
Motor Kak Jin memasuki area parkir. Kami berdua sudah tiba di pantai setelah hampir satu jam perjalanan. Lumayan jauh. Karena memang tempat tinggal kami agak jauh dari daerah pantai. Tapi meskipun jauh dan lama, aku menikmati perjalanannya. Panas matahari tak begitu terik. Sedikit ada gumpalan awan mendung yang menutupi sinar matahari. Namun, keadaan itu sungguh mengenakkan. Adem. Aku jadi semakin nyaman.
"Haus nggak?" tanya Kak Jin. Dia melepas helm yang menempel di kepalaku dengan lembut. Perhatian sekali bukan, sih? Kalau menurut aku sih iya.
"Sedikit, Kak," jawabku.
"Ya udah. Beli minum dulu, yuk."
"Boleh."
Dia menggenggam tanganku, membawanya masuk ke dalam. Kak Jin menyuruhku duduk di kursi dekat pohon kelapa, lalu dia izin untuk membeli minuman. Aku hanya mengiakannya saja dan berpesan agar dia tidak lama. Masalahnya aku sedikit takut jika ditinggal sendirian. Apalagi di tempat yang ramai seperti ini. Pikiranku pasti melayang kemana-mana.
Sesuai permintaanku, Kak Jin sudah kembali lebih awal dari dugaan. Mungkin dia juga tahu kalau aku takut sendirian. Dia menyodorkan sebotol air mineral kepadaku. "Nih, minum," katanya. Aku mengambil air mineral itu. "Makasih, Kak." Lalu dia tersenyum, duduk di sampingku.
"Dek."
"Iya, kenapa?"
"Mau nanya nih. Jawabnya yang jujur ya," ucap Kak Jin.
"Mau nanya apa emang?"
"Kamu punya rasanya sama siapa sih? Aku? Lesham? Vante? Apa yang lainnya? Jujur."
Ya bagaimana? Aku sendiri juga bingung. Aku sukanya sama siapa. Tapi jika dipikir-pikir. Akan lebih baik kalau untuk saat ini aku memilih Kak Jin. Memang belum memiliki rasa penuh untuk dia. Tetapi kan rasa bisa tumbuh seiringnya waktu. Daripada aku memilih Kak Lesham? Nanti pasti menyakiti hati Ovdiar sepupunya Kak Tavis. Lagipula aku sudah terlanjur berjanji kan? Tidak bisa dilanggar. Kak Vante? Nanti menyakiti Friska.
"Siapapun itu, tapi aku lagi berusaha untuk punya rasa sama Kakak. Itupun kalau Kak Jin serius," ujarku. Aku bingung juga harus menjawab bagaimana. Tapi ya jika Kak Jin serius kenapa tidak? Selayaknya memang lebih baik memilih orang yang serius sama kita, meskipun kita belum ada rasa. Daripada kita serius dengan yang lain, tapi yang lain malah main-main. Masalah rasa, kalau jodoh pasti nanti muncul sendiri.
"Aku nggak pernah main-main kalo soal cewek, Dek. Jangan takut." Kak Jin mengukir senyum.
Hatiku setuju dengan ucapannya. Aku teringat dulu saat Kak Raden meminta balikan dengan Kak Jin. Dengan tegas juga Kak Jin menolak dan lebih memilih aku. Jadi, jika dia tidak pernah serius dengan perempuan. Mungkin dia akan menerima ajakan Kak Raden dan masih tetap mendekatiku. Namun nyatanya itu tak terjadi. Kak Jin selalu tegas dan perhatian, dia menghargai semua keputusanku. Saat aku ingin dia pergi, dia juga pergi. Lalu? Apa yang kurang? Aku ini terlalu memikirkan Kak Vante dan Friska hingga lupa akan kenyataan yang ada.
"Mau dibuat move on dari Vante, nggak? Aneh nggak sih pake aku-kamu begini?" Kak Jin terkekeh. Mungkin dia belum terbiasa?
"Nggak aneh kok, Kak." Aku tersenyum. "Eh, tapi kok Kak Jin tau kalo aku ada rasanya sama Kak Vante? Kan aku belum bilang tadi," cetusku.
Dia kembali tertawa. "Keliatan, sih."
"Tapi dulu aku nggak ada rasa sama dia, Kak. Cuma memang perasaan itu datangnya nggak adil."
"Nggak adil gimana?" tanyanya.
__ADS_1
"Ya gitu. Pas masih jadi milik kita, kitanya nggak ada rasa. Pas jadi milik orang baru ada. Kesel nggak, sih?"
"Iya emang gitu. Tapi kamu juga harus inget, setiap merasa kehilangan, Tuhan nggak akan lupa ngasih kebahagiaan."
"Iya. Makasih, ya, Kak."
"Makasih untuk?"
"Kehadirannya dalam hidup aku."
Kak Jin hanya tersenyum.
