jika aku memiliki keberanian, aku mungkin juga akan melakukan itu. "Ya, nggaklah. Nadisha itu beneran pacar gue. Kemarin aja gue nembak dia di depan nyokapnya. Dan..., disetujuin lah pastinya," kata Kak Vante berbangga diri.


Orang ini memang harus aku musnahkan.


"Beneran, Nad?"


Kak Lesham masih tampak tak percaya. Sedangkan Kak Jin. Jangan tanya reaksinya seperti apa. Karena kelihatannya dia sama sekali tidak peduli. Dia masih melanjutkan proses makannya tanpa terganggu sedikitpun. Lagipula kenapa aku harus memikirkan reaksinya Kak Jin. Itu bukanlah hal yang penting bagiku.


Aku menggeleng.


"Nggak Kak gu---" Benar-benar menyebalkan! Kak Vante menyela ucapanku begitu saja. "Lo kalau masih nggak percaya, coba aja tanya sama nyokapnya. Jangan ke Nadisha-nya. Lo nggak lihat kalau pacar gue ini pemalu orangnya?"


Kak Lesham malah terkekeh.


"Ya, udah, sih. Nggak usah ngegas juga kali. Oh, iya. Gue duduk di mana, nih? Ya masa gue berdiri sampai lo-lo pada nikah."


Kak Vante menepuk meja di sebelahnya sambil mengedipkan salah satu matanya kepada Kak Lesham. "Ya nggak apa-apa kalau lo mau nunggu gue nikah sama Nadisha," balasnya sambil tertawa kecil. Dengan seketika Kak Lesham langsung menoyor kening Kak Vante. "Ogah bangeeeetttt! Dikira gue semenyedihkan itu?"


Ah, rasanya aku rindu dengan pesan-pesan yang Kak Lesham sering kirimkan kepadaku. Beberapa hari ini dia sudah tidak lagi mengirimiku pesan. Mungkin, dia sedang tidak memiliki waktu.

__ADS_1


"Lo ngapain di sini sama pacar gue, Bang?" tanya Kak Vante kepada Kak Jin. Yang ditanyapun menoleh seketika. "Makan, sambil jagain pacar orang," jawabnya luar biasa.


__ADS_2