Kemudian dia mengajakku ke pinggir pantai yang ternyata sudah ada Kak Vante dan Friska. Aku dibelikan dress dan mereka mengajakku ke pantai. Lucu sekali. Untungnya bukan dress ketat yang ku pakai.
Kami hanya menikmati pantai saja tanpa bermain air. Bukan karena malas atau bagaimana, tetapi cuacanya sedikit tidak baik. Mendungnya semakin gelap. Alhasil Kak Jin menyarankan untuk pergi, pulang dari pantai dan berpindah tempat. Karena Kak Vante---yang biasanya membawa motor---kini membawa mobil. Akhirnya kami berempat naik mobil Kak Vante, jaga-jaga jika nanti hujan. Untuk urusan motor Kak Jin, katanya gampang. Bisa diambil temannya.
Aku dan Kak Jin duduk di depan karena yang mengemudikan mobilnya adalah Kak Jin. Sementara Kak Vante dan Friska duduk di belakang. Aku dapat melihat Friska menyenderkan kepalanya di bahu Kak Vante. Mataku memanas melihat aksi itu di kaca depan. Ya ampun. Aku belum sepenuhnya ikhlas.
Kak Vante tak sengaja menatap mataku lewat kaca depan. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tiba-tiba tangan Kak Jin menarik lenganku, turun hingga menggenggam telapak tanganku. Aku menoleh padanya yang masih fokus menyetir. Apa dia tahu kalau aku memperhatikan Friska dan Kak Vante tadi?
Kukira suasananya tidak akan secanggung ini. Biasanya Kak Vante hobi sekali bertingkah tidak jelas hingga membuat telingaku sakit. Tapi kali ini dia diam. Diam banget. Sampai tidak berbicara sepatah katapun. Friska juga. Dia hanya berbicara dengan Kak Vante meskipun hanya dibalas dengan anggukan, kata hem, dan iya saja.
Kak Vante bersuara. Tiba-tiba dan hanya sesingkat itu. "Mau makan apa?" tanya Kak Jin.
"Cabe juga gapapa."
Iya gapapa, Kak. Mumpung lagi panas suasananya. Dalam hati aku menyetujuinya.
"Nanti perut kamu sakit, by. Aneh-aneh aja, deh." Friska menampol lengan Kak Vante.
"Bakso aja, ya. Pada mau nggak?" tawar Kak Jin.
"Boleh, Kak," jawab Friska. "Gimana by?"
"Iya, serah."
Kak Jin melirikku. "Kamu gimana, Dek?"
"Iya."
Tak lama hujan pun turun. Mobil yang dibawa Kak Jin berhenti di depan penjual bakso. Karena hujan, Kak Jin menyuruhku untuk tetap di dalam mobil dulu. Sedangkan Friska dan Kak Vante sudah lebih dulu turun dengan basah-basahan. Kak Jin menghampiriku sambil membawa payung hasil pinjamannya dari si penjual. Barulah aku diperbolehkan keluar dan menyusul Kak Vante.
__ADS_1
"Makasih, Bu, payungnya," ujar Kak Jin.
Ibu penjual bakso tersenyum ramah. "Iya, Mas. Sama-sama. Ayo duduk, saya buatin teh hangat."
"Iya, Bu."
Kak Jin menyuruhku duduk bersama Friska.
"Nanti kalian LDR-an dong kalau Kak Jin balik ke Jogja," celutuk Friska sambil mengaduk teh hangatnya yang sudah datang.
"Nggak apa. Kan Nadisha juga mau nyusul. Iya, kan Dek?" Aku yang ditanya langsung salah tingkah. "Eh, iya, Bismillah ke terima."
"Semoga enggak, amin," balas Kak Vante cepat.
Seketika kami bertiga diam. Tumben semangat menjawab?
"Lah kenapa gitu?" tanyaku.
"Otak pas-pasan mana bisa." Dia bersuara lagi. "UGM terlalu perfect untuk kentang kayak lo," katanya lebih nyelekit.
"Heh, nggak boleh gitu by!" sarkas Friska.
Kak Vante menatapku. "Omongan gue kenyataan kok. Ngapa harus sewot, sih."
Makin kesini omongannya makin tak difilter. Makin nyakitin seperti Kak Syden. Apa selama jauh dariku dia berguru kepada Kak Syden? "Kalau sampe masuk harus traktiran. Deal?" Kak Jin menambahkan. Dia seperti yakin jika aku bisa masuk kesana.
"Oke. Kalo nggak masuk kalian harus putus. Berani nggak?" tantang Kak Vante.
Suasana semakin memanas.
"Astagfirullah, by. Nggak boleh gitu," larang Friska meskipun tak dipedulikan oleh Kak Vante.
Kak Vante menyodorkan tangannya pada Kak Jin yang dengan cepat dibalas oleh Kak Jin. "Deal," terima Kak Jin. "Gue yakin Nadisha bisa."
"Peluangnya cuma 0.001%."
Aku hanya bisa diam.
_______
15 komen, up?
__ADS_1